Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
113. Malam Bergairah?


__ADS_3

Laura tidak henti-hentinya menatap Adam sekarang. Jujur saja dia menaruh curiga pada lelaki ini, tetapi belum ada saat yang tepat untuk memulai pembicaraan. Adam masih berusaha untuk membersihkan lukanya sendiri.


"Bisa tolong oleskan salepnya?" Adam menatap Laura. "Ini perih sekali."


Laura yang baru saja duduk, tiba-tiba saja tertawa. "Aku jadi meragukan cerita Pak Adam, tentang memukuli teman sampai sekarat dan Pak Adam harus masuk penjara karena itu."


"Aku serius dengan ceritanya." Adam menatap Laura. "Kalau bisa tanyakan itu sama ...." Dia berhenti ketika menyadari sesuatu, semua saksi mata yang melihat dirinya dijatuhi hukuman penjara, sudah tiada di dunia ini. Percuma juga meyakinkan Laura.


Melihat Adam yang kebingungan, Laura kembali tertawa. Dia bangun dari tempat duduknya, mengambil salep luka dan membukanya. Dia duduk di depan Adam.


"Aku melihat Adam bisa dikalahkan oleh Daffa dengan mudah tadi, kenapa tiba-tiba datang dan menyerang dia?" tanya Laura. Perlahan-lahan gadis itu mulai mengoleskan salep luka di sudut bibir Adam.


Pandangan mata Laura begitu dekat, sampai-sampai Adam bisa merasakan embusan napas membelai wajah tampannya.


"Seharusnya Pak Adam tanya dulu apa yang terjadi, bukan tiba-tiba datang dan memukulnya begitu." Laura menggerutu pelan.


Adam menyeringai. "Kamu menyalahkan aku?"


Laura diam sejenak. Dia berdecak kemudian. "Aku tidak peduli, mau Daffa sekarat atau tidak. Aku bahkan tidak peduli kalau dia mati di depanku tadi, tetapi aku peduli sama Pak Adam."


Adam terdiam.


"Ini adalah pemikiran yang bodoh ... tetapi, pemikiran seperti inilah yang terlintas di dalam kepalaku tadi." Laura menjeda kalimatnya, dia menghela napas panjang. "Kalau Daffa menuntut Pak Adam, Pak Adam akan dimasukkan ke penjara."


Adam manggut-manggut. "Lantas?"


"Dulu Pak Adam punya papa dan mama yang menyelamatkan Pak Adam dan menjamin Pak Adam dengan uangnya, tetapi sekarang kita punya siapa?" tanya Laura.


Mendengar kalimat itu, Adam mulai tersadar akan satu hal. Mereka memang ditakdirkan sejak dulu untuk bersama, hanya menunggu waktu untuk mempertemukan.


Laura kembali fokus mengoles luka Adam dengan hati-hati. "Aku tidak mau memohon padanya untuk membebaskan Pak Adam dengan mencabut tuntutan itu nanti, itu sebabnya aku melerai kalian tadi."

__ADS_1


"Intinya ... aku peduli sama Pak Adam." Laura menutup kalimatnya dengan senyuman tipis. Baru saja kekhawatirannya melayang di udara, kelegaan dia rasakan begitu saja.


Adam tiba-tiba menarik tangan Laura. Dia menghentikan aktivitas gadis itu.


Laura ikut diam dalam beberapa detik, tatapan mereka beradu dalam satu titik. "K--kenapa?" tanyanya. Dia sedikit gelagapan. Padahal, ini yang dibayangkannya sejak tadi sore.


"Kamu cantik sekali jika begini," ucap Adam tiba-tiba. "Tanpa ada omelan, tanpa ada rokok atau bir."


"Aku tidak merokok, sudah aku bilang." Laura melepaskan genggaman Adam. Ini bukan kali pertama dia menuduh Laura merokok. "Aku hanya mencobanya. Sekali saja," imbuh Laura.


Gadis itu hendak berpaling dari Adam, tetapi lelaki itu menarik tubuh Laura lagi. Sekarang jatuh di atas pangkuannya.


"Apa lagi sekarang?" tanya Laura, sedikit kesal. "Aku bilang aku tidak merokok! Agnes yang ...."


Kalimatnya tiba-tiba berhenti ketika Adam mencium pipinya. Laura terkejut dibuatnya.


"Apa itu tadi?" tanya Laura bergumam. Dia tersenyum tipis kemudian. "Pak Adam sudah mulai berani, ya?" kekehnya.


Adam menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Kamu tidak menyukainya?" tanya Adam sedikit berbasa-basi. "Aku kira kamu akan menyukai itu."


"Apanya?" Adam mencubit pipi Laura. Dia melepaskan pangkuannya. "Aku ingin minum teh." Adam beranjak dari kursi.


Laura manyun di tempatnya, dia mengira akan ada adegan lebih lanjut lagi. Sayangnya, punggung Anda menghilang setelah masuk ke dalam dapur.


"Aku ada di kamar kalau cari aku!" teriak Laura sembari masuk ke dalam kamarnya. Dia enggan untuk meladeni Adam jika itu hanya untuk menyiapkan satu cangkir teh. Laura bukan pembantu.


Gadis itu naik ke atas ranjang. Menggerutu pelan. "Dasar pria berprinsip!" gerutunya. "Sekali-kali melewati batas 'kan juga tidak apa-apa! Lagian kita sudah pernah menikah!"


"Laura?" Adam tiba-tiba muncul dari ambang pintu.


Laura langsung tersenyum sumringah. Sepertinya lelaki itu hanya menggodanya tadi, buktinya dia kembali lagi.

__ADS_1


"Gulanya habis?" tanya Adam melanjutkan.


Persetanan! Laura hampir mengumpat. Raut wajahnya kembali seperti semula, dia menggerutu di dalam hati.


"Cari saja di almari dapur. Aku menyimpannya di sana," jawab Laura dengan ketus. Dia fokus pada ponsel dalam genggamannya.


Adam tersenyum ringan. "Kenapa wajahmu dan nada bicaramu begitu? Kamu tidak senang aku di sini?" tanyanya.


"Tentu saja senang!" Namun, nada bicara Laura berbicara sebaliknya. Dia kesal. "Namun, tidak ada yang menahan Pak Adam di sini, Pak Adam bisa pulang kalau sudah selesai."


Ada bisa memahami kekesalan Laura. Jadi, dia menghampirinya. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan lembut. Adam duduk di ujung ranjang.


Lelaki itu mengusap puncak kepala Laura dengan lembut. "Ada yang kamu kesalkan dari aku?"


"Aku tidak menarik untuk Pak Adam lagi?" tanya Laura tiba-tiba. "Aku tidak mempesona?"


Adam tertawa mendengar kalimat itu. "Siapa yang bilang begitu?" kekehnya. Adam semakin lembut mengusap rambut Laura. "Kapan aku mengatakan hal seperti itu?"


"Berhenti untuk menggodaku!" Laura merengek. Dia berusaha menyingkir dari Adam. "Pak Adam pulang saja!" Laura mendadak kesal. Hanya dia yang bergairah malam ini.


Adam tertawa lagi.


"Aku serius!" Laura semakin tegas. "Pak Adam pulang saja!"


Adam berpindah tempat, dia semakin dekat dengan Laura. "Apa yang kamu inginkan malam ini?" tanyanya.


Laura menatapnya dalam diam. Pria yang bodoh! Jelas sekali Laura menginginkan dirinya.


Adam mendekatkan wajahnya. "Bersenang-senang?" tanyanya dengan lirih. "Katakan, aku akan mengabulkannya."


Laura perlahan-lahan tersenyum. "J--janji?"

__ADS_1


Adam manggut-manggut. "Janji."


Next.


__ADS_2