
"Adam dan kamu memang tidak ditakdirkan bersama, Laura."
"Jadi, kamu tolong jangan mengganggunya lagi."
"Adam sudah cukup menderita belakangan ini. Semuanya karena pernikahan kalian."
Laura meletakkan kembali gelas kaca dalam genggamannya. Dia mendesah kasar. "Sialan." Laura tidak bisa fokus sama sekali, dia terus menerus mencoba menghilangkan suara Wanda dari dalam kepalanya.
"Kenapa aku jadi resah gini?" gumam Laura. Dia memandang jendela di depannya. "Tidak masalah mau Pak Adam menikah dengan Nurwa atau tidak! Itu bukan urusanku!"
"Aku enggak mau peduli dengan dia lagi!" ketus Laura. "Aku harus fokus dengan diriku sendiri mulai sekarang!"
Laura menghela napas kasar. Dia menepuk dadanya sendiri. "Laura, come on! Kita harus mengubah nasib sialan ini."
Dering ponsel menyela monolog Laura. Gadis itu menoleh, ditatapnya ponsel di atas meja. Panggilan suara yang singkat, deringnya mati beberapa detik berselang.
"Siapa yang menelepon malam-malam begini?" Laura mendekati ponselnya. Secara bersamaan, panggilan itu datang lagi.
"Pak Adam?" Laura tidak sadar senyumnya mengembang sedikit demi sedikit. Padahal, sebelumnya dia memantapkan hati untuk tidak peduli dengannya lagi.
Laura menjawab panggilan itu. "Ada apa menelepon malam-malam?" Laura memulai tanpa salam. Perbedaan dasar antara dia dan Nurwa.
"Kalau mau berterimakasih karena kue bolunya, aku tidak ...."
"Benar ini Nona Laura?" Bukan suara Adam. Laura langsung menghentikan kalimatnya.
"Halo?" Suara pria itu terdengar lagi. "Nona Laura?"
Laura mengumpulkan keberanian. Suaranya sedikir menyeramkan. Jujur, dia trauma dengan panggilan iseng seperti ini.
"A--ada apa?" tanya Laura terbata-bata. "Benar ini saya Laura."
__ADS_1
Laura menghela napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. "Ini siapa? Kenapa ponselnya Pak Adam ada pada Anda?"
"Pak Adam namanya?" tanyanya. "Dia ada di rumah sakit. Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Dia ...."
Laura membuka mata lebar-lebar. "Di mana rumah sakitnya?" sahut Laura tiba-tiba.
"Sebenarnya tidak terlalu parah. Hanya saja ..."
"Aku tanya di mana rumah sakitnya?" pekik Laura dengan nada meninggi. "Jangan basa-basi!"
"Rumah Sakit Marta Sehat. Tempatnya ada di ...." --tut. Suara panggilan diputus tiba-tiba menghentikan kalimat pria itu.
Laura panik bukan main. Dia berlari ke dalam kamarnya, mengambil tasnya. Entah apa yang bisa dibawa, yang jelas Laura harus segera datang ke rumah sakit itu. Rasa khawatir menghilangkan jernihnya pikiran Laura.
Sekali lagi, padahal dia baru saja berjanji pada dirinya untuk tidak peduli lagi pada Adam. Sayangnya, Laura sudah menghilang dari rumahnya. Tujuannya adalah rumah sakit tempat Adam berada.
>>>><<<
Rumah sakit Marta Sehat, Jakarta.
"Permisi!" Laura terengah-engah. Namun, dia tidak mau terlambat sedetik saja. "Saya mau tanya ...."
Laura mencoba untuk mengatur napasnya. "Ada pasien yang baru saja datang karena kecelakaan?" Dia memandang perempuan di depannya. "Namanya Adam Dhanurendra."
"Sebenarnya, saya check dulu, ya, Kak." Petugas resepsionis kembali pada layar komputer di depannya. Sepersekian detik kemudian, dia kembali menatap Laura.
"Separah apa keadaannya?" tanya Laura, tidak memberi kesempatan resepsionis untuk berbicara dulu. "Katanya, dia kecelakaan parah dan ...." Laura mengusap wajahnya. "Di mana kamar operasinya?"
"Dia ada di ruang rawat biasa," jawabnya pada Laura.
Laura menganga. "Huh?"
__ADS_1
"Katanya, dia kecelakaan parah dan keadaannya tidak baik-baik saja. Gimana bisa kalian cuma menempatkan dia di ruang rawat biasa?" Laura mulai kesal. "Pindahkan dia segera! Berikan perawatan yang bagus!"
Laura menepuk dadanya. "Aku yang akan membayar semuanya! Aku punya banyak uang!" ketusnya. "Dia hanya perlu mendapat perawatan terbaik di sini!""
"Tenang dulu, Kak." Petugas resepsionis berusaha untuk menenangkan Laura. "Pasien Adam dalam keadaan baik-baik saja."
"Dia kecelakaan dan kalian masih bisa bilang kalau dia baik-baik saja?" Laura mendengus kesal. "Aku akan melaporkan sikap kalian ini pada atasan kalian!"
"Mereka benar kalau aku baik-baik saja." Adam muncul dari belakang Laura.
Laura langsung menoleh dan memandangnya. Ditatapnya Adam yang berjalan sedikit pincang, dengan tangan kanan yang dibalut perban. Sialnya, wajah tampan itu juga ternoda oleh luka.
"Pak Adam!" Laura tiba-tiba berlari ke arahnya. Adam bisa melihat wajahnya yang penuh kecemasan.
Laura menatap Adam dari atas sampai bawah. "Pak Adam kenapa bisa begini?" tanya Laura. "Siapa yang membuat Pak Adam begini?" tanyanya.
Laura membalik tubuh Adam, memastikan kalau tidak ada cedera lebih dari ini. "Hanya ini lukanya?"
Melihat kekhawatiran Laura, Adam malah tertawa kecil. Tentu saja itu menyita fokus Laura.
"Pak Adam!" Laura menggerutu. "Aku serius sekarang! Aku benar-benar khawatir ketika seseorang meneleponku dan mengatakan kalau Pak Adam mengalami kecelakaan."
"Sepanjang perjalanan aku berpikir buruk, aku takut jika keadaan Pak Adam lebih mengerikan dari ini!" gerutu Laura.
Adam hanya terdiam sembari memandangnya dari atas sampai bawah. Ini bukan Laura. Gadis itu memakai baju tidur, sepasang sandal jepit dan wajah tanpa riasan juga tatanan rambut ala kadarnya.
Laura pasti langsung datang ke sini setelah mendapatkan panggilan itu.
"Kenapa menatapku begitu?" Laura memprotes. Dia belum sadar dengan penampilannya sendiri.
Adam tersenyum tipis. "Sudah makan malam?" tanya Adam. "Gimana kalau kita makan malam dulu?"
__ADS_1
Adam berbisik, "Kita cari tempat yang sepi karena aku yakin kamu malu jika penampilanmu dilihat orang banyak di luar sana," kekehnya. Adam menggoda Laura. "Kamu mirip istri yang kabur dari rumah."
Next.