
"Aku suaminya! Aku berhak marah." Adam membunuh mental Daffa dengan pandangan yang tajam.
"Kamu datang ke sini, lalu tiba-tiba memeluk istriku di depanku." Adam bertambah marah ketika melihat Daffa malah tertawa di tempatnya.
"Aku kira tadi Laura memintaku untuk menjemputnya, Pak Adam." Daffa membenarkan pendiriannya.
Daffa mengakui memang sikapnya barusan itu tidak sopan, tetapi mau bagaimana lagi ... Daffa hanya menunjukkan keinginan hatinya.
"Tak Adam sepertinya tidak dengar kalau tadi Laura memintaku untuk menjemputnya." Daffa melirik Laura yang berdiri di ambang pintu, gadis itu seperti pasrah pada keadaan. "Jadi aku datang ke sini untuk menjemputnya. Aku akan membawanya menginap di rumahku."
Adam bergeming cukup lama. Dia hanya terus menatap Daffa yang percaya diri dengan ocehannya.
"Biarkan dia pergi bersamaku. Aku nggak akan membuat keributan di sini, Pak Adam." Daffa bersuara dengan tegas. "Ingatlah kalau anak yang ada dalam kandungan Laura adalah anakku. Aku yang berhak atas dia."
Daffa menoleh pada Laura. Disusul dengan pandangan Adam yang mengarah pada fokus yang sama. Laura seperti tuan putri yang diperebutkan dua pangeran tampan.
"Aku sudah bilang, Laura akan menjadi tanggung jawabku mulai sekarang." Daffa ngotot dengan pendiriannya.
Adam tersenyum, mencoba memaklumi Daffa. "Kalau begitu menikahlah dengannya. Aku akan menceraikan Laura dengan senang hati jika kamu menginginkannya."
"Pak Adam ...." Laura melirihkan nada bicara.
Daffa menghela nafas. "Ceraikan dia. Aku yang akan menikahinya!" Nada bicara pemuda itu terkesan menantang. "Aku akan menjadi ayah kandung dari anak itu sekaligus suami sah dari Laura!"
Adam menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba dia melepas cincin pernikahan dari jari manisnya. Memberikan itu pada Daffa. "Gunakan cincinnya untuk bahan referensi, modelnya cocok dengan jari cantik Laura."
Daffa didiamkan oleh aksi nekat Adam. Adam bukan tipe orang yang suka menggertak. Semuanya dia tunjukkan dengan aksi yang nyata.
__ADS_1
Adam mendesah ringan, mengeluarkan beban dalam hatinya. "Aku akan dengan senang hati datang jika kamu mengundangku. Meskipun hanya dalam waktu yang singkat, ingatlah kalau Laura itu mantan istriku." Adam membanggakan posisinya.
Daffa membuang wajah. Dia melempar cincin dalam genggamannya, tidak peduli itu hilang atau tidak. "Pak Adam sedang meremehkan aku?"
"Aku mengabulkan keinginanmu, Daffa." Adam menyeringai tipis. "Katanya kamu mau membawa Laura. Katanya juga kamu mau bertanggung jawab dan kamu adalah ayah dari anak yang dia kandung."
Adam mendekati Daffa. Menepuk pundaknya dengan ringan. "Aku tidak akan menghalangimu jika, kamu memang ingin bertanggung jawab."
Adam berpaling setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia berhenti di sisi Laura yang memandangnya dengan ragu. Rasa cemas membuat Laura tak bisa banyak berkata-kata.
"Kamu boleh ikut dengannya. Sesuai dengan keinginan kamu juga, aku sudah melepaskan cincin pernikahannya." Adam menutup kalimat. Senyuman itu adalah akhir dari kejengkelan hati Adam kali ini.
Adam menutup pintu rumah setelah dia masuk ke dalam, meninggalkan Laura yang masih bisu. Laura berusaha memahami situasi yang terjadi padanya.
"Pak Adam ...." Laura tiba-tiba bersuara. Dia menatap Daffa yang menunggu penjelasan darinya.
Laura kembali menukas. "Untuk saat ini ... aku nggak mau meninggalkan pernikahan ini, Daff."
"Laura. Aku bilang aku mau bertanggung jawab." Daffa berusaha untuk meyakinkannya. "Aku tahu kalau aku salah kemarin, seharusnya aku tidak meninggalkan kamu pergi begitu saja."
"Seharusnya aku juga tidak membuat hati kamu terluka." Daffa menganggukkan kepalanya yakin. "Kita bisa belajar menjadi orang tua yang baik untuk anak kita nanti, Ra."
Laura tampak lebih menderita dibanding kemarin. Rasa kecewa jika Dafa tidak mau bertanggung jawab sekarang berubah menjadi kemarahan yang luar biasa. Laura masih belum bisa membedakan mana perasaan yang tulus untuknya dan mana perasaan iba karena keadaannya.
Laura memundurkan langkah kaki. "Maafin aku. Aku nggak bisa."
"Kalau nggak bisa kenapa tadi telepon untuk meminta aku menjemputmu?" Daffa menagih kata-kata Laura. "Tidak ada yang tahu alamat rumah Pak Adam, aku bersusah payah untuk mendapatkannya hanya demi menjemputmu." Daffa merasakan frustasi. "Kalau hanya berselang beberapa jam kamu berubah pendirian?"
__ADS_1
Daffa benar. Laura tidak butuh berhari-hari untuk memikirkannya, tetapi dia setuju dengan jalan keluar milik Adam ketimbang Daffa.
"Katanya kamu mencintaiku!" Daffa kembali mendesak. "Kita bisa hidup dengan cinta untuk membangun rumah tangga dan menunggu kelahiran bayi kita. Aku akan melindungimu apapun keadaannya!"
Laura memilih untuk mengalah, tidak mau mengajukan perdebatan. "Kamu bisa pulang. Sekali lagi aku minta maaf kalau ternyata aku mempermainkan perasaan kamu."
Laura memilih pergi dari hadapan Daffa sebelum pembicaraan mereka kemana-mana.
"Laura!" Daffa menarik pergelangan tangannya. "Aku mohon beri aku kesempatan kedua. Aku janji aku tidak akan mengecewakan kamu," pintanya.
Laura tersenyum kecut. "Kenapa kamu tiba-tiba ngotot begini? Daffa yang aku kenal tidak akan mengubah keputusannya dalam waktu dekat."
Daffa melunakkan genggaman tangan. Dia menjatuhkan pandangan sembari menghela nafas panjang. "Karena aku mengaku salah ...."
"Jangan bohong," balas Laura. "Mata kamu mengisyaratkan sesuatu."
Daffa memandang Laura. "Aku serius, Ra," ucapnya. "Kalau dipikir-pikir aku nggak bisa hidup tanpa kamu."
Laura malah tertawa picik mendengar kalimat Daffa. "Daf, seharusnya aku mengatakan ini kemarin padamu."
Daffa mengerutkan keningnya.
"Kamu pikir aku tidak tahu apa hubunganmu dengan Almira?" Laura memberi serangan tak terduga. "Aku tahu, tapi aku memilih diam dan mengabaikannya."
Laura mendorong tubuh Daffa menjauh. "Kamu berselingkuh dengannya dari aku. Kalian bahkan bermalam bersama setelah pesta ulang tahun waktu itu."
Daffa kalah telak! Laura memberikan kejutan tak terduga.
__ADS_1
"Jadi pulang saja, sebelum aku menebak apa maksudmu memaksaku untuk kembali padamu." Laura menutup kalimatnya. Dia pergi setelah itu, masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
Next.