
Laura menatap pantulan bayangan wajahnya dari cermin yang ada di depannya. Dia bergumam ringan kemudian. "Kenapa aku jadi merasa bersalah?"
Wanda memang sudah pergi dari rumahnya, tetapi ingatan tentang kata-kata wanita itu masih melekat jelas di dalam kepala Laura. Seakan sosok wanita itu ada di depannya.
"Aku sama sekali nggak salah, bukan?" tanyanya pada diri sendiri. "Aku hanya mencoba mengekspresikan isi hatiku. Wajar saja jika aku ...."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuyarkan fokus Laura. Gadis itu langsung menoleh ke ambang pintu, berjalan kemudian.
"Siapa?"
Laura membuka pintunya. Dia terkejut ketika mendapati sosok Adam berdiri di depan pintu. Pria itu bahkan menyapanya dengan begitu ramah, senyum kuda memamerkan gigi rapinya.
"Kamu longgar hari ini bukan?" Adam langsung pergi pada poin pembicaraan, sedangkan Laura menganggukkan kepalanya yakin.
"Memangnya kenapa kalau aku longgar hari ini?" Gadis itu meneliti penampilan Adam. Rapi dan penuh gaya, mirip seperti lelaki yang akan mengajak berkencan kekasihnya. Namun, terlalu terlambat untuk melakukan hal itu setelah semua yang terjadi.
Laura menghela napas. "Aku sibuk," ucapnya. "Aku menarik anggukanku tadi."
"Aku hanya datang ingin mengajak kamu periksa kandungan." Adam menjawab. "Seperti janji aku. Aku akan membiayai semuanya."
Laura tidak berkutik sama sekali. Seharusnya dia senang mendapat dukungan seperti ini. Dia hanya perlu menggugurkan kandungannya dan semua selesai. Tidak akan ada lagi kisah antara dia dan Adam. Namun, entah badai apa yang baru saja membangunkan dirinya dari tidurnya ... Laura mulai ragu.
"Kenapa diam saja?" Adam menyahut lagi. "Aku tunggu kamu siap-siap," ujarnya lagi. "Aku akan menunggu kamu di dalam mobil."
Adam tidak menunggu jawaban dari Laura. Dia berpaling begitu saja meninggalkan gadis itu, tetapi Laura mencegahnya.
"Tunggu!" Laura menatap Adam lalu mengarahkan pandangan mata pada mobil yang terparkir di depan halamannya. "Itu mobil Pak Adam?" tanya Laura. Dia tak bisa percaya begitu saja.
__ADS_1
Adam manggut-manggut. "Hm. Ada yang salah?" Dia berwajah polos sekarang, berpura-pura tidak mengenali kebingungan di wajah Laura.
"Pak Adam beli mobil?" Laura seakan tak percaya. "Tiba-tiba?" tanyanya lagi. Dia sedikit gagap. "T--tapi bagaimana bisa?"
Adam terkekeh geli. "Cepat siap-siap. Aku tunggu di mobil." Pria itu tidak mau menjawab kalimat Laura. Dia berpaling dan pergi meninggalkannya.
Laura hanya bisa tertegun dalam diam. Dia memandang tak percaya pada kepergian Adam sekarang. "Wah! Lelaki itu benar-benar luar biasa membingungkan!"
>>>><<<<
Hampir 30 menit berjalan, padahal Adam tadi sudah melihat Laura begitu cantik dengan pakaiannya. Dia berpikir mungkin Laura hanya mengambil tas atau semacamnya, tetapi faktanya menunggu wanita berdandan itu bukan hal yang mudah. Kesabaran dipertaruhkan di sini.
Laura mengetuk kaca mobil yang membuat Adam langsung menoleh padanya. Tak berselang lama gadis itu membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
"Wah! Ini beneran mobilnya Pak Adam?" Laura menatap sekitarnya. Aroma mobil yang wangi, semua tertata rapi. Beginilah ciri khas Adam.
Laura menatapnya. "Kenapa tiba-tiba membeli mobil? Pak Adam baru dapat jackpot?"
"Bukan itu yang aku tanyakan." Laura menatapnya dengan jeli. "Kenapa tiba-tiba membeli mobil? Tidak ada angin tidak ada hujan, apa alasannya?"
"Kamu itu anaknya orang kaya. Namun, kamu terkejut ketika naik mobil seseorang?" Adam menggoda Laura dengan senyum konyolnya. "Kamu juga kebingungan ketika seseorang membeli mobil?"
Laura mendengus. "Bukan begitu!" Dia sedikit kesal. "Pak Adam hanya seorang guru tidak tetap. Pak Adam juga baru pindah sekolah mengajar." Laura menatap seluruh bagian mobil.
"Meskipun ini mobil bekas, tapi harganya pasti ratusan juta bukan?" tanya Laura. "Aku tidak yakin kalau Pak Adam bisa ...."
Laura terdiam ketika Adam memandangnya dalam diam. Lelaki itu memang tidak berkata apa pun, tetapi Laura merasa bersalah. Mungkin dia berlebihan dalam membahas ekonomi Adam.
"Maksudku adalah ...." Gadis itu jadi salah tingkah sendiri. "Ah, sudahlah! Jalan saja." Laura menarik sabuk pengaman dan mengencangkannya. Dia duduk dengan rapi sembari melipat tangannya.
__ADS_1
Adam hanya tersenyum manis. Anggukan kepala menyetujui perintah Laura. Setelah mesin mobil dinyalakan, mobil Adam melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan Kota Jakarta.
"Ngomong-ngomong kita mau ke mana?" Laura akhirnya membuka suara setelah hening membentang selama beberapa detik. Sekali dia melirik ke arah Adam, lalu berusaha mengalihkan pandangannya.
Adam menghela napas. "Rumah sakit. Sudah aku bilang kalau aku ingin memeriksa kandunganmu. Kamu hanya tinggal menurut saja."
"Kalau soal menggugurkan kandungannya ...." Laura menambah dengan ragu. "Aku sudah menemukan rumah sakit yang bisa melakukannya. Jadi ...."
"Aku hanya ingin memeriksa keadaannya." Adam menyahut sembari memelankan laju mobilnya. Lampu merah menyala terang di depan mereka.
Adam menoleh pada Laura begitu juga sebaliknya. "Hanya memeriksa."
"Pak Adam berpikir setelah aku mengetahui keadaan anak ini baik-baik saja aku akan berpikir ulang untuk menggugurkannya?" Laura hanya mengatakan isi kepalanya, tanpa mau peduli seberapa banyak itu menyakiti Adam.
Laura tersenyum miring. "Itu tidak akan mengubah pendirianku sama sekali, Pak Adam. Itu hanya akan sia-sia."
"Aku tidak melarang untuk menggugurkan kandungannya bukan?" Adam menyahut. "Jika memang itu yang kamu mau, kita akan menggugurkannya, tetapi tidak untuk sekarang."
Laura mengerutkan kening.
"Seperti yang kamu tahu kalau aku baru saja membeli mobil," imbuh Adam. "Uang untuk menggugurkan kandungannya sudah tidak ada."
Adam tertawa kecil kemudian. Dia mengusap puncak kepala Laura yang memandangnya dengan kesal.
"Aku harus mengumpulkan uang lagi untuk bisa menggugurkan kandungannya, Laura," ucapnya. "Menggugurkan kandungan bukan hal yang murah kan? Sekarang ini aku sudah tidak punya uang."
Laura memicingkan mata. "Jual mobilnya."
"Aku tidak mau," jawab Adam. "Seperti kamu yang punya pendirian, aku juga akan punya pendirian."
__ADS_1
"Tunggu aku menabung lagi dan kita gugurkan kandungannya, Laura. Aku janji," imbuh Adam. Aneh sekali, Laura seperti dipermainkan sekarang.
Next.