
"Belen! Belen!" Laura berteriak-teriak. Dia masuk ke dalam rumah Belen setelah mendapat izin dari orang tua Belen.
Belen keluar dari dalam kamar mandi, dia menatap Laura dengan aneh ketika gadis itu tiba-tiba merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar Belen.
"Kamu itu kenapa?" Belen meletakkan handuk di atas meja. Ditatapnya Laura yang kini duduk di ujung ranjang.
Laura mendesah kasar sembari mengusap-usap wajahnya. "Ini benar luar biasa!" Dia seperti orang kesetanan. "Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku akan mendengar kalimat ini malam ini!"
Laura terus-menerus memberi penekanan di setiap kata yang dia ucapkan. Raut wajahnya memberi kesan bahwa dia telah mendengar sesuatu yang begitu luar biasa dan di luar dugaannya.
"Berhenti basa-basi dan katakan apa yang terjadi." Belen memutar kursi. Kemudian dia meraih segelas air putih, hendak meminumnya. "Bukankah malam ini kamu ada kencan sama Bayu?"
Laura manggut-manggut.
"Biar aku tebak!" Belen menyela sebelum minum air putih. "Dia kembali menyatakan cinta? Mau menerima kamu apa adanya? Kalau kamu jujur Kalau kamu sedang hamil, tetapi dia masih mau sama kamu?"
Belen menyusun skenario yang ada dalam kepalanya. Kemudian gadis itu tertawa. "Dia benar-benar dimabuk cinta. Dasar lelaki bodoh."
Laura menggeleng cepat. "Bukan itu!"
"Lalu?" Belen menyeringai, lalu meneguk air putih untuk membasahi tenggorokannya.
"Aku dilamar." Laura mengaku. Namun, Belen tidak terkejut sama sekali. Belen lebih tahu seperti apa Bayu, ketimbang Laura yang tidak pernah peduli pada orang-orang di sekitarnya sebelumnya.
Belen manggut-manggut.
"Bukan sama Bayu, tetapi sama Pak Adam."
Sekarang, Belen terkejut. Gadis itu menyemburkan air dalam mulutnya, mengenai wajah Laura.
Laura menggerutu. "Sialan!" Dia bergegas mencari handuk untuk mengelap wajahnya. "Kamu ini!"
"Ulangi lagi!" Belen menarik tangan Laura. Mencegah gadis itu untuk berpaling dari hadapannya. "Kamu tadi bilang apa?"
Laura berdecak. Dengan wajah yang masih basah, dia kembali menatap Belen. "Pak Adam melamar aku."
"Pak tua itu?" Belen mengulangi, masih tidak percaya. "Pak Adam yang ...."
__ADS_1
"Emangnya aku kenal Pak Adam yang lain?" Laura menyingkirkan tangan Belen dari atas pundaknya. Dia turun dari ranjang, berjalan mencari tisu untuk menyeka wajahnya yang basah.
Belen mengekori langkah kaki Laura. "Terus, kamu jawab apa?" desak Belen bertanya.
Laura mengabaikan. Dia fokus menyeka wajahnya sembari bergidik jijik karena air itu bekas mulut Belen.
"Ayolah, Ra!" Belen merengek-rengek. "Katakan! Kamu jawab apa?"
Laura melirik Belen. Dia tersenyum kecut padanya.
"Kamu ini!" Belen bergelayut manja. "Kasih tahu aku! Kamu jawab apa lamarannya Pak Adam?"
Laura memutar pandangan matanya. Ditatapnya Belen dengan serius. "Kamu mau tahu?"
Belen manggut-manggut. "Katakan, cepat!"
"Aku ...."
>>>><<<<
Adam menghela napasnya. Dia memilih duduk di halaman rumahnya, memandangi jalanan kosong di depannya.
"Seharusnya aku tidak bilang begitu!" Adam menyalahkan dirinya sendiri. "Seharusnya aku menunggu waktu yang tepat, suasana yang bagus, dan tempat yang pas untuk melamarnya lagi!"
Adam menjejakkan kaki ke tanah, dia benar-benar frustasi. "Sialan!"
"Apanya yang sialan?" Suara Nurwa tiba-tiba menyela. Kedatangannya mengejutkan Adam.
Adam mendongak, memandang Nurwa yang keluar dari rumahnya.
"Nur?" Adam mengintip jendela rumahnya. Di dalam suasana sepi, ibunya dan Rinjani tidak sedang menerima tamu.
Nurwa tersenyum simpul dan duduk di samping Adam, bercelah satu meja bundar di antara mereka. "Aku hanya mampir sebentar. Kebetulan ada yang harus aku kembalikan ke ibumu, Mas."
Adam manggut-manggut. Nurwa menjelaskan tanpa dia minta.
"Apa yang membuat Mas Adam begitu kesal?" Nurwa kembali pada obrolan sebelumnya. "Tidak biasanya Mas Adam mengumpat begitu."
__ADS_1
Adam hanya menggelengkan kepalanya. Dia berpikir untuk tidak melibatkan Nurwa lagi. Nurwa cukup menjadi korban karena kebodohannya, dia tidak boleh terluka karena Adam lagi.
"Tentang Laura?" Nurwa menebak. "Memangnya tentang siapa lagi kalau bukan dia," kekeh Nurwa. "Mas Adam sepertinya tergila-gila dengan Laura."
Adam menundukkan pandangan matanya.
"Mas Adam bisa bicara sama aku. Sesama perempuan, mungkin perkataanku bisa mewakili Laura." Nurwa membujuk dengan lembut. "Sesama perempuan juga, mungkin aku bisa memberi ide atau apa pun untuk kalian."
Adam memandang Nurwa. Perempuan itu telah mengiklaskan hatinya untuk Adam dan Laura. Namun, Adam masih merasa bersalah.
"Katakan saja, Mas." Nurwa mendesak lagi. "Ada masalah apa?"
"Sebenarnya, aku melamar Laura." Adam memulai pembicaraan.
Nurwa terdiam. Seharusnya dia tidak merasakan gejolak ini, tetapi sisa rasa di dalam hatinya masih ada untuk Adam.
"Lalu?" Nurwa menyahut. "Bagaimana jawaban Laura?" tanya Nurwa. "Dia menyetujuinya?"
Adam menggelengkan kepalanya. "Dia menggantungkan jawabannya. Dia pergi begitu saja."
"Aku berpikir, mungkin saja aku salah waktu." Adam tersenyum getir. "Seharusnya aku mengatakan itu dengan memilih waktu yang tepat dan tempat yang pantas."
Nurwa bisa merasakan penyesalan di hati Adam.
"Aku hanya takut kalau Laura menolakku karena merasa aku tidak serius dengannya." Adam menutup kalimatnya. Dia menghela napas yang panjang. "Aku takut itu memperburuk hubungan kita."
Nurwa menimpalinya. "Kalau begitu, temui dia dan lamar dia lagi. Jelaskan penyesalannya Mas Adam dan buat dia yakin dengan Mas Adam."
Keduanya saling memandang.
"Selama ini Mas Adam terlalu ragu, tarik ulur. Perempuan tidak suka itu." Nurwa mengimbuhkan. "Mas Adam harus lebih tegas padanya lagi. Ini menyangkut masa depan Laura juga."
Adam hanya terdiam sembari menatap Nurwa. Dia mencerna kata-kata Nurwa yang sepenuhnya mewakili perasaannya.
"Aku akan mendukung kalian, Mas Adam," ucap Nurwa lagi. "Jadi, yakinkan Laura bahwa kau datang untuk membawanya ke hubungan yang lebih serius. Wanita menyukai kepastian."
Adam manggut-manggut. "Aku akan mencoba untuk melakukannya. Namun, bagaimana jika Laura menolakku lagi?"
__ADS_1
Nurwa tersenyum tipis. "Lakukan itu terus menerus, sampai dia menerimanya."
Next.