Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
17. Kematian Desi


__ADS_3

Langit malam menggantung gemerlap bintang di atas sana. Suasana sunyi dengan kerikan jangkrik tak bisa menenangkan hati Laura. Beberapa menit berlalu, diamnya tidak bisa ditoleransi lagi. Adam mengingkari janji.


Laura memanggilnya untuk berbicara di belakang rumah. Tujuannya agar mamanya tidak mendengar perdebatan mereka. Adam tidak menyetujui begitu juga tidak menolaknya. Pria itu hanya berkata, "Akan aku usahakan."


Laura berdecak kesal. "Sialan satu itu!" Dia hampir berpaling dari tempatnya, mencari di manapun Adam berada.


Laura terkejut ketika Adam berdiri di belakangnya. Tanpa suara apapun.


"Kamu mengejutkan aku!" gerutu Laura.


Adam malah tertawa cekikikan di tempatnya. "Setidaknya balasan setelah kamu mengumpat padaku," kekehnya.


Laura memandang ke arah lain. Membuang muka sembari menghela nafas. "Dia benar-benar menyebalkan ...."


Adam mendengar gerutunya. Jelas-jelas itu untuk dirinya, Laura tidak berubah sama sekali.


"Katanya mau bilang sesuatu, tidak jadi?" Adam berusaha menarik perhatiannya lagi. "Aku baru pulang dari sekolah, ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan."


"Aku pulang cepat karena kamu bilang ingin bicara sesuatu. Jadi aku memprioritaskan ...." Adam membeku di tempatnya begitu tatapan Laura tajam mengarah padanya. Dia seperti dibunuh tanpa belati.


"Kamu masih membenarkan apa yang kamu lakukan tadi?" Laura mulai membahasnya.


"Aku berbicara tentang Daffa!" Gadis itu menggerutu pelan, berharap nada bicaranya tidak sampai ke telinga mamanya.


Adam tersenyum. "Lagian cepat atau lambat dia juga akan tahu. Dia pantas tahu status baru kamu."


"Dia bisa menyebarkan ke teman-teman yang lain!" Laura masih jengkel dengan Adam. "Kalau Belen juga tahu, Almira tahu, maka seluruh sekolah akan tahu!"


"Aku tidak yakin dia akan menyebarkannya, Laura." Adam menanggapi kemarahan Laura dengan begitu santai.


"Sepertinya dia tidak sampai hati menyebarkan itu, Laura." Adam menambahkan lagi. Keyakinannya begitu besar, tidak seperti milik Laura.


Laura mendesah panjang. "Kenapa kamu begitu yakin? Gimana kalau ternyata dia menyebarkan itu? Kamu juga akan rugi kehilangan pekerjaanmu!"


"Maka kehamilanmu atas dia juga akan tersebar," jawab Adam semakin yakin.


Laura diam, Adam jauh lebih matang darinya. Belakangan ini situasi membuat kepanikan Laura menjadi-jadi, kadang kala dia lepas kendali seperti orang gila.


Adam mendekati Laura. Meraih kedua bahunya dan tersenyum. "Kamu tidak perlu mencemaskan apapun, aku akan mengurusnya jika terjadi sesuatu."

__ADS_1


"Kamu bisa mengandalkan aku. Aku adalah laki-laki dewasa," tukas Adam lagi.


Mendengar basa-basi itu Laura malah tertawa. "Kamu ini lucu sekali!"


"Aku serius, Laura." Adam merendahkan suara. "Aku adalah suamimu."


"Kamu mau aku tenang?" Laura manggut-manggut tak yakin. "Dengan keadaan mental mama yang sedang tidak baik-baik saja di dalam sana?"


Adam langsung terdiam. Dia membeku tak berkutik.


"Sepeninggal papa, mama jadi berbeda." Laura mulai mengulas. "Mama jadi lebih pendiam dan menyendiri!"


"Mama jadi jarang makan dan jarang keluar kamar!" Laura mulai menggerutu. "Mama jadi mirip orang depresi atau aku yang tidak mengenalnya sama sekali," tandanya lagi. "Aku kehilangan keluarga dan masa bahagiaku ... lalu kamu mau aku tetap tenang?"


Adam berusaha memahami Laura. Luka di hatinya tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, keadaan mengubah semuanya hanya dalam sekejap mata.


"Kamu masih ingin aku tenang?" Laura mengulang pertanyaannya.


Adam manggut-manggut. "Aku tahu, pasti sulit untuk kalian berdua."


"Namun, Laura. Percaya saja kalau badainya pasti berlalu. Mamamu dan dirimu pasti akan kembali baik-baik saja setelah menerima semua keadaannya," imbuh Adam.


"Bagaimana jika tidak?" Laura menukas lagi. "Aku hamil dan sekarang aku harus kehilangan semuanya. Aku menikah dengan pria yang bahkan aku tidak hafal kapan ulang tahunnya, apa warna kesukaannya, apa yang kamu makan dan apa yang tidak kamu makan?"


Laura mengusap wajahnya kasar. "Aku tidak tahu siapa kamu dan bahkan aku tidak tahu siapa nama panjang kamu!" Dia kesal pada dirinya sendiri.


Laura memandang Adam lagi. "Aku tidak bisa tenang, Pak Adam."


"Adam Dhanurendra," ucap Adam tiba-tiba.


Laura memicingkan mata. Fokusnya diblokir oleh senyuman Adam lagi.


"Aku suka warna biru laut, aku paling suka makan nasi telur pedas dan aku tidak suka kacang, aku alergi dengan kacang," imbuhnya. Adam menjawab semua pertanyaan Laura.


"Tanggal 21 September adalah ulang tahunku. Jangan memberi kado kue, karena aku tidak suka makan kue basah. Lebih baik beri aku lampu tidur karena aku tidak bisa tidur dengan suasana terang dan terlalu gelap." Adam tersenyum lagi. "Aku suka malam yang remang dan lampu kuning menenangkan."


Laura bergeming. Dalam beberapa detik dia habiskan untuk mengenal Adam, meksipun tak sempurna.


"Cukup untuk mengenalku?" tanya Adam lagi. "Sisanya, mari jalani bersama-sama."

__ADS_1


Laura perlahan-lahan menyeringai. "Kamu luar biasa tak tahu malu!"


"Aku tidak melakukan salah apapun. Jadi kenapa aku harus malu?" Adam tetap pada posisinya. "Aku hanya menjalankan tugasku sebagai suamimu."


Laura mengulum ludah. Seribu umpatan dia tahan dalam benaknya, berharap kalau Adam memahami kemarahan tanpa dia harus meninggikan nada bicaranya.


"Kamu lupa apa yang dikatakan mama malam itu?" tanya Laura. "Mama ingin kamu menceraikan aku dan mama ingin kamu mengembalikan hidupku lagi!"


"Seharusnya kamu segera menceraikan aku saat kembali ke Jakarta dan—"


Kalimat Laura terhenti ketika dia mendengar sesuatu jatuh dari lantai atas. Bukan kaca yang pecah, tetapi benda besar yang menghantam tanah.


Laura hampir menoleh. Akan tetapi, Adam tiba-tiba meraih tubuhnya. Menjatuhkan Laura dalam pelukan hangatnya.


Laura ingin melepaskan diri. Memberontak sebisa mungkin, meskipun dia tahu tubuh Adam jauh lebih besar darinya. Tenaganya tidak akan bisa mengalahkan Adam.


"Apa yang terjadi!" Laura marah. "Aku ingin melihat apa yang jatuh!"


"Jangan dilihat," lirih Adam menyahut. Dekapannya semakin kuat. "Kamu tidak boleh melihatnya."


Mendengar suara Adam penuh ketakutan, Laura mencari celah untuk mendongak dan menatap wajah Adam. Dari caranya menatap, Adam mulai kehilangan pendiriannya yang tenang.


"Pak Adam ...." Laura melirih ketika melihat air mata Adam menetes dengan sudut mata yang memerah.


"Apa yang ...." Laura berhenti ketika Adam melunak. Pelukannya tidak sekuat sebelumnya. Gadis itu menggunakan celah ruang untuk melepaskan diri.


Ketika Laura menoleh, memandang apa yang jauh dari balkon lantai atas, seluruh tubuhnya lemas seketika.


Laura bersimpuh dengan air mata yang tiba-tiba mengalir dengan deras. Lidahnya kelu, tak mampu berucap. Kegilaan dalam kepalanya kosong begitu saja. Dia hampa dalam seketika.


Adam meraih tubuh Laura dan memeluknya dari belakang.


"Laura, jangan dilihat," bisiknya.


Laura mendorong tubuh Adam. Sekuat tenaga dia bangkit dari tempatnya, berlari menuju ke arah Desi yang terbujur lemas dengan genangan darah yang semakin banyak.


"Mama!" teriak Laura mendekati mayat Desi.


Next.

__ADS_1


__ADS_2