
Laura menolak pulang bersama Danira, meskipun wanita itu terus mengajaknya masuk ke dalam mobil. Laura tidak berani bertemu dengan suami Tante Danira. Dia tidak akan pernah mau berbicara dengannya.
Gadis itu berakhir di halte bus. Entah akan datang atau tidak, Laura tidak peduli. Dia hanya duduk sembari memandang jalanan kosong di depannya. Perlahan-lahan kepalanya bersandar ke belakang.
"Kenapa aku bisa berakhir di sini?" gumam Laura. Dia menyeka air matanya. "Ini benar-benar gila. Tuhan benar-benar meninggalkan aku?"
Gadis itu mendesah panjang. "Haruskah aku mati malam ini?"
Kalimat Danira masih terngiang-ngiang di dalam kepala Laura. Semua yang dikatakan wanita itu adalah faktanya. Laura benar-benar bodoh tanpa bisa berpikir panjang.
Laura tiba-tiba merasa berat di kepalanya. Terdiam selama beberapa detik saja dengan angin sepoi-sepoi, berusaha untuk menidurkan dirinya. Dia benar-benar tak tidur seharian ini.
"Jam satu malam?" Laura tersenyum tipis. "Sepertinya aku besok bolos sekolah." Laura memutuskan untuk tidur dengan telapak tangan sebagai bantalan kepalanya.
"Aku tidak pernah menyangka, kalau aku akan terlantar seperti ini." Laura mendengus pelan. "Aku tidak pernah membayangkan, kalau aku akan tidur di halte bus jam segini."
"Aku tidak pernah ...." Suara Laura hilang kemudian, bersama dengan kedua matanya yang tertutup rapat. Samar- samar suara apapun yang berasal dari luar sana, Laura tidak lagi mendengarnya. Dia terlelap dalam tidurnya.
>>>><<<<
Laura merasakan kehangatan ketika dia membuka matanya. Samar-samar dirinya melihat tirai jendela yang terbuka separuh.
"Aku ada di surga?" tanyanya. "Kenapa indah sekali?" gumam Laura lagi. Gadis itu membuka matanya, mengucek beberapa kali.
Sekarang Laura tersadar kalau dia ada di kamarnya. Keindahan yang dia maksud adalah tirai yang dihadiahkan Adam saat pertama kali pindah ke sini.
"Kok aku bisa ada di kamar?" Laura langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dia menoleh ke kanan dari ke kiri. "Aku benar-benar ada di kamar?"
Laura kebingungan bukan main. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, sesekali menepuk pipinya, takut kalau ini hanya mimpi saja.
"Wah! Aku benar-benar ada di kamar ternyata," gumam Laura. Dia melihat jam di ponselnya.
__ADS_1
"Aku berjalan sambil tidur?" Laura bergumam lagi. Dia berusaha menggali memori setelah dirinya tertidur di halte bus. "Aku yakin kalau aku tidur di halte bus tadi."
"Aku yakin kalau aku juga tidak mungkin berjalan sambil tidur tapi aku tidak ingat apapun," ucapnya. Laura mencari sesuatu. Entahlah, dia berharap ada sesuatu yang bisa membantunya menjawab kebingungannya sendiri.
Sayangnya, Laura tidak menemukan apapun. Semuanya terlihat normal, seakan-akan dirinya bisa berteleportasi.
"Benarkah aku jalan sambil tidur?" Laura mendesah kasar. Dia mengacak-acak rambutnya. "Ah, sudahlah! Aku mau mandi!"
>>>><<<<
Kediaman Adam Dhanurendra.
Surya begitu hangat. Tidak ada mendung, tak seperti biasanya.
Rinjani duduk di depan Adam, gerak-gerik kakaknya cukup mencurigakan. Namun, Adam berusaha untuk menutupinya dengan baik. Tujuannya hanya ingin sarapan dengan keluarganya.
"Mas Adam." Rinjani tidak bisa menahan rasa penasaran dalam hatinya. Dia melihat kakaknya keluar dini hari tadi.
Rinjani menggelengkan kepalanya. "Sepertinya Mas Adam sudah tahu aku mau bicara tentang apa," balasnya. "Mas Adam sudah punya jawabannya?"
Wanda menatap dua anaknya yang saling pandang satu sama lain. Hanya dia yang tidak tahu apapun.
Adam menghela napas. Dia melirik Wanda, kemudian memberi kode pada Rinjani. Kepalanya menggeleng samar, menandakan kalau Rinjani tidak boleh membahas itu di depan Wanda.
Namun, Rinjani tidak pernah mengikuti kata-kata Adam. Sejak dulu, dia adalah gadis yang keras kepala.
"Aku melihat masa Adam keluar dari rumah sekitar pukul setengah satu pagi," ucap Rinjani. "Mas Adam ke mana?"
Wanda langsung melihat ke arah Adam setelah mendengar kalimat putrinya. Dia hendak bertanya, tetapi Adam langsung menyahutnya.
"Temanku ada yang kecelakaan kecil. Tidak ada transportasi yang bisa mengantarnya ke rumah sakit, jadi aku meminjam mobilnya Pak Banu, lalu menjemputnya untuk mengantarkan ke klinik terdekat."
__ADS_1
Adam hanya berharap kebohongannya itu bisa ditoleransi. Dia berharap bisa lolos dari dua perempuan di depannya ini.
"Menolong teman?" Rinjani masih menaruh curiga. "Teman sedekat apa sampai membuat Mas Adam terlihat begitu khawatir dan terburu-buru?"
Adam diam. Dia memejamkan kedua matanya, berpikir cukup keras.
"Rinjani, dia adalah ...."
"Gimana keadaan temanmu itu sekarang?" Wanda tiba-tiba menyahut. "Dia baik-baik saja?"
Adam melirik Rinjani sebelum mengangguk. "Syukurlah, Bu. Aku datang tepat waktu. Jadi dia bisa segera mendapatkan pengobatan."
Wanda tersenyum seadanya. "Syukurlah."
"Ibu percaya kalau—"
"Kamu tidak sekolah?" Wanda memotong kalimat Rinjani. "Cepat selesaikan makanmu, nanti kamu terlambat lagi."
Adam tersenyum pada Rinjani yang menatapnya gusar. Dia akan berterima kasih pada Wanda secara tidak langsung karena sudah menyelamatkannya. Adam tidak bisa berbohong lebih banyak dari ini.
"Terserah saja," gerutu Rinjani. "Aku sudah selesai makannya. Aku mau berangkat sekolah."
Rinjani beranjak pergi dari tempatnya dan meninggalkan meja makan.
"Sekolah yang pinter!" pekik Adam. Dia puas mengalahkan adiknya tanpa perlawanan sengit seperti biasanya.
"Temanmu itu ...." Wanda tiba-tiba menyahut lagi. Dia memotong senyuman Adam. Keduanya saling memandang.
"Namanya Laura Mentari?" tanya Wanda. Sukses membuat Adam terdiam.
Ah, Wanda tidak menyelematkan Adam. Dia memojokkannya.
__ADS_1
Next.