Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
39. Istri (Tak) Berbakti


__ADS_3

Adam menyelesaikan doanya. Telapak tangannya mengusap lembut wajah tampannya.


"Gimana rasanya setelah salat isya?" Adam bertanya tanpa menoleh ke belakang. Tentu saja dengan kepercayaan, Laura masih ada di belakangnya.


"Kamu tadi menolak karena kamu tidak biasa salat isya." Adam menyimpulkan. "Salat itu penting, Ra." Adam mencoba menggurui, padahal dia bukan guru agama. "Waktu-waktu salat adalah waktu yang pas untuk kita bercengkrama dengan Yang Maha Esa."


Adam tersenyum tipis. "Mulai sekarang, aku akan membiasakan kamu untuk salat lima waktu dan membaca—"


Kalimat Adam terhenti ketika dia menoleh ke belakang, hampir mengulurkan tangannya agar Laura mencium telapak tangan layaknya istri pada suami.


"Ke mana dia?" tanya Adam bergumam. Bahkan, Laura masih meninggalkan sajadah yang belum dirapikan. "Dia pergi sejak tadi?"


Adam menunjuk dirinya sendiri. "Sejak tadi aku berbicara sendiri?" tanyanya.


"Ah, gadis nakal itu." Adam menggerutu pelan. "Harusnya aku tadi aku kunci pintunya."


>>>><<<


"Boleh aku masuk?" Adam berbisik dari ambang pintu. "Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, Ra?"


Tidak ada jawaban dari dalam kamar. Adam mulai ragu untuk membuka pintunya, mungkin saja Laura sedang mandi atau semacamnya.


"Laura?" Adam memanggilnya lirih. "Kamu sudah tidur ya?"


"Argh!" Suara Laura berteriak secara tiba-tiba, membuat Adam mau tidak mau menerobos kamarnya. Pria itu terkejut bukan main dan pikiran buruk tiba-tiba terlintas dalam kepalanya begitu saja.


"Pak Adam kenapa masuk tanpa izin?" tanya Laura menggerutu. "Aku mau ganti baju!"


Untungnya, Laura belum melepaskan seluruh bajunya. Masih dianggap sopan jika Adam melihatnya dalam keadaan begini sekarang.


"Aku di depan pintu," ucap Adam sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku manggil nama kamu, tetapi kamu tidak jawab."

__ADS_1


Laura menatap musik yang diputar dari ponselnya. "Aku mendengarkan musik sambil ber-make up."


Adam menatap wajah Laura. Gadis itu sudah cantik dengan polesan make up tipis yang menyempurnakan wajahnya. Ditambah lagi rambutnya disisir rapi, jatuh tepat di atas punggungnya.


"Kamu mau pergi malam-malam begini?" Adam mengerutkan kening. "Ini sudah malam. Hampir pukul delapan."


"Belum malam." Laura menyanggah. "Memang jam segini aku main biasanya." Laura menunjuk keluar jendela. "Hujannya juga udah reda jadi, aku bisa keluar."


Adam menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh." Jelas-jelas dia melarang Laura. "Ini sudah malam dan kamu juga tadi hujan-hujan, aku khawatir kalau terkena angin malam lagi kamu akan flu."


Laura manyun di tempatnya. "Papa tidak pernah melarang aku, dia hanya bilang kalau aku tidak boleh pulang larut malam dan dia juga tanya aku pergi dengan siapa?"


Adam tetap kukuh.


"Papa hanya cukup jawaban itu, yang penting aku jujur." Laura sedikit ragu, takut Adam membentaknya.


Laura berbohong, Faishal dan Desi selalu mengomel kalau Laura tiba-tiba pergi dari rumah, tanpa pamit, dan kembali terlambat hampir larut malam.


"Kamu pikir aku percaya dengan kalimat itu?" Adam tertawa ringan. "Orang tua mana yang mengizinkan putrinya pergi malam-malam dengan riasan seperti itu?"


Adam menghela napas. "Pokoknya kamu tidak boleh pergi apapun alasannya, Laura."


"Aku tidak mengizinkan kamu pergi," imbuh Adam semakin tegas. "Kamu harus mengikuti kata-kataku dan lekas hapus make up kamu itu."


"Aku tidak mau!" Laura keras kepala. "Aku sudah janji sama teman-temanku untuk datang. Malam ini pesta ulang tahunnya."


"Kamu bisa pergi besok pagi. Ucapkan dan beri hadiah, itu cukup." Adam sedikit kesal. "Kenapa juga mengadakan pesta malam-malam?"


Laura terdiam tanpa bahasa. Pemikiran Adam benar-benar kuno. Dia tidak tahu apapun tentang tren anak muda zaman sekarang padahal usianya belum terlalu tua.


"Kamu bahkan meninggalkan waktu salat dan langsung pergi begitu saja tanpa berpamitan hanya untuk ini?" Adam berdecak. "Kamu keterlaluan, Laura."

__ADS_1


Laura tiba-tiba saja tertawa, padahal jelas-jelas tidak ada yang lucu di sini. "Pak Adam menyuruh aku untuk salat dan aku sudah melakukannya, apa lagi yang kurang?"


Adam berkacak pinggang. "Kamu tidak serius. Kamu menduakan ibadahmu!"


Laura ikut berkacak pinggang. "Lalu aku harus bagaimana?" Laura memprotesnya. "Semalaman penuh sampai pagi aku harus duduk di atas sajadah menyatukan tangan untuk berdoa?"


"Laura, kata-kata kamu tidak sopan." Adam berusaha lembut. "Kamu tidak boleh menghina ibadah begitu."


"Pak Adam yang memulainya!" Laura tak mau kalah. "Kenapa terus saja merasa kurang?"


Laura tiba-tiba merasakan kesal dalam hatinya. "Benar! Aku selalu meninggalkan salat dan aku tidak pernah dekat dengan Tuhanku, aku bersenang-senang di dunia ini menggunakan uang kedua orang tuaku."


"Memangnya kenapa jika kamu melakukan itu?" tanya Laura merentangkan tangan. "Kamu lebih suka perempuan yang duduk di dalam masjid seharian penuh sembari memegang tasbih di sela jari jemarinya?"


Adam tak menjawab. Dia hanya menatap Laura.


"Kalau begitu nikah saja sama Nurwa atau siapa pun namanya itu!" gerutu Laura. "Kalian sangat mirip."


"Laura." Adam berusaha menyela.


"Aku dengar dia mengajak kamu menikah. Kenapa tidak diterima?" Laura tertawa. "Kalian bisa menghabiskan waktu sepanjang hari duduk dan berdoa, tanpa melakukan apapun."


"Tuhan pasti membantu kalian bukan?" Laura mendekati Adam. "Kalian anak kesayangannya."


"Laura!" Adam membentak. "Kamu keterlaluan!"


"Aku tidak percaya Tuhan itu ada," ucap Laura tiba-tiba. Adam mengerutkan kening. Laura tersenyum picik. "Jika ada, kenapa Tuhan tidak membantuku kemarin?"


Adam mengulum ludah.


"Kenapa Tuhan diam saja saat aku sedang susah?" tanya Laura semakin intens.

__ADS_1


"Karena kamu tidak pernah meminta pada-Nya." Adam menjawab dengan tegas. "Kamu terlalu egois dan keras kepala."


Next.


__ADS_2