Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
79. Penyesalan Laura (2)


__ADS_3

Laura memandang Kirana tanpa jeda. Ditatapnya gadis itu dengan penuh curiga. Sepertinya dia melewatkan satu fakta besar tentang kejadian malam itu.


"Pak Adam sudah tahu," ucap Kirana sembari meletakkan gelas di atas meja. Lidahnya mengecap beberapa kali rasa manis dari kopi susu yang dia pesan. Senyum di atas bibirnya, menandakan kepuasan. Laura tidak salah tempat memilih cafe ini untuk nongkrong bersamanya.


"Katakan apa yang terjadi?" Laura enggan untuk berbasa-basi. Kedatangannya hanya berusaha untuk menuntaskan rasa penasarannya sendiri. "Bagaimana dia bisa tahu? Kamu memberitahu dia kan?"


Laura tertawa. "Kamu benar-benar orang yang munafik. Kamu sudah menerima bayarannya, tetapi kamu masih menghianati kita?"


Kirana tidak memperhatikan Laura berbicara. Dia sibuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Sekarang kamu mau minta uang lagi padaku, karena uang yang kemarin kurang?" tanya Laura. Senyum seringai tidak bisa membohongi kekesalan hatinya. "Jika aku tidak mau memberikan uang itu, kamu akan ...."


Kalimat Laura terhenti ketika Kirana tiba-tiba meletakkan segepok uang di atas meja. Laura memandang wajah gadis itu dengan saksama. Tidak ada yang berbicara dalam beberapa detik berjalan.


"Aku mau mengembalikan uangnya." Kirana memulai. "Itu inti dari pembicaraan kita.


Kirana tersenyum miring. "Aku hanya dibayar tiga juta untuk kebohongan itu, tetapi perasaan bersalah terus menghantuiku sepanjang tidurku."


Laura menghela napas. "Sekarang kamu bersikap seolah-olah kamu itu suci?"


"Kamu membutuhkan uang itu! Jadi berhenti untuk berpura-pura!" Laura sedikit geram. "Tidak ada yang menginginkan uang itu kembali, Kirana."


Kirana mendorong uang itu mendekati Laura. "Terserah kamu mau gunakan uang ini atau membuangnya di sampah, yang jelas aku sudah mengembalikannya."


Laura bisa mendapati keseriusan dari ekspresi wajah Kirana. Gadis ini punya tekad yang kuat.


"Aku bertemu dengan Pak Adam malam kemarin," ujar Kirana membuat pengakuan. "Ternyata aku salah menilainya."

__ADS_1


"Entah kamu yang terlalu menjelekkan dia dengan ceritamu, atau aku yang salah mengerti dan terburu-buru menyimpulkan," tambah Kirana. Gadis itu menyunggingkan senyum. "Pak Adam seperti malaikat."


Laura menoleh. Dia membuang pandangan mata, enggan berbicara lagi.


"Dia menolongku. Lalu dia berkata kalau dia tahu semuanya, aku tidak pernah memberitahu padanya." Kirana mengimbuhkan lagi.


Laura menatapnya. "Kamu dipaksa untuk melakukan ini sama Pak Adam?"


"Laura!" Kirana memberi penekanan. "Ada apa sama kamu? Sepertinya, memang ada yang salah dari diri kamu."


"Aku tidak melihat celah dan kejahatan yang dilakukan oleh Pak Adam," tutur Kirana dengan mantap. "Dia tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini."


"Dia adalah pria baik. Itu yang membuatku berpikiran untuk mengembalikan uang ini," imbuh Kirana lagi. "Aku tidak mau terus-menerus merasa bersalah."


Laura tidak memberikan jawaban. Dia terdiam di tempatnya. Kirana perlahan-lahan juga mulai menyadarkan dirinya.


Kirana berhasil memberi tamparan pada Laura.


"Sekarang pada akhirnya Daffa meninggalkan kamu?" Kirana tertawa. "Laura, kamu menyesalinya bukan?"


"Jangan sok tahu!" Laura tiba-tiba membentak marah. Sedangkan Kirana semakin menjadi-jadi dalam tawa.


Kirana memang tidak mengenal Laura secara pribadi, jujur saja dia lebih dekat dengan Daffa. Namun, melihat raut wajah Laura saat ini, Kirana meyakini perasaannya. Dia menyesali perbuatannya.


"Kamu sudah selesai dengan kalimatmu?" tanya Laura dengan tegas. "Jika sudah aku akan ...."


"Pak Adam akan menikah?" tanya Kirana tiba-tiba. Kalimatnya membuat Laura berhenti di tempatnya. Dia tidak jadi meninggalkan Kirana.

__ADS_1


Kirana tersenyum tipis. "Aku melihatnya bersama perempuan sebelum datang menemui kamu," ucap Kirana lagi. Dia mengimbuhkan. "Katanya mereka merencanakan pernikahan."


Nurwa. Nama itulah yang terbesit di dalam benak Laura. Memangnya siapa lagi yang tiba-tiba bisa mengambil alih posisinya?


"Sepertinya kamu kecewa, Ra?" Kirana tertawa lagi. "Sayangnya kamu tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula, meskipun kamu berusaha."


Kirana mengemasi barang-barangnya. Dia harus segera kembali ke rumah bosnya. Kirana hanya pergi sebentar untuk membeli kue.


"Saranku, kesempatan terakhirmu ada sebelum janur kuning melengkung ...." Kirana berbicara lagi. Belum puas memojokkan Laura. "Ambil Pak Adam lagi, daripada menyesalinya."


Laura mendongak. Ditatapnya Kirana. "Aku tidak peduli dia mau menikah dengan siapa. Itu bukan urusanku lagi."


"Berhentilah membohongi diri sendiri, Ra," ujar Kirana. "Matamu mengatakan hal sebaliknya. Kamu merindukan dia."


Kirana berlalu pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia meninggalkan Laura yang terdiam, memandangi segepok uang di atas meja.


"Benarkah Pak Adam akan menikah dengan Nurwa?" gumam Laura dalam pertanyaannya.


Laura memandang jalanan. Gerimis turun tak terduga. "Secepat itukah dia melupakan aku?"


"Dia bahkan tidak pernah menemui aku lagi, ternyata karena mau menikah dengan Nurwa?" Laura mendesah panjang. Dia menggelengkan kepalanya. "Ada apa denganku sekarang? Seharusnya aku tidak peduli."


Next.


Note : Karya ini seru banget!


__ADS_1


__ADS_2