
Semalaman penuh Laura menunggu kabar dari Adam, tetapi lelaki itu tidak mengabarinya. Kecemasan mulai menggebu ketika fajar datang. Laura mengecek ponselnya, tetapi tidak ada notifikasi dari Adam sesuai harapannya.
"Dia melupakan janjinya," gerutu Laura. Dia melempar kantong kresek besar berisi sampah masuk ke dalam tongnya. "Seharusnya aku tidak menunggu janji pria seperti dia, akhirnya aku yang kesal sendiri."
Laura hendak beranjak dari tempatnya, dia akan masuk ke dalam rumah. Minggunya tidak seindah biasanya, awalnya Laura menunggu kedatangan Adam. Sayang sekali, lelaki itu hilang kabar. Laura terlalu gengsi untuk mengabari dulu.
"Laura?"
Seperti memang jodoh ada di tangan Tuhan, sekarang berdiri di depan Laura. Adam yang diharap-harapkan akhirnya menampakan batang hidungnya.
Laura tersenyum sumringah. "Pak Adam kenapa tidak mengabariku kemarin malam?" Gadis itu menggerutu pelan dalam pertanyaannya.
"Aku menunggu kabar dari Pak Adam," ucap Laura. Dia menunggu Adam mendekatinya. "Semuanya baik-baik saja bukan?"
Adam berdiri di depan Laura, memandang gadis itu dengan cara yang tak biasa. Dari raut wajahnya, ekspresi aneh ditemukan Laura pagi ini.
"Tidak baik-baik saja?" Gadis itu menggelengkan kepalanya, coba menyimpulkan. "Kenapa ekspresi wajah Pak Adam begitu?"
Adam tidak menunjukkan kesenangan. Dia menyembunyikan permasalahan dari caranya memandang Laura.
"Aku datang untuk mengambil ikat pinggangku," kata Adam. Jelas-jelas dia mengabaikan pertanyaan Laura. "Juga penaku. Kemarin aku mengantunginya. Mungkin jatuh saat aku melepas pakaianku."
Laura menganggukkan kepalanya. Saat membersihkan kamarnya tadi, dia menemukan dua benda yang disebutkan Adam.
"Aku membereskannya," jawab Laura. "Mau aku ambilkan?" tanyanya.
Adam manggut-manggut. "Aku tunggu di sini."
Jawaban lelaki itu terdengar begitu tak acuh. Caranya berbicara sedikit ketus pada Laura, tidak sehangat malam kemarin.
"Hm. Akan aku ambilkan," ucap Laura manggut-manggut ragu. Sebenarnya dia ingin bertanya alasan Adam bersikap begini, tetapi Laura terlalu takut untuk menanyakannya.
__ADS_1
Laura masuk ke dalam rumah, Adam mencari tempat duduk untuk menunggu. Dia benar-benar enggan masuk ke dalam rumah Laura.
Menunggu tak cukup lama, Laura keluar membawa barang-barangnya.
"Ada yang tertinggal lagi?" tanya Laura. Dia juga merasa aneh dengan sikap Adam pagi. "Kalau ada ...."
"Aku pulang dulu." Kalimat pendek itu yang ada ucapkan ketika berhasil mendapatkan barang-barang yang kembali. "Terimakasih, Laura."
Adam hendak pergi dari hadapan Laura, tetapi gadis itu mencegahnya. Keduanya saling pandang satu sama lain, berkali-kali Laura menemukan keanehan dari sikap Adam pagi ini lewat caranya menatap.
"Pak Adam ini kenapa?" tanyanya lagi. Laura menggeleng dengan cepat. "Aku tidak salah apapun, bukan?"
Perlahan-lahan Adam melepaskan genggaman tangan Laura. "Maafkan aku, Laura. Aku yang salah."
"Kenapa minta maaf?" Laura mengerutkan keningnya, tidak mengerti. "Pak Adam tidak salah apa-apa. Kenapa harus meminta maaf?" ulangnya.
Adam menghela napas. Dia membenahi caranya berdiri, memandang Laura dengan benar agar pembicaraan mereka lebih nyaman.
"Aku tidak seharusnya melakukan itu padamu kemarin malam." Adam berbicara sedikit ragu. "Itu kesalahanku."
"Laura, dengarkan aku baik-baik." Adam menatapnya dengan intens. "Mari akhiri ini."
Hati Laura seperti dihantam batu besar. Tidak ada angin tidak ada hujan, begini rasanya cinta satu malam.
"Pak Adam ...."
"Aku yang salah. Aku yang telah menodai kamu tanpa adanya pernikahan," ucap Adam lagi. "Aku tahu, minta maaf dengan cara apapun tidak akan mengembalikan semuanya lagi."
Laura terus menggelengkan kepalanya, sekali matanya mengerjap untuk menghindari air mata jatuh begitu saja. Mendengar kata-kata Adam, hatinya benar-benar terluka.
"Pak Adam ini kenapa?" Laura meraih tangan Adam. "Kita berpisah baik-baik saja kemarin, aku juga tidak melakukan kesalahan apapun."
__ADS_1
Adam manggut-manggut. "Aku yang salah, Ra. Aku yang bajingan."
"Pak Adam!" Laura merengek.
"Mari kita akhir ini," ucap Adam. Sekali lagi, dia melepaskan genggaman tangan Laura. "Mari untuk tidak saling bertemu dulu, sama-sama memperbaiki diri dengan cara masing-masing."
Laura tidak kuasa menahan air matanya. Ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Dia sudah berharap banyak meskipun hanya dalam satu malam.
Laura menggelengkan kepalanya, dia mengerutkan dahi. "Ini semua karena Nurwa?" tanyanya. "Apa yang sebenarnya terjadi kemarin? Kenapa Pak Adam tiba-tiba datang dan berubah seperti ini?"
"Tidak ada yang terjadi, Laura." Adam terus berdusta. "Ini memang kesalahan."
Laura mengusap air matanya. Dia berusaha keras kepala. "Jadi ... maksud Pak Adam apa yang kita lakukan semalam itu adalah kesalahan?"
Adam menganggukkan kepalanya.
"Pak Adam menyesalinya?" tanya Laura lagi. "Pak Adam menyesal sudah tidur denganku?"
Adam manggut-manggut lagi. Dia menunduk. "Maafkan aku, Laura."
Laura menyelami kesedihan. Air matanya menetes semakin deras. Dia mengumpulkan kebencian untuk Adam kali ini. Hatinya benar-benar terluka, tak terkira.
"Bajingan," gumam Laura di tengah tetesan air matanya.
"Benar, aku bajingan." Adam mengakuinya. "Maafkan aku, Laura. Aku salah."
Laura memukul dada bidang Adam, mendorong tubuhnya menjauh. "Pergi dari sini! Aku nggak mau lihat Pak Adam lagi!" Dia terus merengek. "Aku nggak mau bertemu Pak Adam lagi!"
Adam hanya bisa mengikutinya. Dia tidak memberi perlawanan apapun. Lelaki itu pergi setelah melihat Laura berjongkok sembari menyembunyikan wajahnya karena isak tangisnya.
"Bajingan!" teriak Laura lagi. "Pak Adam sialan!"
__ADS_1
Adam mendengarnya. Umpatan Laura terdengar begitu menyakitkan untuk hatinya. Namun, dia bisa apa? Ini adalah keputusan yang tepat sampai Adam bisa menata hidupnya lagi. Laura tidak boleh terlibat apapun tentang kesalahannya bersama Nurwa.
Next.