
"Meskipun besok tidak sekolah, kamu jangan begadang. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."
Diperhatikan seperti ini, membuat Laura tersipu malu. Untung saja Adam tidak langsung berbicara di depannya, jika tidak dia pasti akan tertangkap basah.
Sebenarnya Laura sedikit kecewa, Adam tidak jadi mampir malam ini. Setelah mengantarkan Laura pulang, dia pamit untuk kembali ke rumah. Katanya ada yang ingin dikerjakan, dia harus lembur malam ini.
"Pak Adam juga," jawab Laura dari seberang ponsel. Mereka berdua mirip anak remaja yang sedang jatuh cinta. "Walaupun kerjaannya untuk besok, Pak Adam tidak boleh lembur sampai malam."
Adam mengeram ringan. "Tentu. Aku akan segera tidur."
Ternyata mengakui perasaannya, tidak seburuk yang Laura pikir. Pada akhirnya, dia menemukan kebahagiaannya. Laura menemukan apa yang dia mau.
Suara ketukan pintu, tiba-tiba memotong pembicaraan mereka. Laura beranjak dari tempat tidurnya, melihat siapa yang datang.
"Daffa?" Dia bergumam ketika sosok mantan kekasihnya ada di depan pintu.
"Dafa datang ke rumah kamu?" Adam menyahut dari seberang ponsel. "Ngapain dia malam-malam datang ke rumah kamu, Ra?"
"Aku juga tidak tahu," jawab Laura. "Aku temui dia dulu."
"Biakan saja!" Adam tiba-tiba meninggikan suaranya. "Kalau kamu tidak menjawab, dia pasti sudah mengira kalau kamu tidur. Tidak perlu datang menyambutnya."
Laura berjalan keluar kamar sembari tertawa. Terasa begitu lucu, menggelitik perutnya ketika Adam memberikan perhatian padanya.
__ADS_1
"Pak Adam cemburu?" goda Laura. "Aku hanya akan berbicara sebentar lalu mengusirnya pergi. Tidak perlu khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir!" Adam menggerutu. "Mantan kekasih kamu itu bukan manusia biasa! Dia itu iblis!"
Meskipun mengetahui Adam begitu kesal, tetapi Laura menganggapnya begitu lucu. Dia memang pernah mendapatkan perhatian dari Daffa di masa lalu, tetapi rasanya berbeda ketika itu adalah Adam.
"Tenan saja. Aku bisa ... argh!" Laura merintis kesakitan ketika ujung jari jemari kakinya tidak sengaja menyandung kaki meja di sampingnya. Ponselnya terlempar jatuh dari genggaman tangannya.
Mendengar suara Laura merintih dan hantaman benda tumpul, Adam tentu saja panik karenanya. Meskipun terasa begitu sakit, tetapi Laura tetap berusaha untuk mengambil kembali ponselnya yang masuk di kolong meja. Suara Adam terdengar samar memanggil-manggil namanya, untuk memastikan kalau Laura baik-baik saja.
"Argh, sialan," gumam Laura.
"Laura? Kamu tidak papa?" Suara Adam semakin panik. "Katakan, Daffa tidak menyentuh kamu 'kan?"
Laura tentu saja tidak bisa langsung menjawabnya, dia terus berusaha meraih ponselnya. Hingga dirinya bisa mengambil ponsel itu kembali, tetapi di saat yang bersamaan ponselnya tiba-tiba mati.
"Laura! Aku tahu kalau kamu belum tidur!" Di sisi lain suara Daffa memaksa Laura untuk segera meladeni kedatangannya. Mau tidak mau Laura mengabaikan sejenak ponselnya yang mati.
Laura membuka pintunya.
"Kamu ngapain malam-malam datang ke sini?" tanya Laura. Dia menatap masuk ke dalam ruangan, jam dinding adalah fokus pandangan matanya. "Ini bukan jam untuk bertamu."
Laura memandang status ke arah Daffa yang tiba-tiba meraih tangannya.
__ADS_1
"Aku kangen banget sama kamu!" Daffa mendesak dengan suaranya. "Aku mohon sama kamu, Ra. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi."
Laura langsung melepaskan genggaman tangannya. Dia mengalihkan pandangan mata. Daffa adalah cinta pertamanya, tidak bisa dipungkiri kalau lelaki ini punya tempat tersendiri di dalam hati Laura.
"Masa bodoh!" jawab Laura ketus. "Sekarang ini aku sudah mencintai orang lain. Aku tidak mau kembali sama kamu lagi."
"Aku tahu kalau aku bersalah." Daffa terus membujuk Laura. "Aku tahu kalau aku yang tiba-tiba pergi meninggalkan kamu, menyia-nyiakan perasaan kamu."
Daffa semakin erat menggenggam tangan Laura, meskipun gadis itu berusaha untuk melepaskannya. "Aku ingin kita bersama lagi, Ra. Aku janji aku akan mengubah sikapku."
Laura hendak memberi jawaban, tetapi Daffa kembali berbicara. "Aku akan membahagiakan kamu. Aku tidak akan mengecewakan kamu."
Laura tertawa mendengar bualan itu. Dia mendorong tubuh Daffa menjauh darinya. "Sudah aku bilang kalau aku mencintai orang lain!" Dia berbicara dengan ketus. "Kamu masih tidak mengerti juga apa artinya?"
"Sudah tidak ada tempat untuk kamu lagi di hatiku, Daffa!" tandas Laura. "Jadi, lebih baik kamu pergi dari sini. Aku mau istirahat!"
Laura hendak menutup pintu, tetapi Daffa mencegahnya. Dia menarik tubuh Laura untuk keluar dari rumah.
"Daffa! Lepaskan!" Laura meronta-ronta.
"Kita belum selesai berbicara! Kenapa kamu mau pergi gitu aja!" ketus Daffa lagi. Dia terus menarik Laura akan ikut dengannya.
"Tanganku sakit!" Laura merengek kemudian. "Lepaskan!"
__ADS_1
"Daffa!" Adam tiba-tiba berteriak. Entah muncul dari mana, lelaki itu berlari mendekati Daffa dan Laura. Tanpa basa-basi, Adam menarik tubuh Daffa dan menonjoknya. "Bajingan!"
Next.