Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
96. Rasa Sakit


__ADS_3

Hujan lagi. Jakarta kembali membuat malam yang basah. Kali ini Laura belajar dari pengalaman yang dia dapatkan kemarin. Dia selalu menyimpan payung di dalam tasnya. Payung milik Adam. Entah bagaimana, tetapi Laura menemukan payung ini di dalam kopernya setelah bercerai dari Adam.


Laura berjalan menerjang hujan dengan payung itu. Hawa dingin yang menggigit. Hujan lebat disertai angin berembus cukup kencang. Sesekali petir menyambar dengan ringan. Cuaca sedang buruk-buruknya sore ini.


Sebenarnya Laura takut dengan keadaan hujan yang begini. Dia tidak pernah berada di luar ruangan jika hujan badai datang. Namun, keadaan benar-benar mengubah Laura.


Sesekali cipratan air dari genangan-genangan di bahu jalan menyembur ke arahnya jika mobil atau kendaraan lain melintas di tepinya.


"Sialan!" gerutu Laura. Hanya itu yang bisa dia lakukan. "Nggak lihat ada orang jalan di sini!" Di berteriak. "Aku sumpahin kamu kesambar petir!"


"Berapa kali aku bilang, jaga kalimatmu." Adam sepertinya dukun sekarang. Dia ada di mana-mana, bahkan tahu posisi Laura meskipun gadis itu hanya memikirkannya saja.


"Pak Adam?" Laura mendongak. Adam cukup tinggi jika dilihat dari dekat. "Benar ini Pak Adam."


Adam tertawa kecil. Dua payung membatasi pandangan mereka.


"Memangnya siapa kalau bukan aku?" tanyanya. Dia kembali berjalan, Laura mengikuti langkahnya.


"Kenapa Pak Adam bisa sampai di sini?" tanyanya. Dia celingukan ke sana kemari. "Menemui seseorang?"


Adam tak menjawab. Senyum tipis seakan mewakilinya. Seperti takdir memang memihak pada mereka. Adam pulang bersama dengan waktu Laura selesai kerja paruh waktu.


"Aku baru pulang kerja," jawab Adam pada akhirnya. "Kebetulan aku dari toko kue yang di sana." Dia memutar tubuhnya serong, menunjuk toko kue besar.


Laura manggut-manggut. "Buat Bu Wanda?" tanyanya menebak asal. "Rinjani?"


Adam tetap diam.


"Ah, Nurwa?" Laura langsung menyeringai tipis. "Suruh dia beli sendiri. Kenapa harus menurut kata-katanya."


Adam memandang Laura. Dia bisa membaca kecemburuan yang sengaja disembunyikan. Laura punya gengsi yang tinggi. Lama kelamaan, Adam benar-benar mengenalnya.

__ADS_1


"Kamu masih pakai payung ini?" Adam mengubah topik pembicaraan. "Katanya payungnya jelek." Dia tertawa.


Laura tersipu. Dia hampir lupa dengan penghinaan itu dulu.


"Ketimbang beli payung baru," gumamnya. "Aku harus mulai berhemat," imbuh Laura.


Adam manggut-manggut. Tiba-tiba dia mengusap puncak kepala Laura. "Anak pandai. Kamu cepat sekali beradaptasi," kekehnya.


Laura membeku. Bukan karena dingin yang menggigit, tetapi perilaku Adam meluluhlantakkan dirinya. Laura tidak merasa seperti ini sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, Nurwa marah karena Pak Adam melupakan janji kalian?" tanya Laura. Dia berusaha melupakan rasa canggungnya.


"Begitulah." Adam pasrah menjelaskan. "Dia berusaha menyembunyikannya."


"Memangnya apa janji kalian?" Laura mendongak. Keduanya bertukar pandang dalam sekilas. "Segitu pentingnya?"


"Dia ingin menemui penjahit untuk baju lamaran kita dua minggu lagi," jawab Adam seadanya. "Aku membuatnya kecewa."


Adam bukan laki-laki bodoh. Dia memahami sikap Laura yang begini. Namun, Adam tidak mau memberi harapan lewat kata-katanya. Lebih baik dia berpura-pura tak tahu apapun.


"Laura," panggil Adam. Dia menatapnya. "Boleh aku minta tolong?"


Laura manggut-manggut. "Katakan saja. Kalau aku bisa ...."


"Jangan pergi ke diskotek lagi," ucap Adam. "Jangan berteman dengan Agnes lagi dan jangan sampai diantarkan pulang sama laki-laki asing."


Laura menghentikan langkah kakinya. Dia menatap Adam. Mendongakkan kepalanya. "Ah, Bima?"


"Dia bukan orang asing. Dia temanku," jawab Laura berbohong. "Agnes mengenalnya dan kita saling kenal satu sama lain."


"Jangan membohongiku, Laura," jawab Adam. "Kalian pasti baru bertemu semalam."

__ADS_1


Laura kalah tanpa perdebatan. Laura tipe gadis yang tidak sadar apa yang dia lakukan dalam keadaan mabuk.


"Aku nggak bisa berhenti berteman dengan Agnes," ucap Laura. Dia melanjutkan langkah kakinya. "Kamu sudah berteman lama. Agnes banyak membantuku."


"Aku hdup sendiri. Saudaraku ada di tempat jauh," ucap Laura lagi. "Aku butuh tempat untuk menghibur diri, Pak Adam."


Adam memahami kesendirian Laura.


"Pak Adam masih punya Bu Wanda, Rinjani, dan Nurwa," katanya dengan ketus. "Aku tidak punya siapa pun di Jakarta."


Adam menarik tangan Laura. Mereka kembali berhenti dan memandang satu sama lain.


"Intinya ... aku tidak bisa berhenti pergi ke diskotek itu," gumam Laura menutup kalimatnya. "Maafkan aku, Pak Adam."


"Aku khawatir padamu, Laura." Adam semakin tegas. "Aku hanya takut ... kamu kenapa-kenapa."


Laura malah tertawa. "Seperti hamil di luar nikah lagi?" tanyanya. "Tidak akan!" Laura melepas genggaman tangan Adam. Dia tertawa.


Laura meninggalkan Adam di tempatnya. Dia meneruskan langkah kakinya kemudian.


"Aku tidak bisa melakukan ini lagi, Laura!" Adam berteriak di tempatnya.


Laura berhenti. Ketika Adam menyusulnya, dia menoleh. Keduanya saling memandang dalam jarak yang cukup.


"Melarangmu, mengkhawatirkan dirimu, atau menjengukmu." Adam memulai. Dia melangkah lagi. "Aku tidak akan bisa memikirkan kamu dan mendatangi kamu tiba-tiba seperti ini lagi!"


Laura mengerutkan kening.


"Aku tidak akan pernah bisa melakukan itu semua jika aku sudah menikahi Nurwa!" imbuh Adam lebih tegas. "Aku tidak akan bisa berjalan mendatangimu lagi," lirihnya.


Laura perlahan-lahan tersenyum kecut. Benar. Jika Adam menikah dengan Nurwa, dia pasti akan kehilangan sosok Adam. Rasa sepi dalam hatinya pasti menggebu-gebu.

__ADS_1


Next.


__ADS_2