
Rumah sakit, Jakarta
"Bah, Mas Adam datang." Nurwa membisikan kalimat itu di telinga abahnya.
"Katanya kemarin, Abah pengen ketemu Mas Adam." Nurwa menambah lagi. Dia melirik Adam yang berdiri di depannya. "Sekarang Mas Adam sudah di sini."
Perlahan-lahan sepasang mata tua itu membuka. Di bawah alat bantu pernafasan, bibirnya bergerak samar. Seakan berusaha menyapa kedatangan Adam.
"Abah tidak bisa banyak bicara, Mas," ucap Nurwa. "Tapi dia senang melihat Mas Adam di sini." Nurwa menebaknya. Tak asal, setidaknya lengkung bibir di atas bibir pucat ayahnya itu berkata demikian.
Adam manggut-manggut. Membungkuk, mendekatkan bibirnya di telinga abah. "Bah, Adam datang," bisiknya lembut. "Maaf, kemarin-kemarin Adam sedang sibuk."
"Kapan ...." Suara lirih pria tua itu terdengar. Adam mengerti, lantas langsung mendekatkan telinganya di samping alat bantu pernafasannya. "Kamu ... akan ... menikahi ...."
Adam tahu apa yang dikatakannya, meskipun pria tua itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Hanya berbicara beberapa kata, napasnya sudah tidak bisa diatur.
Adam menatap Nurwa. Wanita berhijab itu pasrah tanpa perlawanan.
"Sesegara mungkin, Bah," jawab Adam. Dia tersenyum. "Aku akan segera menikahi Nurwa."
Adam sudah mempersiapkan kemungkinan seperti ini. Dia tidak bisa menolak, bahwa pria tua ini akan terus mendesaknya.
"Abah harus semangat untuk sembuh, supaya bisa menghadiri pernikahan kita." Adam menggenggam tangannya yang dingin. "Abah juga harus menggendong cucu Abah nanti."
Adam memang punya seninya tersendiri untuk menenangkan abahnya. Bisa dikatakan pria tua ini lebih mengutamakan Adam ketimbang Nurwa.
>>>><<<<
Nurwa mengajak Adam keluar dari ruangan. Tujuan Adam datang malam ini hanya untuk melegakan hati abahnya.
"Maafin aku, Mas," ucap Nurwa setelah menutup pintu. Dia tidak berani bilang apapun di depan abahnya.
"Sampai sekarang aku tidak berani bilang kalau Mas Adam sudah menikah, bahkan sampai Mas Adam bercerai pun." Nurwa menundukkan pandangan. "Abah hanya tahu Mas Adam mencintai Nurwa."
Adam mengusap pundak Nurwa. "Tidak masalah, Nur."
__ADS_1
"Mas Adam tidak perlu memikirkan apa kata abah, aku sekarang mengerti keadaannya." Nurwa memandang Adam dengan sendu. "Aku tidak akan memaksa Mas Adam menikahiku secepatnya."
Adam menghela napas. Dia bimbang, terutama sejak dia mendapatkan banyak kesempatan untuk menikahi Nurwa. Tidak ada alasan karena Laura menceraikannya.
"Aku berselingkuh, Nur." Adam tiba-tiba mengaku. Nurwa sedikit terkejut, sebelum akhirnya bisa mengembalikan raut wajahnya lagi.
"Itu alasan Laura menceraikan aku," ucap Adam yakin. "Tante Danira juga membenciku karena perceraian itu. Aku sama sekali tidak berhubungan dengan mereka lagi."
Nurwa mengerutkan keningnya. "Kenapa Mas Adam tiba-tiba bilang begini?" tanya Nurwa. "Aku tidak paham."
"Kamu harus tahu alasan aku bercerai. Alasannya adalah perselingkuhan," jawab Adam. "Katanya kalau laki-laki yang sudah berselingkuh, pasti akan mengulang perselingkuhannya lagi."
Nurwa tersenyum. "Entah kenapa, aku tidak percaya kalau Mas Adam selingkuh."
"Jika pun memang Mas Adam benar selingkuh, aku ingin tahu apa alasannya," ucap Nurwa. "Mas Adam tidak puas dengan Laura?"
Adam tidak memberi jawaban. Dia pun tak tahu, tidak ada yang pernah memberinya kesempatan untuk mengatakan hal itu.
"Mas Adam saja tidak bisa menjawabnya. Bagaimana bisa aku percaya Mas Adam selingkuh?" kekeh Nurwa pelan. "Aku tidak percaya. Aku mengenal Mas Adam dengan baik."
Adam mengulum ludah. Sebenarnya Adam tidak punya alasan untuk menolak Nurwa. Dia wanita yang sempurna.
Adam tersenyum kecut. "Menungguku?"
Nurwa manggut-manggut. "Kapan pun. Aku harap Mas Adam bisa memberi jawaban pastinya."
Adam menghela napas kasar. "Aku seorang duda, Nur." Adam menandaskan. "Kamu mau menikahi duda sepertiku?"
"Aku tidak punya pekerjaan yang gajinya besar. Aku tidak punya harta yang melimpah." Adam menatap Nurwa lagi. "Aku berbeda dengan Tuan Darya."
Nurwa tersenyum manis. "Aku akan menunggu Mas Adam," jawabnya. "Itu jawaban dari pertanyaanmu tadi, Mas."
"Insyaallah, aku yakin sama Mas Adam." Nurwa menutup kalimatnya. "Aku akan menerima semua masa lalu Mas Adam. Aku tidak peduli Mas Adam mau bekas suami orang sekali pun."
Nurwa memandang Adam yakin. "Aku harap Mas Adam mau mempertimbangkan ini."
__ADS_1
>>>><<<<
Adam berjalan gontai. Semangatnya menguap seiring berjalannya waktu. Jakarta memang padat malam ini, anehnya dia merasa sepi.
Nurwa memenuhi pikirannya, begitu juga dengan Laura. Adam dilanda kebimbangan yang luar biasa.
"Haruskah aku menikah dengan Nurwa?" Adam mendesah panjang. "Gimana sama omongan orang-orang nanti?"
"Balikin uang aku!" Teriakan seorang gadis menarik fokus Adam. Pria itu menoleh, mengarah sumber suara.
Nampak seorang gadis meronta, minta sesuatu dikembalikan padanya. Sedangkan pria tua di depannya hanya tertawa, jelas-jelas meremehkannya.
"Aku bilang balikin!" Dia menarik bajunya. Sayangnya, karena tubuh gadis itu jauh lebih kecil dari pria jangkung di depannya, dia jatuh dalam sekali dorong saja.
Lalu lalang orang di sekitarnya hanya memandang, tidak ada yang berani ikut campur. Penampilan pria jangkung itu mirip seperti preman yang sedang mengintimidasi gadis tak bersalah.
Adam mendekatinya. "Pak!" teriak Adam. Dia berhasil menghentikan pria tua itu. Keduanya menoleh pada Adam.
"Dia meminta uangnya dikembalikan," ucap Adam. "Kenapa tidak dikembalikan?" Adam terus mendekatinya.
Gadis berambut pirang itu menoleh padanya. Adam langsung mengenali wajahnya begitu tatapan mereka bertemu. Dia sangat familiar untuk Adam.
"Kamu?" Adam menunjuk gadis itu. "Kamu gadis yang di hotel itu kan?" Adam berusaha memastikan. Namun, gadis itu langsung menoleh dan memunggunginya.
Adam hendak meraih pundaknya, tetapi pria jangkung itu menahan Adam. "Kamu kenal Kirana?"
"Namanya Kirana?" Adam menyahut. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku baru tahu namanya."
"Jangan alasan, cepat bayar hutang dia." Pria tua memerintahkan. "Satu juta. Dia baru bayar tiga ratus ribu."
Adam mengerutkan kening. "Kenapa minta sama aku?" ketusnya. "Minta sama dia."
"Kamu pacarnya pasti!" Pria itu ngotot. "Dia suka memacari pria dewasa dan memoroti uangnya, jadi kamu pasti salah satunya!"
Adam mengerutkan kening. "Benarkah begitu?" tanyanya. Mencoba menarik tubuh Kirana. Sayang sekali, gadis itu memberontak. Tiba-tiba mendorong tubuh Adam dan lari tunggang langgang begitu saja.
__ADS_1
"Hei!" Adam berteriak.
Next.