
Adam berhenti ketika dia melihat Laura di halaman rumahnya. Gadis itu berjongkok, memunggungi kehadirannya.
Adam berjalan hati-hati. Berusaha tidak menimbulkan suara yang berarti, atau mungkin Laura akan pergi begitu saja. Adam pasti kehilangan waktu untuk berbicara dengannya.
"Kenapa bisa mati?" gumam Laura. Semakin dekat, Adam bisa mendengar apa pun yang dikatakan oleh Laura.
"Mungkin aku salah beli pupuk?" Laura kembali meneruskan kalimatnya. "Padahal kemarin bunganya masih mekar."
Adam bisa melihat Laura sedang berkebun malam ini. Perlahan-lahan senyum mengembang di atas bibirnya. Mungkin ini bagian dari ngidam aneh seorang ibu hamil.
Tanpa bicara apapun, Adam tiba-tiba mengulurkan vitamin yang dibeli oleh Belen tadi. Tentu saja aksinya membuat Laura terkejut. Gadis itu menoleh, tetapi tanpa mau melihat siapa yang mengulurkan vitamin padanya. Belen sudah berjanji akan membelikan Vitamin untuknya dan datang malam ini. Jadi, Laura mengira itu adalah Belen.
"Kenapa lama sekali?" tanya Laura. "Tadi kamu bilang mau datang pukul tujuh."
Laura kembali menatap bunga yang sudah layu di depannya. "Belen, bunganya mati," ucap Laura. "Padahal aku pengen banget lihat bunganya mekar besok pagi."
Tidak ada jawaban.
"Anakku bisa ngiler karena enggak keturutan," ucap Laura sembari mendesah panjang. Dia kecewa, tetapi mau bagaimana lagi? Laura tidak bisa menghidupkan apa yang memang ditakdirkan mati.
"Di belakang rumah kita yang lama banyak bunga itu," ucap Adam menjawab dengan suara lembut. "Kamu mau lihat bersama aku besok?"
"Mana mungkin? Terakhir kali aku datang ...." Belum selesai menjawab, Laura tersadar bahwa yang berbicara dengannya adalah Adam.
Laura langsung mendongak. Dia terkejut akan kehadiran Adam yang tiba-tiba. Lebih mengejutkannya lagi, Adam yang membawakan vitamin untuknya.
"Ah, Belen sialan," batin Laura menggerutu. "Kenapa bisa Pak Adam yang di sini?" Laura mengulum ludahnya.
Adam berjongkok di depan Laura, menyamakan tinggi dengannya. "Kamu gadis kedua yang terkejut hanya karena melihatku malam ini, Ra."
__ADS_1
"Aku semenakutkan itu?" kekeh Adam. "Aku kira aku tampan, ternyata tidak." Adam mengulurkan tangan, membantu Laura untuk berdiri bersamanya. "Kita masuk, sudah malam. Udaranya dingin."
Laura menyingkirkan tangan Adam dari hadapannya. Dia bangun sendiri, tak mau menerima bantuan Adam.
Adam memahami kemarahan Laura. Wajar jika Laura membencinya sekarang. Adam tidak bisa menyalahkan Laura. Sepenuhnya, dosa ada di tangan Adam.
"Ngapain Pak Adam ke sini?" tanya Laura dengan ketus. Dia hanya berani meliriknya, tak berani menatap Adam meskipun pria itu berdiri di depan Laura.
Jujur saja, Adam tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi, seperti orang bodoh, Adam hanya mengulurkan vitamin itu pada Laura.
Laura menatap uluran tangan Adam. Dia ingin menyanggah, bahwa dia tidak butuh itu. Namun, Laura yakin, Belen membongkar semuanya.
"Kenapa itu bisa ada pada Pak Adam?" tanya Laura lagi. "Di mana Belen?" Laura tak bisa berhenti berbicara dengan ketus.
Meksipun Laura merindukan Adam, tetapi dia tidak mau jatuh begitu saja pada lelaki brengsek ini. Adam dengan gamblang mengatakan jika hubungannya dengan Laura adalah kesalahan.
Laura membelalakkan matanya. "Jangan ngawur!" Dia panik tiba-tiba. "Bagaimana bisa Pak Adam membunuh dia hanya karena dia membantuku beli vitamin untuk kandunganku?"
Adam tersenyum. "Jadi kamu benar-benar hamil anakku?"
Sialnya, Laura masuk perangkapnya.
"Laura ...."
"Aku bisa membesarkan anakku sendiri." Laura memotong kalimat Adam. "Aku tidak akan menggugurkannya dan mengulangi kesalahanku yang dulu."
Laura berkacak pinggang di depan Adam. "Lagian, suruh siapa Pak Adam datang? Belen memaksa?" Dia tertawa gila. "Tidak perlu mengasihani aku! Aku bisa hidup sendiri!"
"Laura, kita harus bicarakan ini baik-baik." Adam mencoba membujuk. "Aku tahu kalau kamu ...."
__ADS_1
"Hubungan kita adalah salah paham." Laura menggali rasa sakitnya. "Pak Adam sendiri yang bilang kalau malam itu adalah kesalahan Pak Adam dan seharusnya tidak terjadi, bukan?"
Adam menyesalinya, sungguh. Ini puncak penyesalan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Itu artinya anaknya juga kesalahan untuk Pak Adam." Laura menyeringai tajam. "Jadi, aku tidak akan memohon pada Pak Adam untuk bertanggung jawab jika memang ini adalah kesalahan."
Adam ingin menyanggah semuanya, tetapi dia hanya cukup mendengarkan semua kekesalan hati Laura.
Laura mendesah panjang. "Lebih baik Pak Adam pergi dari sini. Aku juga mau istirahat," ucap Laura. Dia hendak berpaling dari Adam. Namun, lelaki itu mencegahnya.
Adam menarik tangan Laura yang sempat meronta. Lelaki itu memberikan vitamin yang seharusnya sudah diterima Laura sejak tadi.
"Minum ini," ucap Adam dengan lembut. Pandangan matanya penuh kesedihan. "Tenaga saja, bukan aku yang membelikan. Belen yang membayarnya, aku hanya membantu mengantarkannya ke sini."
Laura hanya memandang genggaman tangannya sendiri. Sejak dulu, Adam memang tidak pernah melawannya ketika sedang marah. Lelaki ini selalu saja mengalah, mencari waktu yang tepat untuk meruntuhkan keras kepalanya Laura.
"Jangan begadang, Ra." Adam tersenyum padanya. "Ujian kamu sudah selesai. Kamu hanya tinggal menunggu hasilnya, jadi kamu harus beristirahat lebih banyak."
"Berhenti berpura-pura peduli padaku!" Laura tetap keras. "Aku tidak butuh kepedulian itu."
Laura mendorong tubuh Adam dari hadapannya. Tidak ingin terlibat pembicaraan lebih dalam, Laura berpaling. Adam hanya bisa memandang punggung Laura yang menjauh.
"Jangan lupa minum susu sebelum tidur!" Adam menegaskan. Dia melihat Laura berhenti sebelum masuk ke dalam rumah. Lelaki itu hampir mendekatinya, berpikir kalau Laura mungkin saja berubah pikiran secepat itu. Namun, Adam terdiam ketika melihat Laura membuang vitaminnya ke tempat sampah.
Tanpa kata-kata, gadis itu masuk ke dalam rumah dan membanting pintunya.
"Ah, dia masih anak-anak rupanya," gumam Adam. Tak ada pilihan lain, berdebat dengan Laura untuk saat ini bukan ide yang bagus. Keduanya sama-sama lelah. Jadi, Adam memutuskan pergi dari rumah Laura.
Next.
__ADS_1