
Senyum Desi meredup bersama dengan langit gelap di atas sana. Dia memandang kekosongan cakrawala, tanda mendung dan hujan akan mengenai bumi. Hatinya dingin, tidak ada kehangatan menyelimutinya. Pandangan matanya kosong, tanpa tujuan yang pasti malam ini.
"Ma?" Laura memanggil Desi. Gejolak dan rasa bersalah membekas sejak tadi siang. "Mama tidak masuk ke dalam?"
Laura adalah gadis yang bebas di luar sana. Dia sering membolos, melakukan hal-hal yang gila, hingga membuatnya berakhir dalam sebuah kehamilan tanpa status yang jelas.
Desi menoleh pada Laura. "Kamu saja yang masuk." Nada bicaranya begitu ketus. Desi kecewa pada Laura, tentu saja.
Laura akan membentak, meninggikan nada bicaranya. Laura akan membuat protes pada mamanya jika memang itu menyulitkan kebebasannya.
"Laura mau minta maaf," bisik Laura. Dia bahkan tidak berani berdiri di samping Desi. "Laura mengaku salah."
Laura hanya punya itu, penyesalan dan kesedihan. Apapun tindakannya tidak akan pernah mengembalikan dia di posisi sebelum kesalahan ini terjadi.
Desi menoleh lagi, memberi isyarat pada Laura untuk mendekat. Meskipun taman belakang rumah sakit begitu sepi, tetapi ini adalah tempat terbuka untuk membicarakan aib sebesar itu.
Laura menundukkan pandangan. "Mama boleh menghukum Laura," pasrahnya. "Laura akan menerimanya."
"Memangnya kalau mama menghukum kamu bahkan memukuli kamu sampai sekarat, apa yang akan terjadi setelahnya?" Desi mengembalikan pertanyaan pada Laura.
Desi tersenyum kecut. "Jika itu bisa melegakan hati Mama dan bisa mengembalikan semua keadaan seperti semula, Mama akan melakukannya."
Desi mengusap air matanya, tidak tertahankan melihat kondisi putrinya. Dia sudah gagal dalam segala-galanya.
Desi memandang perut Laura. "Siapa ayahnya?" tanya Desi. "Mama tidak akan bertanya bagaimana itu bisa terjadi, karena itu tidak penting sama sekali."
"Pak Adam sudah setuju mau menikahiku. Lantas kenapa itu penting untuk mama sekarang?" Laura mencoba mencegah. Dia tidak mau menyeret nama Daffa dalam permasalahannya.
Desi tersenyum miring. Dia mengabaikan Laura lagi. "Terserah jika kamu tidak mau mengaku. Mama tidak akan memaksa."
Laura merasakan dinginnya sikap Desi malam ini. Mamanya tidak biasanya seperti ini. Semarah apapun Desi akan kesalahannya terdahulu, Desi tidak pernah mengabaikan Laura.
Laura tetap diam, menutup perbincangan secara tidak langsung.
__ADS_1
"Laura?" Desi meliriknya. "Kamu masih belum dewasa juga?" tanya Desi. "Mama pikir kamu akan langsung menyatakannya ketika ...." Desi berhenti di kalimat itu.
Laura tidak akan pernah menjadi dewasa di matanya. Hanyalah anak manja, yang tidak tahu ke mana harus melangkah tanpa disuruh orang tuanya.
"Sudahlah, Mama percuma saja membuang tenaga untuk kamu!" Desi berbalik arah. Tidak nyaman berbicara dengan Laura.
Melihat Desi yang hendak meninggalkan dia, Laura mencegah. "Mama membenciku?" tanya Laura.
Desi langsung menoleh. Tatapannya bertemu dengan sepasang mata Laura yang dipenuhi dengan harapan.
"Kamu sudah dewasa!" Desi mulai meluapkan kekesalan. Dia menepuk dadanya yang tiba-tiba sesak, dari tadi menahan amarah sekaligus kesedihan yang bergelut di dalam hatinya.
Desi mendekati Laura. "Kamu bahkan akan menjadi ibu sekarang, tetapi kamu tidak bisa memahami situasi?" tanya Desi dongkol. "Laura! Lihat mama!" bentaknya.
Seumur-umur, Laura tidak pernah dibentak Desi dengan raut wajah seperti itu. Mamanya tidak hanya marah, tetapi muak dengannya.
"Kamu, seharusnya sudah tahu keadaan apa yang sedang menunggu keluarga kita besok pagi," imbuh Desi.
Desi menunjuk ke sembarang arah. Berharap kalau itu bisa memperjelas maksudnya. Laura sulit untuk diajak berpikir jauh.
Laura ikut meneteskan air matanya. "Kenapa Mama bilang begitu?" Dia bertanya dengan nada bicara yang gemetar. "Papa pasti bisa bertahan. Kita bisa mengerahkan semua yang kita punya untuk menyelamatkan Papa."
Desi menggelengkan kepala. Keyakinan yang dia punya jauh lebih besar dari milik Laura. "Jika seseorang bisa menyelamatkan papa kamu, Mama tidak akan pernah memanggil kamu ke sini hari ini, Laura!"
"Kita sudah tidak punya harapan untuk kehidupan papamu lagi!" Desi menderu-deru. Dia menghentakan kakinya layaknya seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. "Sekarang kamu malah menambah permasalahan seperti ini!"
Desi menangis di depan Laura sembari bergelayut di lengan putrinya. "Seharusnya kamu bunuh Mama saja! Daripada menyiksa Mama seperti ini!"
"Mama kenapa bilang begitu?" Laura ikut merengek. Gemetar di suaranya terdengar jelas. "Maafkan aku."
Desi bersimpuh di depan Laura. Kesedihan tidak bisa dibendung lagi, dia tidak bisa menyembunyikan apapun di depan Laura. Isak tangis memenuhi udara, atmosfer kesedihan mengitari mereka.
"Harusnya kamu membunuh Mama saja, Laura!" Desi kembali mengulang di tengah isak tangisnya. Dia memegangi kedua kaki putrinya. "Mama tidak sanggup lagi menerima semua ini!"
__ADS_1
Laura ikut berjongkok di depan Desi, memeluk mamanya yang berusaha menghindarinya. "Maafin Laura, Ma," balasnya. "Laura salah! Sangat bersalah!"
"Sekarang kita harus bagaimana jika keadaan sudah begini?" tutur Desi dengan lirih. "Mama tidak bisa menjalani ini lagi. Berbulan-bulan Mama berusaha untuk menguatkan diri, tetapi papamu tidak ada harapan apapun lagi," gerutunya dalam isak tangis.
Laura tidak menjawab, hanyut dalam kesedihan yang luar biasa.
Dari jarak yang jauh, seseorang memandang mereka. Dua perempuan yang hanyut dalam kesedihan sebab kekalahannya dalam melawan keadaan.
Adam tak pernah menyangka, Laura langsung menunjukkan sisi yang berbeda dalam satu hari. Gadis itu memberi banyak tanda tanya pada Adam, tentang bagaimana perangai aslinya.
"Mas Adam tetap mau menikahi gadis itu?" Rinjani adalah nama adik angkat Adam. Gadis kecil itu masih tak rela, jikalau abangnya jatuh dalam pelukan gadis yang salah.
"Laura sepertinya tidak mencintai Mas Adam." Rinjani kembali menyimpulkan. "Nanti kalian pasti menderita kalau hidup bersama dengan terpaksa," tuturnya.
Adam mengusap punggung Rinjani. "Rin, seharusnya aku tidak mengajarkan ini padamu dulu, kamu belum cukup umur." Adam mencebik lucu.
Rinjani mengerutkan dahi. "Mas Adam ini! Masih bisa bercanda?"
"Cinta itu datang seiring berjalannya waktu. Cinta tumbuh karena terbiasa, Rin." Adam menyahut.
Rinjani menggelengkan kepala. "Itu hanya mitos. Kalau memang itu benar seharusnya tidak ada orang yang bercerai, bukan?"
Adam manggut-manggut. "Itu artinya mereka bekerja sebaliknya, Rin."
Rinjani menoleh lagi. "Bekerja sebaliknya bagaimana?" tanyanya. "Semua alurnya akan sama saja. Kita ini hanya manusia yang mengikuti kehendak Tuhan kan, Mas?"
Adam manggut-manggut. "Mungkin kehendak Tuhan adalah aku menikahi Laura, Rin."
"Mas Adam hanya memaksa bukan?" Rinjani mulai khawatir. "Mendiang orang tua Mas Adam dia akan mengerti kenapa Mas Adam tidak bisa melaksanakan wasiat mereka," ucapnya.
Rinjani memandang jauh ke depan. "Mas Adam pantas dapat yang lebih baik dari Laura," ucapnya lagi. "Mbak Nurwa jauh lebih pantas untuk Mas Adam."
Adam tersenyum simpul. "Aku yang tidak pantas untuk gadis sholehah seperti Nurwa, Rin. Aku tidak cukup baik," sanggah Adam menutup pembicaraan.
__ADS_1
Next.