
Keduanya memilih tempat untuk berbicara, sepertinya Belen tidak akan bisa banyak membantu selain mendengarkan keluh kesah Laura kali ini.
"Tidak ada cara lain selain kamu menemuinya." Belen menoleh pada Laura. "Temui Pak Adam, hanya itu satu-satunya cara."
Laura menunduk sembari menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin."
"Kamu tidak yakin kalau itu anaknya?" Belen menyahut. "Kamu benar-benar lupa berhubungan sama siapa?"
"Bukan gitu!" Laura menggerutu lagi. Dia menghela napas panjang. "Aku tidak yakin untuk menemuinya lagi. Harga diriku terluka."
Belen menatap Laura. Dia mencoba meyakinkannya. "Lalu? Kamu mau menggugurkan kandungannya lagi? Seperti saat kamu hamil anak Daffa?"
Laura menatap Belen. Memorinya terlalu buruk untuk dikenang. Dia hanya bisa pasrah pada keadaan sekarang. Setelah penghinaan yang diberikan Adam padanya, Laura bahkan menghapus kontaknya. Ujian akhir selama satu minggu penuh, membuat Laura lupa tentang konfliknya bersama Adam.
Awalnya Laura berpikir kalau permasalahan akan selesai begitu saja, rupanya dia salah. Ada masalah baru yang tidak bisa dia selesaikan sendirian. Namun, dia juga tidak bisa datang begitu saja pada Adam.
"Aku tahu kalau itu akan melukai harga dirimu," ucap Belen. "Dia yang mencampakan kamu, tetapi kamu yang mendatanginya untuk minta tanggung jawab. Itu pasti sulit untuk dilakukan. Mengingat kamu adalah Laura."
Laura melirik Belen. Gadis ini 100% mengenalnya.
"Namun, mau bagaimana lagi?" tanya Belen memprotes. "Memangnya kamu punya solusi selain menemui dia dan meminta tanggung jawab?"
"Kamu bukan anak orang kaya, kamu hidup sendirian," ujar Belen lagi. "Maaf aku mengatakan ini, tapi aku yakin keluargamu di Malaysia juga tidak akan menerimamu jika tahu kalau kamu hamil lagi, Laura."
Belen ada benarnya. Kesalahan pertama mungkin akan dimaafkan, tetapi tidak untuk yang kedua kalinya. Pertimbangan untuk menerima Laura pasti akan semakin berat. Dia akan ditelantarkan untuk yang kedua kalinya jika terus memaksa.
"Argh!" Laura mengacak-acak rambutnya. "Aku juga tidak tahu harus bagaimana? Aku pusing!"
__ADS_1
"Temui Pak Adam, bicaralah tentang ini." Belen membujuk. "Ini juga demi masa depan kamu, Laura. Kamu masih mau kuliah kan?"
Laura menatap Belen dengan cemas. "Aku harus menggugurkan kandungannya, Belen."
"Jangan ngawur!" Belen mencegahnya. "Kamu jadi pembunuh berantai kalau gini caranya!"
Laura hampir menangis, tetapi dia bahkan tidak bisa meneteskan air matanya. Laura tidak tahu harus menyalahkan siapa, selain dirinya sendiri.
"Seharusnya malam itu aku tidak menggodanya!" gerutu Laura. "Harusnya aku mengusirnya saja!"
Belen hanya bisa memandang temannya itu dengan iba, dia juga tidak bisa melakukan apapun lagi. Laura benar-benar menciptakan masalah yang besar.
>>>><<<<
Rumah sakit, Jakarta.
Adam menunggunya untuk berbicara. Kedatangannya memang hanya untuk menjenguk ayah Nurwa, tetapi pada akhirnya dia ingin berbicara.
"Makasih karena sudah membawakan buah-buahan untuk abah, Mas." Nurwa tersenyum seadanya, dia berdiri di depan Adam. "Sekali lagi aku juga mau minta maaf."
Adam ikut memandangnya. Dia berusaha menghilangkan rasa canggung di antara mereka berdua. Setelah semua yang terjadi, Adam hanya tidak ingin membenci teman masa kecilnya ini.
"Aku juga seharusnya minta maaf lebih dulu, Nur." Adam berbicara dengan lembut. "Imbasnya pasti jauh lebih besar untuk kamu."
"Ibuku salah, Mas. Dia tidak seharusnya menuduh Mas Adam begitu." Nurwa merendahkan suaranya. "Sekali lagi aku minta maaf. Padahal aku sudah berjanji akan menyelesaikan masalah ini sendiri, tetapi akhirnya aku harus melibatkan Mas Adam."
Adam tersenyum manis. Dia mengusap pundak Nurwa dengan lembut. "Aku harusnya memang terlibat, Nur. Ini masalah kita berdua."
__ADS_1
Satu minggu berlalu, Adam berhasil menyelesaikan semuanya. Sisa sedikit masalah, itu akan hilang seiring berjalannya waktu.
"Oh ya," ucap Nurwa tiba-tiba. "Ada yang ingin aku sampaikan sama Mas Adam."
Keduanya saling bertukar pandang. Sejenak sama-sama tidak ada yang berbicara, Nurwa pun ragu untuk mengatakannya.
"Mas Adam tidak perlu datang ke sini lagi." Nurwa memaksa untuk mengatakan kalimat seperti itu. "Setelah semua yang terjadi, aku kira tidak seharusnya kita sering bertemu."
Awalnya Adam ingin menolak gagasan Nurwa, tetapi tiba-tiba dia bisa memahaminya. Lelaki itu hanya mengangguk seadanya.
"Lebih baik mulai sekarang kita membatasi interaksi, Mas Adam." Nurwa menambahkan lagi. "Ini demi kebaikan keluarga kita juga."
Sekarang ada tidak bisa menolak hanya karena mereka adalah teman masa kecil. Pada akhirnya waktu benar-benar mengubah segalanya. Keadaan tidak bisa disamakan seperti dulu lagi.
"Aku paham, Nur." Adam mengangguk seadanya. "Aku berterima kasih sekaligus meminta maaf kepadamu. Aku banyak menciptakan luka untukmu."
Nurwa menanggapi dengan lengkungan di atas bibirnya. Ia tidak menjawab sepatah kata pun.
"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampaikan salamku pada ibumu." Adam berpamitan dengan begitu sopan.
Akan tetapi, Nurwa mencegah. "Mas Adam," panggilnya.
Adam menoleh. "Ada apa?"
"Setelah ini kamu akan kembali pada Laura?" tanyanya. "Aku hanya penasaran saja."
Adam tersenyum tipis. "Entahlah. Aku terlalu dalam meninggalkan luka untuk dia saat itu. Aku tidak yakin untuk bersamanya lagi."
__ADS_1
Next.