
"Terus gimana sama anak kita?"
Laura mengerutkan dahi mendengar kalimat Daffa. Pemuda ini memang tak tahu malu.
"Daf, kamu yang memutuskan untuk pergi dari aku. Kamu yang tidak mau tanggung jawab atas anak ini." Laura mencecar dengan pandangan tak suka. Ditambah senyuman tak lagi pantas dia berikan untuk bajingan seperti Daffa.
"Kenapa tiba-tiba datang dan peduli?" Laura menatap Daffa. Luka masih tersisa di dalam hatinya. "Sudah terlambat."
Daffa menggelengkan kepala. "Aku tahu aku salah, Ra." Daffa meraih tangan Laura. "Tapi, aku menyesal."
"Aku akan bicara sama papa dan mama kamu, kita tanggung ini bersama." Daffa seakan ingin menghipnotis Laura dengan kata-katanya.
Daffa belajar banyak hal, bahwa usaha di atas penyesalan tidak akan pernah mengubah apapun. Dia yang memutuskan untuk berhenti berjuang.
"Pak Adam adalah suamiku." Laura mengaku dengan berat hati, seharusnya bukan Daffa yang mendengar ini pertama kali.
Daffa tak terkejut, tetapi dia tidak bisa menerimanya begitu saja.
"Kamu sedang bohong kan, Ra?" Daffa menggenggam tangan Laura. "Kamu hanya berusaha untuk menghindari aku kan?"
Laura melepas genggaman itu, mengambil kalung yang disembunyikan di balik kerah kemejanya. Memamerkan liontin dari kalung pernikahannya.
"Kamu puas?" tanya Laura memastikan. Pandangan matanya berusaha menambah akurasi kepercayaan Daffa bahwa dia tidak sedang membual.
Daffa menghela nafas panjang. Jari jemari meremas ujung hoodie yang dia kenakan. Pemuda ini tak punya nyali, akhirnya penyesalan malah membuat dirinya terkesan seperti pengemis.
"Kamu bisa memeriksa cincin di jari Pak Adam kalau tidak percaya." Laura menambahkan. Senyum seringai dia berikan untuk Daffa. "Kamu sudah terlambat."
Laura bangun dari tempat duduk. Terlalu banyak hal tak benar dia bicarakan dengan Daffa, meninggalkan Adam yang sudah memesan dua es krim untuknya sejak beberapa menit yang lalu.
"Aku harus pergi, Pak Adam menungguku." Laura melirik Adam yang duduk di depan food truck, menunggunya dengan setia. Tanpa mau memanggil Laura.
Adam tahu apa yang harus dia lakukan. Diam dan menunggunya.
"Ra!" Daffa mencegah Laura pergi. "Katakan kalau kamu tidak akan menyesal?"
Laura menatap jari jemari Daffa yang menggenggam pergelangan tangannya. Senyuman tipis diberikan, hampir menertawakan pendiriannya sendiri.
"Anak ini butuh ayah kandung yang mengakuinya secara biologis." Daffa membual, sok pintar. "Kamu harus mempertimbangkannya juga."
Laura tiba-tiba tertawa. Daffa terlalu lucu untuk dirinya.
"Aku serius, Ra." Daffa melembutkan suara. "Kita bisa memulainya dari awal. Aku minta maaf."
"Mau makan apa kita?" Laura tiba-tiba ketus. Nada bicaranya dipenuhi protes.
__ADS_1
Daffa mengerutkan ekor mata, Laura tak seperti biasanya. Sebanyak apapun kesalahan Daffa, Laura selalu memaafkan.
"Kamu saja tidak bekerja dan aku juga begitu." Laura memandang penampilan Daffa. Cukup mumpuni, Daffa tampan dengan kulit coklat bersih yang seksi. Wajahnya bisa dibilang lebih tinggi dari standar orang tanah Jawa.
Sayang sekali, Laura tidak lagi membutuhkan pesona mantan kekasihnya itu. Laura hanya butuh uang dan sesuatu yang menjamin kehidupannya.
Daffa bisu, Laura memberikan pertanyaan yang tak masuk akal.
"Kamu tidak punya apapun, jadi jangan berharap untuk membesarkan anak ini bersama." Laura menutup kalimatnya.
Daffa tak membiarkan Laura pergi, jari jemarinya kembali meraih pergelangan Laura. "Papa dan mama kamu bisa membantu."
Laura hampir meludah di depan wajah Daffa. Dia tidak akan paham sebesar apa kesedihannya.
"Aku akan membujuk mereka. Aku akan berusaha keras—"
"Aku tidak mau menjadi pengemis meski untuk orang tuaku sendiri!" ketus Laura padanya. "Berhenti berharap dan pulang saja!"
Laura meninggalkan Daffa di tempatnya. Penolakan itu membuat luka di hati Daffa kian membekas, menganga dan begitu sakit terkena sepoi angin sore ini.
Daffa punya kepercayaan yang salah : belakangan ini Laura tak masuk sekolah pasti karena kehamilannya.
Adam melihat Laura datang, lekas berdiri dan menghampirinya. Membawa dua es krim yang mencair.
Tatapan Laura kosong.
"Ah, soal es krimnya." Adam memandang cone ice crean dalam genggamannya. "Aku akan belikan yang baru."
Adam tersenyum canggung pada Laura. "Tunggu di sini dulu. Aku belikan lagi."
"Pak Adam pernah mabuk?" tanya Laura tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Adam terperangah. Pandangan matanya fokus pada Laura, terkejut.
"Kamu ini bilang apa?" tanya Adam, sedikit gagap. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"
Adam menatap langit di atasnya. "Di siang bolong."
Laura memalingkan wajahnya. Perasaan bercampur aduk, dirusak oleh kedatangan Daffa. Laura sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata.
Dia berbohong jika rasa cintanya sudah tak ada. Daffa masih membuat Laura berharap. Angan-angan hidup bahagia masih ada dalam pandangannya.
"Aku mau pergi ke rumah temanku. Pak Adam pulang duluan aja," imbuh Laura. Sepertinya Adam bukan tipe pria yang akan mengangguk diajak menghabiskan sore di dalam bar atau diskotik.
Laura hampir pergi, tetapi Adam mencegahnya. "Mau ke mana?"
__ADS_1
"Ke rumah teman." Laura menjawab seadanya. "Pak Adam tidak perlu khawatir."
Laura berpaling lagi, sebisa mungkin lekas pergi sebelum Adam mengomelinya.
"Aku ikut." Adam mencegah. Sebiasanya, apapun dia katakan untuk menahan Laura. "Ke manapun, aku akan ikut kamu."
Laura mengerutkan kening. Masih tak percaya Adam semudah ini. Pria ini memang punya banyak kejutan untuk Laura.
"Pak Adam yakin mau ikut aku dan temanku?" tanya Laura mengerutkan kening. "Aku yakin Pak Adam akan menyesal nanti."
Adam melepaskan genggaman tangan Laura perlahan-lahan. Dari wajah Laura, dia serius bahwa Adam mungkin akan menyesalinya.
"Kamu mau pergi ke rumah Belen?" tanya Adam menebak. "Mungkin benar aku akan menyesal jika ikut ke sana. Sepertinya ...."
"Belen menyukai Pak Adam." Laura menjawab tegas. Dia yakin kalimatnya bisa dibuktikan.
Adam bergeming. Rupanya dia tidak bodoh dalam memahami gadis remaja.
"Mungkin hanya tertarik." Adam menyimpulkan. "Aku tampan," katanya sedikit tersenyum.
Laura langsung memalingkan wajah, senyuman itu tidak boleh dilihat Adam. Dia terlalu malu menunjukkan ketertarikan dalam pembicaraan mereka.
"Aku yakin tidak serius. Kamu tidak perlu takut. Aku juga tidak akan tertarik padanya," tandas Adam meyakinkan. Seakan Laura jatuh hati setengah mati padanya.
Laura menatap Adam. "Aku tidak peduli," kata Laura ketus. "Aku tidak akan pergi ke rumah Belen."
Adam mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Memangnya Pak Adam pikir temanku hanya Belen?" tanya Laura. Senyum seringai penuh makna untuk Adam.
Adam tetap yakin. "Kalau begitu aku ikut. Kemana pun kamu pergi."
"Ke mana pun?" tanya Laura memastikan.
Adam manggut-manggut. "Ke mana pun," katanya tak yakin setelah melihat Laura tersenyum aneh.
"Baiklah jika begitu. Pak Adam boleh ikut." Laura tersenyum puas, seperti sudah menipu pria ini.
"Semudah itu aku boleh ikut?" tanya Adam mulai mengikuti langkah Laura. Laura tak menjawab, membiarkan Adam dengan rasa penasarannya.
"Memangnya mau ke mana?" Adam mendesak.
"Ikut saja. Jangan banyak tanya!" gerutu Laura. "Kamu mirip Papa!"
Next.
__ADS_1