
Adam merebahkan tubuhnya perlahan-lahan. Dia menatap langit-langit ruangan, mencoba untuk menenangkan pikirannya.
"Aku bahkan belum berpamitan sama pihak sekolah," gumam Adam. Dia hanya punya waktu sebentar sebelum akhirnya dipaksa kembali ke rumah sakit untuk menjaga Laura.
Adam merogoh ponselnya. Dia hendak menelepon guru piket untuk memberi kabar kepulangannya yang mendadak. Namun, suara ketukan pintu menyela aktivitas Adam.
"Siapa?" Adam bertanya pada dirinya sendiri. Dia meletakkan ponsel dan datang ke ambang pintu.
Adam terkejut ketika melihat siapa yang datang.
"Belen?" Adam memicingkan mata. "Kamu ngapain malam-malam ke sini?" tanyanya.
Belen tersenyum kuda. "Boleh aku masuk dulu? Udaranya dingin sekali."
Ada menatap penampilan gadis itu. Tentu saja Belen merasakan dingin yang menggigit, dia mengenakan pakaian yang terbuka malam ini.
"Masuklah." Ada mempersilahkan gadis itu untuk masuk ke dalam. "Duduk di mana pun kamu suka. Aku akan ambilkan teh hangat."
"Pak Adam," panggil Belen tiba-tiba.
Adam menghentikan langkah kakinya. "Ada apa?"
"Aku datang ke sini untuk mengantarkan tas kerjanya Pak Adam yang tertinggal," ucap Belen sembari menyodorkan barang yang dia bawa.
Sekarang Adam jadi tahu apa yang membuatnya gelisah sejak tadi.
"Oh iya, rupanya tertinggal di sekolah," balas Adam. Dia tersenyum manis. "Terimakasih untuk bantuanmu, Belen. Kamu murid yang baik."
Walaupun hanya dipuji selayaknya, tetapi Belen tersipu malu.
"Duduk dulu," ucap Adam. "Aku suguhkan teh hangat. Katanya tadi kamu kedinginan."
__ADS_1
Belen terdiam sejenak. Sebelum akhirnya dia kembali berucap. "Aku boleh mampir ke sini dulu?"
Adam menganggukkan kepalanya ragu. "Memangnya kata siapa tidak boleh?"
"Tidak ada. Aku kira kalau Pak Adam tidak menerima tamu malam-malam begini." Belen tersenyum canggung. Dia langsung mengambil tempat duduk. "Terimakasih, Pak."
Adam terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya. "Kamu ini lucu sekali," gumam Adam.
Lagi-lagi Belen tersipu.
"Pak Adam!" Belen kembali memanggilnya. Adam menoleh menatapnya. "Boleh aku numpang ke kamar mandi? Aku kebelet."
Adam manggut-manggut. "Ada di samping pintu dapur," katanya sembari menunjuk pintu kayu yang tak jauh dari hadapannya.
Belen mengangguk. Dia mendahului Adam. "Terimakasih, Pak Adam."
Belen masuk ke dalam kamar mandi. Hatinya gembira tanpa sebab, padahal dia hanya diizinkan masuk sebagai tamu.
"Dia pria yang rapi," tutur Belen. "Semuanya tertata. Bahkan kamar mandinya bersih dan wangi."
Belen berandai-andai. "Cocok untuk dijadikan suami." Belen tertawa kecil atas kalimatnya sendiri. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Belen melihat sesuatu yang mencurigakan.
"Aku sepertinya pernah melihat jepit rambut ini?" gumam Belen. Dia mengambil jepit rambut di sisi rak tempat pasta gigi berada.
"Mirip punyanya ...." Belen berusaha mengingat-ingat. Pandangan matanya menelusuri setiap sudut kamar mandi. Sekarang dia baru menyadari jika semua barang-barang di kamar mandi tidak hanya milik Adam.
"Ada orang lain yang tinggal di sini?" Belen bertanya-tanya. Dia mendekati handuk kecil di yang menggantung rapi di sisi handuk besar milik Adam.
"Handuknya?" Belen menyipitkan mata. Dia berputar. Sekarang fokusnya tertuju pada kotak kecil yang terbuat dari kaca.
Belen mendekatinya. Mengambil itu pelan-pelan. "Krim mata ini punyanya ...."
__ADS_1
Belen berhenti. Matanya membulat sempurna ketika dia mengingat satu nama. "Laura?"
"Belen?" Suara Adam mengejutkan lamunan Belen. "Kamu masih lama di kamar mandi?"
Belen meletakkan kembali kotak itu. "Ada apa, Pak Adam?"
"Aku akan pergi ke warung sebentar untuk membeli gula, bisa tolong jaga rumahnya? Aku tidak akan mengunci pintu depan," ujar Adam.
Belen mengangguk. "Pak Adam bisa pergi."
"Baiklah. Makasih ya," kata Adam seadanya.
Suara langkah kaki Adam semakin menjauh, diikuti dengan suara ambang pintu utama yang ditutup. Bersamaan dengan itu, Belen keluar dari kamar mandi. Tentu saja tidak dengan tangan kosong. Dia mengambil jepit dan krim kecantikan milik Laura.
Belen mencoba mencari sesuatu yang bisa memperkuat argumennya.
"Kamar itu?" Belen menunjuk kamar dengan pintu yang tertutup. Dia berlari mendekatinya. "Please, jangan dikunci," gumamnya.
Belen mendorong pintu itu. "Sudah aku duga." Gadis itu tersenyum puas setelah berhasil membuka pintunya. Dia masuk ke dalam kamar itu.
Belen membeku di tempatnya ketika melihat barang-barang di dalam kamar itu. Semuanya tak asing untuk Belen. Bahkan tas Laura ada di sana.
"Laura ... benar-benar tinggal di sini?" Belen merinding sekujur tubuh. "Bukan tinggal di rumah saudaranya?"
Next.
Note :
Hai, aku bawa rekomendasi novel yang keren bingitszzzzzz nih, hehehe^^
__ADS_1