
Awan gelap menutup senja. Adam kebakaran jenggot ketika mendapat pesan dari nomor tak dikenal bahwa Laura membuat masalah lagi. Katanya, gadis itu mabuk dan digiring pria tak dikenal masuk ke dalam hotel.
Perasaan was-was tanpa henti menuntun langkah Adam ke sebuah hotel besar bintang tiga di sudut kota jabatan. Cukup padat, tak satu pun Adam kenal di sini.
"Kamar 305, jangan datang bersama siapa pun, atau Laura akan dalam bahaya." Pesan yang cukup singkat, cukup membuat Adam datang kemari tanpa ragu lagi.
Adam naik lift. Mencari nomor kamar yang sesuai. Pandangan matanya celingukan ke sana kemari, mengabaikan orang-orang yang menatapnya dengan aneh. Di dalam pikirannya hanya tentang Laura.
"Kamar 305!" Adam menemukannya. Tanpa pikir panjang, lelaki itu menggedor pintu. Membuat kebisingan di tempatnya.
"Laura, buka pintunya! Laura! Laura!" Adam tak berhenti sampai di sana. Dia mencoba menekan beberapa kali gagang pintu di depannya, tetapi hasilnya nihil saja.
"Laura! Aku mohon buka pintunya!" Adam memaksa. "Atau aku rusak pintunya sekarang juga!"
Saat Adam hendak mendobrak, tiba-tiba suara kunci pintu dibuka. Adam berhenti sejenak, berharap Laura berlari keluar lalu memeluknya. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kamar. Meskipun begitu, Adam memberanikan dirinya untuk masuk.
Suasana gelap dia rasakan ketika melangkah masuk ke dalam kamar. Aroma alkohol menyeruak masuk ke dalam lubang hidungnya.
Sebuah ranjang besar memperlihatkan seseorang yang tidur di atasnya, berselimutan selimut tebal berwarna senada dengan ranjang putih bersih itu. Keadaan kamarnya begitu berantakan, pikiran Adam semakin kacau.
"Laura?" Adam mendekatinya. Bodohnya dia, Adam melupakan tentang lampu. Dia tidak peduli, yang pengin bisa membawa Laura pergi dari sini.
"Laura, itu kamu?" tanya Adam sembari perlahan-lahan mendekatinya.
Tak ada suara. Entah pingsan atau tertidur, tubuh di atas ranjang itu tak bergerak sama sekali.
"Aku baru tidak bekerja satu hari, tetapi kamu sudah membuat masalah?" Adam menggerutu. Dia hendak menyentuh tubuh Laura, tetapi tiba-tiba seseorang memukul tengkuk lehernya cukup keras.
Adam kehilangan pandangan mata, perlahan-lahan tatapannya kabar dan hilang kemudian. Dia jatuh pingsan tepat di sisi ranjang.
"Kamu yakin dia cuma pingsan?" Laura berbisik di Daffa. Dia baru datang setelah bersembunyi di balik pintu almari.
__ADS_1
Daffa memeriksa. Mendekatkan jarinya di depan lubang hidung Adam. "Cuma pingsan."
Laura menghela napas lega. "Sekarang mau apa?" tanyanya.
"Nyalakan lampunya, Ra," perintah Daffa.
Laura manggut-manggut. Dia berjalan mendekati tombol lampu dan menekannya. Kini ruangan kembali terang, menampilkan kekacauan yang sengaja dibuat.
Laura mendekati tubuh Adam yang terkapar di sisi kaki Daffa. Pemuda itu seakan sedang merayakan kemenangannya.
"Kamu yakin ini akan berhasil?" Laura mulai ragu. Tuduhan perselingkuhan di atas ranjang adalah hal yang kuno dan klasik, Laura tak yakin bisa melakukan ini.
"Kita hanya tinggal menelanjangi tubuh Pak Adam, lalu mengambil fotonya," kata Daffa sembari tertawa. "Aku menyewa gadis yang tepat!" Dia menoleh pada pada temannya yang berpura-pura tidur sejak tadi.
Laura diam. Dia takut, entah sebab apa. Melihat Adam diperlakukan seperti ini membuat hatinya was-was. Laura tidak yakin akan bertindak sejauh ini.
"Kenapa, Ra?" Daffa menoleh. Dia melihat Laura berdiam diri di tempatnya seperti orang bingung. "Kamu tidak mau membantuku mengangkat tubuh Pak Adam?"
"Ini berat," keluh Daffa lagi. "Cepat, bantu. Sebelum dia sadar lagi."
Tubuh Adam berhasil disejajarkan di atas ranjang. Seorang gadis tak dikenal tidur di sampingnya hanya beralaskan ranjang tanpa pakaian. Laura menyelimuti tubuh Adam perlahan-lahan. Pandangan mata gadis itu terhenti tepat di sisi perut Adam yang terluka.
"Bekas apa ini?" gumamnya. "Mirip luka sayatan pisau," ucapnya semakin mengusap lukanya.
"Laura? Kamu ngapain di situ?" Daffa menghentikan aksi Laura. Tangannya memberi kode pada gadis itu untuk mundur. "Aku akan memotret sekarang. Kita harus buat ini seolah-olah benar perselingkuhan, oke?"
Laura tak menjawab banyak. Sedari tadi dia hanya manggut-manggut. Daffa menyusun semuanya dengan baik tanpa Laura sadari. Anehnya, dia merasa bersalah.
"Aku tunggu di luar." Laura tiba-tiba menepuk punggung Daffa. Tanpa menunggu jawaban, dia melenggang pergi dari hadapan Daffa. Menutup pintu kamar hotel dan mencari tempat sepi untuk menenangkan hatinya.
"Laura!" Saat hendak pergi menjauh, seseorang memanggil Laura.
__ADS_1
Laura menoleh. Teman lamanya, warga asing yang mampir ke Indonesia.
"Zyn!" Laura berlari, memeluknya. Kerinduan dilepas sejenak. "Kamu sejak kapan ada di Jakarta?" tanyanya. Laura memandang penampilan Zyn. Seperti biasa, mewah dan serba ber-merk. Temannya ini memang tidak pernah mengecewakan.
"Beberapa minggu yang lalu," katanya. "Mami ada meeting sama temannya di Bali, jadi aku memutuskan untuk main ke Jakarta lagi."
"Tidak disangka kita bertemu di sini," ucap Zyn antusias. Zyn memandang penampilan Laura. Dia sedikit berbeda. Tidak seperti biasanya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Zyn. Gadis itu menyenggol Laura. "Menghabiskan uang jajan?" kekehnya.
"Sejak dulu kamu suka menginap di hotel, padahal rumah Kamu sudah nyaman." Gadis itu tertawa ringan. "Kamu masih sering melakukan itu sampai sekarang?"
Laura manggut-manggut. Dia terpaksa berbohong. "Begitulah. Aku butuh waktu untuk bersenang-senang."
Zyn ikut tertawa. "Papa dan mama kamu apa kabar?" tanyanya.
Laura hendak menjawab, kebohongan apapun yang bisa dia katakan, akan Laura katakan. Namun, Daffa memanggilnya. Memotong pembicaraan mereka.
"Aku sudah selesai," kata Daffa. Dia menatap Zyn. Gadis cantik, seksi, dan mempesona. Semua lelaki seperti Daffa akan terpikat. "Siapa ini?" tanya Daffa berisik pada Laura.
Laura memperkenalkan. "Teman lamaku dari Rusia."
"Aku orang Indonesia. Hanya lahir dan tinggal di sana karena bisnis orang tua," jawab Zyn mengulurkan tangannya. "Salam kenal."
Daffa meraih tanya Zyn. "Salam kenal. Daffa, temannya Laura."
Pandangan mata Daffa tak bisa membohongi ketertarikannya. Zyn adalah tipe idaman semua pria di Jakarta. Khususnya pria nakal sepertinya.
Next.
Note :
__ADS_1
Aku bawa novel keren lainnya untuk kalian! Xoxo and Happy reading.