
Laura berlari begitu kencang setelah turun dari taksi. Dia melihat mobil polisi terparkir tak jauh dari gang utama yang menjadi akses satu-satunya masuk ke dalam SPACE'S .
Laura tidak mau banyak berpikir, dia mendatangi tempat itu sesuai dengan janjinya pada Agnes.
Keadaan sudah begitu kacau. Teman-temannya meronta dan meminta pada pihak kepolisian untuk membebaskan mereka dan memberi toleransi kali ini saja.
"Kami akan menutupnya! Jangan dibawa ke meja pengadilan!"
Semakin dekat, Laura semakin bisa melihat keadaan di sekitarnya. Agnes benar, terlambat satu menit saja mungkin Laura tidak akan bisa melihat semua koleksinya.
"Laura!" Agnes berlari mendekatinya. Wajah cantiknya dipenuhi kekhawatiran. "Gimana ini?" tanyanya pada Laura.
Laura bahkan tidak bisa menyapanya. Dia hanya terdiam, memandangi suasana kacau di depannya.
"Kamu datang sendirian?" Agnes punya harapan lebih pada Laura. Hanya Laura yang bisa menolongnya.
Agnes celingukan di tengah kepanikannya. "Di mana papa kamu? Mama kamu? Atau supir kamu?"
"Ra!" Agnes mengguncangkan tubuh Laura. "Kamu tidak bisa diam saja begini."
Agnes menunjuk semua barang-barang yang dikeluarkan secara paksa oleh polisi. "Lihatlah! Kita sudah tidak punya harapan lagi."
"Semua barang-barang itu akan disita dan dibawa ke kantor polisi." Agnes kembali merengek. "Ditambah lagi Rey akan ditahan. Dia yang punya tempat ini secara resmi."
Laura kenapa Agnes. "Dia akan dipenjara?"
Agnes manggut-manggut. "Kamu nggak kasih sama Rey?" tanya Agnes sembari memohon pada Laura. "Selama ini dia cukup banyak membantu kita. Sekarang saatnya kita yang membantu dia."
"Kamu bisa meminta bantuan sama papamu kan?" tanya Agnes berharap lagi. "Papa kamu pasti bisa menyewakan pengacara yang mahal atau paling tidak membuat polisi bungkam dan berhenti sampai di sini."
Laura tidak mampu! Papanya tidak bisa lagi! Mamanya pun tidak akan membantu, dia sudah hidup sebatang kara sejak beberapa minggu terakhir.
"Laura! Kenapa kamu diam aja dari tadi?" Agnes memprotes. "Biasanya kamu yang paling bisa diandalkan dari kita semua."
Laura memandang Agnes. "Di mana Pak Adam?"
Agnes terdiam. Pandangan matanya sedikit melunak, dia tak lagi merengek.
__ADS_1
"Orang yang melaporkan tempat ini," imbuh Laura memahami kebingungan Agnes.
Agnes menghela napas. "Kenapa kamu malah mencari dia? Keadaan kita jauh lebih sulit sekarang."
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku harus bicara dengan dia."
"Aku di sini." Adam menjawab dari belakangan Laura. Suaranya begitu lembut menimpali gadis itu.
Laura menoleh padanya. Dia meninggalkan Agnes dan mendekati Adam. Adam bisa membaca kemarahan Laura, bahkan tanpa gadis itu mengeluarkan kata-kata. Pandangan mata Laura sudah mengisyaratkan demikian.
"Kita harus bicara empat mata." Laura tiba-tiba menarik tangan Adam menjauh dari tempat itu.
Agnes hanya bisa menggerutu di tempatnya. Dia tidak tahu harus mengandalkan siapa selain Laura. Biasanya Laura yang menjadi malaikat penolong untuknya, tentu saja dengan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarganya.
>>>><<<<
Di samping pohon besar, suasana gaduh diredam oleh rerumutan tinggi di sekitar mereka. Bangunan SPACE'S memang sengaja dibangun jauh dari pusat kota, bisa dikatakan hampir di tengah hutan. Alasannya sudah jelas, jika bangunan ini adalah bangunan ilegal.
"Aku tahu kamu marah padaku." Adam memulai pembicaraan ketika Laura melepaskan tangannya.
Adam menganggukkan kepalanya. "Jika memang ini membuatmu begitu marah, aku minta maaf."
"Aku berjanji pada mereka sebelum mereka pergi, kalau aku akan menjagamu dan mendidik kamu dengan baik." Adam bersikap lembut. Dia hampir meraih tangan Laura, tetapi Adam mengurungkan niatnya.
Adam merekahkan senyum lagi. "Aku ingin menjauhkan dirimu dari hal-hal buruk seperti ini."
"Aku tahu kalau tindakanku ini melukai banyak orang, tetapi aku sudah berpikir panjang." Lelaki itu masih mencari pembenaran untuk apa yang dia lakukan. "Aku harap ini bisa menjadi pembelajaran berharga untuk mereka semua, Ra."
"Aku tidak ingin ...." Adam belum menyelesaikan kalimatnya, tetapi Laura sudah menamparnya.
Adam terkejut, tetapi dia tidak bisa membalasnya. Adam memandang Laura dengan intens.
Laura menggebu. "Sudah aku bilang berapa kali sama Pak Adam untuk tidak perlu mencampuri urusan hidupku!" ketusnya. "Aku bilang aku bisa melakukan semuanya sendiri!"
Adam mendengar suara Laura yang gemetar, sepertinya perasaan bercampur aduk tidak bisa didefinisikan.
"Jika membenci dan tidak menyukai aku, setidaknya hancurkan aku!" ucap Laura. "Jangan bawa-bawa orang lain dan kehidupan mereka!"
__ADS_1
Adam terdiam, dia melupakan satu fakta.
Laura memalingkan wajahnya. Helaan napas bercampur aduk dengan berbagai macam perasaan. Marah, tentu saja. Laura juga kecewa dan merasa bersalah dalam satu waktu yang sama.
"Laura." Adam memanggilnya dengan lirih. "Mereka memang pantas mendapatkannya."
"Diam!" bentak Laura. Dia kesal. "Tutup mulutmu!" imbuhnya.
Adam mengulum ludah. Laura lebih mengerikan dari yang Adam duga.
"Pak Adam memang tidak tahu apapun tentang hidupku, jadi berhenti untuk ikut campur dan sok tahu!" seloroh Laura lagi.
"Pak Adam menghancurkan banyak kehidupan dan harapan di tempat ini!" Laura menjadi-jadi. Air mata tiba-tiba menetes, bukan hanya tentang kesedihan, tetapi juga amarah dan kekecewaan yang besar.
"Semua teman-temanku menjadi korban! Usaha mereka yang dirintis dari bawah harus disita polisi dan ...." Laura berhenti ketika tak bisa menahan air matanya lagi. Dia berjongkok di depan Adam, menyembunyikan wajahnya.
Adam memandang ke arah lain. Dia iba pada Laura, tetapi Adam juga tidak bisa membenarkan tempat ilegal itu.
"Laura, maafkan aku," ucap Adam. Hanya itu yang bisa dia katakan.
Laura mendongak lagi. Dia menatap Adam dengan wajah sayu. "Aku mau kita bercerai."
Adam mengerutkan kening. "Hanya karena ini kamu mau bercerai, Ra?"
"Aku tidak bisa hidup denganmu lagi! Pak Adam terlalu bertolak belakang dengan aku," imbuh Laura.
Laura bangkit dari posisinya. Dia mengusap air matanya dengan kasar. "Setelah mengurus ini, aku akan mengurus surat perceraian kita!"
"Lalu bagaimana dengan anak ini?" tanya Adam khawatir. "Kamu jangan gegabah."
"Aku yang akan bertanggung jawab!" Daffa muncul dari balik punggung lebar Adam. Dia berjalan dengan begitu tegas, menatap Adam yang terkejut akan kehadirannya.
Daffa berhenti di samping Adam. Tersenyum puas, seakan ingin segera menertawai Adam. "Aku akan bertanggung jawab karena itu adalah anakku."
"Kamu tidak bisa ...."
"Daffa yang akan bertanggung jawab!" Laura menyahut. Dia mendukung posisi Daffa. "Dia ayah kandungnya, bukan Pak Adam."
__ADS_1
Next.