
Jam dinding menunjukkan waktu tengah malam. Adam terbangun ketika mendengar isak tangis dari kamar Laura. Dia mendekatinya, menempelkan telinga di ambang pintu yang tertutup rapat.
Adam memastikan kalau dia tidak salah dengar.
"Laura?" Adam memanggilnya dengan pelan. "Kamu baik-baik saja?"
Adam merasa sedikit bersalah. Mungkin dia terlalu berlebihan mengekspresikan kemarahannya tadi, seharusnya dia tidak meninggalkan Laura begitu saja.
"Aku boleh masuk ke dalam?" tanya Adam sembari mengetuk pintu. Namun, tidak ada jawaban dari Laura.
Adam memutuskan masuk ke dalam.
Tubuh Laura terbaring di atas ranjangnya, separuh tubuhnya tenggelam di bawah selimut.
"Ra?" Adam mendekatinya. Laura tetap merintih seakan kesakitan. "Kamu kenapa?"
Adam meneliti. Laura menangis dalam keadaan tidur. "Dia mimpi buruk?" bisiknya pelan, takut membangunkan Laura.
"Aku tadi menamparnya terlalu keras?" Adam mulai menyesal. "Aku harus tidak begitu."
Adam menyentuh tubuh Laura, bermaksud membenarkan selimutnya. Namun, Adam terkejut ketika suhu tubuh Laura tidak normal.
"Kamu demam?" gumam Adam, dia menyentuh dahi Laura. "Astaga, panas sekali."
Adam lekas pergi ke dapur. Mengambil kompres untuk Laura. Beberapa detik berlalu, Adam kembali lagi.
"Laura, kamu bangun dulu, ya?" bisik Adam, mengguncangkan tubuh Laura pelan. "Kita kompres dahi kamu dulu."
Laura hanya menggeliat tanpa mau membuka matanya. Tangannya meraih lengan Adam dan memeluknya dengan erat. Tubuh jangkung Adam ditarik naik ke atas ranjang.
"Laura," bisik Adam. Laura terlalu pulas dalam tidurnya, meksipun merintih kesakitan.
Adam menghela napas. Dia berusaha mengambil handuk kecil di dalam baskom tanpa membangunkan Laura. Pelan-pelan, Adam mulai merawat gadis itu. Mengusap wajahnya, menata rambutnya, dan menempelkan handuk di atas dahinya.
__ADS_1
"Wajah kamu pucat sekali?" gumam Adam sembari meneliti wajah Laura.
Adam terdiam saat melihat luka goresan di leher Laura. Dia baru sadar kalau kalung Laura menghilang. Perlahan-lahan, lelaki itu mendekatkan wajahnya untuk memeriksa luka goresan itu. Tanpa Adam sadari, Laura kembali mendekap tubuhnya semakin erat.
"Laura, lepaskan," pinta Adam ketika dia mulai merasa kesulitan bernapas. "Aku tidak ... bisa ... ber--bernapas." Adam tidak biasa dipeluk begini, jadi dia sulit mengekspresikan dirinya.
Sayang sekali, Adam tidak bisa membangunkan Laura. Gadis itu semakin erat memeluknya dan semakin jauh terlelap dalam tidurnya. Rintihan Laura berangsur-angsur menghilang.
"Ah, sudahlah." Adam pasrah untuk melawan. Dia memutuskan tidur di samping Laura malam ini.
>>>><<<<
Cahaya merambah masuk dari celah jendela yang terbuka. Sepasang mata Laura membuka perlahan, menyesuaikan dengan sorot cahaya lampu di atap ruangan.
"Argh, kepalaku," gumam Laura sembari memegangi pelipisnya. "Kenapa pusing banget?" Suara Laura sedikit serak. Matanya terasa begitu berat, bekas menangis semalam.
Laura menjatuhkan tangannya ke samping, dia terkejut ketika merasakan sesuatu menyentuh kulitnya. Kesadaran Laura dipaksa kembali.
Laura memalingkan wajahnya. "Apa ini?" gumamanya pelan. Laura menatap langit-langit kamarnya. "Kenapa dia bisa tidur di situ?"
Laura menatap dirinya sendiri. Sialnya, Laura kehilangan kemeja yang dia pakai semalam.
Laura terperangah tak percaya. Dia menggelengkan kepalanya. "Nggak mungkin kan?" Gadis itu mencoba mengingat-ingat. "Aku tidak melakukan apapun," ucapnya meyakinkan diri.
"Aku hanya tidur setelah kita bertengkar," ujar Laura mencoba untuk menggali ingatannya. "Kenapa bisa begini?"
Adam perlahan-lahan membuka matanya. Tepat di hadapannya, dia melihat tingkah aneh Laura yang berbicara dengan atap di atasnya.
Adam tersenyum tipis, Laura memang cantik paripurna. Bahkan saat dia bangun tidur sekalipun.
"Laura! Come on!" Laura memutar bola matanya. "Ingat dengan baik," bisiknya pada diri sendiri. "Kemarin kamu melihat Pak Adam pergi dan menutup pintunya dengan keras. Setelah itu, kamu juga melakukan hal yang sama."
Laura menggelengkan kepalanya. "Kalian tidak bertemu lagi setelahnya, kan?"
__ADS_1
Laura memukul-mukul kepalanya. "Kenapa aku tidak ingat sama sekali!" rengeknya.
"Gak sakit?" tanya Adam tiba-tiba. Laura tersentak. Dia menarik tubuhnya menjauh dari Adam, tak lupa juga selimutnya untuk menutupi tubuhnya yang hampir telanjang.
Laura terdiam, gagap di tempatnya.
"Kepala kamu." Adam menunjuk Laura. "Kamu memukulnya terlalu keras tadi," kekeh Adam.
Adam perlahan bangun. Dia hampir mendekati Laura untuk memeriksa suhu tubuhnya. Namun, Laura menjejak dada Adam dengan kuat. Membuat pria itu terjungkal jatuh ke sisi ranjang.
Adam merintih. "Argh! Punggungku."
"Maaf!" Laura merangkak takut. "Pak Adam ... kenapa tiba-tiba mendekatiku?" Gadis itu gelagapan. Masih berusaha menutupi tubuhnya. "Aku takut," gumamnya.
Adam perlahan-lahan bangun. Laura langsung memalingkan wajahnya. Adam sedang telanjang dada sekarang.
Adam mengerti, dia sudah menebak respon ini.
"Mandilah. Kita harus berangkat sekolah. Nanti terlambat," ucap Adam sembari mengambil bajunya. "Aku tunggu di meja makan."
Laura mencegah kepergian Adam. "Semalam!"
Adam berhenti. Dia menatap Laura. Gadis itu dipenuhi keraguan.
"Kita tidak melakukan apapun, kan?" tanya Laura ragu. Menundukkan kepalanya.
Adam mencuri kesempatan, dia tertawa geli. "Malam yang menggairahkan bukan?"
Laura mendongak. Terkejut karena jawaban Adam. "Huh?"
"Kamu nakal juga," gumamanya. Adam pergi meninggalkan Laura begitu saja.
Next.
__ADS_1