
Mengetahui Adam duduk di ruang makan, menyantap sarapan seadanya yang dibuat pagi ini, Laura memberanikan diri untuk menemui pria itu.
"Pak Adam," panggil Laura. Berdiri sembari melipat tangannya ke depan, dia mirip anak gadis yang ketahuan bersalah di depan papanya.
Adam menoleh ketika Laura memanggilnya. Fokusnya tidak lagi pada layar ponsel dengan kesibukan pagi ini.
"Kamu sudah bangun rupanya?" Adam berbasa-basi. Meneliti penampilan rapi Laura, seperti dulu saat kali pertama Adam melihat Laura.
"Aku kira kamu akan bangun lebih siang." Adam tersenyum seadanya. "Aku tidak melihatmu masuk rumah kemarin. Jujur aku sempat berpikir kalau kamu ikut pergi dengan Daffa."
Ada mungkin sedang menyindirnya, itulah yang ada di dalam kepala Laura.
"Kamu bisa sarapan lalu berangkat ke sekolah. Kita pergi ke halte bus sama-sama." Adam menambahkan lagi. Mendorong mangkuk kosong pada Laura. "Aku beli sup tadi."
Laura bergeming, masih dalam rasa bersalah.
"Tidak suka sup?" Adam berusaha untuk mengenali Laura. "Mau aku belikan sesuatu?"
Laura menggelengkan kepalanya. Perlahan-lahan dia duduk di depan Adam, mengambil sesuatu dari kantong rok pendeknya.
Laura menyerahkan cincin pernikahan yang kemarin diberikan Adam untuk Daffa. "Aku mencarinya."
Adam seperti ditampar. Dia adalah pria yang egois dan nekat, itulah kata Wanda kadang kala.
"Itu sebabnya Pak Adam tidak melihatku masuk ke rumah," jelas Laura lagi. "Aku berusaha menemukannya. Aku takut kalau seseorang mengambilnya."
Adam menarik nafas, menahannya sejenak, lalu menghembuskannya dengan kasar. "Laura ...."
"Aku minta maaf!" Laura tiba-tiba membentak.
__ADS_1
Tidak bohong kalau Adam benar terkejut.
"Aku tahu kalau aku yang salah. Seharusnya aku tidak menelepon Daffa kemarin," imbuh Laura, menyembunyikan raut wajahnya. Sebelumnya Laura tidak pernah meminta maaf kepada siapa pun. Kekuatan papanya dan uang yang dia miliki membuat Laura tidak pernah belajar sejauh itu.
Adam mengambil cincinnya. "Kenapa tidak mau ikut dengan Daffa?" tanyanya sembari memakai kembali cincin di jari manisnya. "Aku sudah mengizinkan kamu. Sudah kubilang kalau aku tidak akan membatasi apapun yang ingin kamu lakukan."
Laura juga tidak tahu. Saat Daffa tiba kemarin, dia merasakan lega yang tidak terkira. Akan tetapi, perasaan lega dan bahagia itu tidak bisa menggerakkan hatinya untuk kembali memihak pada mantan pacarnya.
"Tidak mau menjawab?" Adam tersenyum pada Laura. "Tidak masalah. Kamu bisa menjawab kapan pun kamu mau."
"Makanlah. Keburu terlambat nanti," ucap Adam memerintahkan. Dia tahu pembicaraan ini akan menjadi basi dan membosankan.
Adam menukas, "Sepulang sekolah aku akan menunggu kamu di halte belakang sekolah. Kita bisa pulang bersama."
"Kenapa harus ...." Laura menggantikan kalimat ketika dia menatap sepasang mata Adam. Adam serius dengan perintahnya. Setidaknya Laura harus menunjukkan penyesalannya.
Laura menghela nafas. "Hmm, baiklah."
Laura tidak jadi memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Jujur saja, tidak satupun pemikiran Adam yang bisa dia mengerti. Bahkan sampai detik ini, Laura tidak yakin suaminya ini pria yang baik atau bukan.
Kadang kala Adam terlihat begitu peduli. Ada melakukan semuanya berdasarkan simpati yang dia punya, menempatkan perasaannya dan berusaha untuk memahami Laura. Namun, di saat yang bersamaan sikap Adam yang tak acuh kadangkala membuat kepercayaan Laura goyah begitu saja.
Adam terlihat begitu tenang, tetapi justru air yang tenang itulah yang paling berbahaya dan menyimpan banyak kejutan di dalamnya.
"Kamu tidak tanya kenapa?" tanya Adam lagi. "Aku adalah suamimu dan semestinya aku mengambil hak walimu."
"Karena kamu malu?" Laura menebak asal. "Aku tidak yakin bisa menyembunyikan kehamilan ini lebih lama dari dugaanku."
Laura tersenyum kecut. "Memilih untuk tidak berhubungan denganku secara sah adalah pilihan yang tepat."
__ADS_1
Adam menggelengkan kepalanya. Dia tidak langsung menjawab, tetapi menjeda dengan menyeruput teh hangat di depannya.
"Belen dan teman-temanmu adalah alasannya." Adam mengutarakan pengertiannya.
"Aku mengatakan ini untuk menjelaskan padamu di awal, Laura," kata Adam lagi. "Bahwa aku tidak akan menjadi walimu secara tertulis."
"Tante Danira yang akan menggantikannya." Adam menambahkan lagi. "Dia yang akan bertanggung jawab sebagai walimu secara hukum."
Laura tidak membantah. Sebagai gantinya dia hanya mengangguk. "Aku mengerti."
"Kamu tidak kecewakan?" tanya Adam memastikan.
"Untuk apa aku kecewa? Lagian Tante Danira adalah adik mama yang paling dekat, dia harusnya memang bertanggung jawab. "
Adam tersenyum. "Syukurlah. Kamu tidak keras kepala."
Laura memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Akhirnya dia bisa menyantap sesuatu untuk mengisi perutnya kali ini.
"Akhir pekan mau ikut denganku?" tanya Adam lagi, menyela.
Laura menatapnya. Diam dengan wajah heran.
"Berkencan," imbuhnya. Adam cukup berani kali ini. "Aku ingin berkencan denganmu. Aku akan memperkenalkan orang terbaik yang tidak pernah tergantikan dalam hatiku."
Laura menghela nafas. "Bu Wanda? Rinjani? Atau ... Nurwa?" kekehnya ketus. "Aku tidak mau."
"Bukan mereka. Mereka tidak terlalu spesial jika dibandingkan dengan dua orang ini," kata Adam tegas. "Luangkan waktu, hanya sebentar."
Adam mengakhiri kalimatnya dengan senyum simpul. "Mari berkencan denganku, Laura."
__ADS_1
Next.