
"Laura!" Seseorang berteriak memanggil namanya. Laura yang hendak meletakkan pantat di atas kursi, terpaksa berlari ke arah sumber suara.
Seorang wanita memandangnya dengan amarah.
"Kenapa, Bu?" tanyanya. Laura sedikit takut karena ini adalah hari pertamanya bekerja. Belen hanya berpesan padanya untuk tidak melakukan kesalahan di hari pertamanya. Namun, Laura baru saja melakukan itu.
"Kamu yang membuatnya retak?" tanyanya dengan amarah. Nada bicaranya begitu ketus. Piring kaca retak ada dalam genggamannya.
Laura menganggukkan kepalanya. Dia menunduk. "Tadi tidak sengaja membentur embernya, Bu."
Wanita itu mendesah panjang. Kepalanya menggeleng kemudian. "Kamu itu kerjaannya hanya cuci piring dan melayani pelanggan kalau ada pembeli," ucapnya.
"Ini adalah hari pertama kamu kerja, tetapi kamu sudah membuat kerugian seperti ini?" tanyanya. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Aku tahu kalau ini hanya retak, tetapi piring retak seperti ini tidak bisa digunakan untuk makan orang."
Laura tidak menjawab apapun. Dia mengaku salah, tidak bisa membela dirinya.
"Laura," panggilnya. "Kamu mau mengganti kerugiannya?"
Laura menatapnya.
"Jika tidak mau menggantinya, aku terpaksa memberhentikan kamu di awal kerja." Wanita itu menambahkan lagi.
Laura menggeleng dengan samar. "Aku hanya melakukan kesalahan itu. Kenapa langsung dipecat?"
"Kamu tidak mau membersihkan tempat cucian, langsung meninggalnya begitu saja setelah selesai mencuci." Wanita itu mulai merunut. "Kamu juga tidak mau membersihkan lantai dapur padahal itu kotor."
"Akan tetapi, itu bukan ...." Laura mengigit bibirnya. Dia menunduk lagi, kesalahannya akan terus bertambah kalau dia tidak segera mengakuinya dan memperbaikinya. Melawan mungkin hanya akan memberatkan dirinya saja.
Wanita itu menghela napas lagi. "Meskipun aku tidak secara gamblang mengatakan bahwa itu adalah tugasmu, tetapi itu juga bagian dari kerja di sini, Laura."
__ADS_1
Pemilik kedai benar-benar berusaha untuk lemah lembut pada Laura. Belen mengatakan padanya kalau temannya itu memang tidak terbiasa bekerja. Jadi, dia harus mewajarinya.
"Jika bukan karena Belen, aku pasti akan langsung mengusirmu hari ini." Wanita itu melirih. "Aku tidak akan berbicara denganmu seperti ini, Laura."
Laura manggut-manggut. "Maafkan aku, Bu."
"Pikirkan soal ganti rugi. Kamu hanya cukup mengganti piring ini saja," ucapnya. "Kamu akan diberi kesempatan kedua jika, besok membawa piring baru."
"Aku akan melupakan masalah di hari pertama bekerja dan menganggapnya sebagai hal biasa," imbuhnya lagi. "Aku harap kamu bisa belajar dari kesalahanmu, Ra."
Laura mengangguk sekali. Senyum tipis dipaksakan terlukis di atas bibirnya.
Wanita itu melenggang pergi dari hadapan Laura. Jujur saja, baru separuh hari bekerja, Laura sudah merasakan lelah yang luar biasa. Pelanggan di tempat ini seperti air yang terus mengalir tanpa berhenti.
"Ada pelanggan, Laura! Kenapa malah diam di sana?" Wanita itu berteriak dari ambang pintu dapur.
Laura menoleh padanya dan menganggukkan kepala. "Baik, Bu."
"Bawakan ini untuk meja yang ada di sana," titahnya sembari menunjuk meja di sudut ruangan dengan sepasang kekasih yang saling duduk berhadapan. Laura menganggukkan kepalanya.
Langkah kakinya dipercepat. Berharap segera bisa menghantarkan dua minuman berukuran besar pada mereka. Namun, Laura menyandung kaki seorang anak kecil yang tiba-tiba saja menghadang jalannya.
Gadis itu tersungkur. Semua isi nampan yang dia bawa berserakan di atas lantai. Lantai menjadi kotor dengan pecahan kaca yang membahayakan.
"Ya ampun, Laura!" Pemilik kedai langsung berteriak, berlari menghampiri Laura.
Wanita itu tidak memperdulikan keadaan Laura, tetapi memilih memunguti kekacauan yang dilakukan Laura hari ini. "Kamu ini kenapa tidak hati-hati?" tanyanya. Sesekali dia melirik Laura.
Laura merintih. Suasana di dalam kedai sedikit kacau karena ulahnya hari. Anak kecil yang membuatnya terjatuh, menangis dimarahi ibunya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Bu." Laura berusaha membantu. Namun, wanita itu mencegahnya.
"Kamu ambilkan pel saja! Suruh Ana membuatkan pesanan yang baru untuk meja itu," ucapnya lagi. "Setelahnya kamu bisa pulang."
"Belum waktunya pulang," sahut Laura. "Aku yang akan membereskannya." Laura bersikeras untuk tetap membantu. Tangannya berusaha untuk meraih pecahan kaca di atas lantai, mengabaikan darah yang menetes dari lututnya.
"Sudah aku bilang kamu tidak perlu membantu!" Pemilik kedai itu sudah menahan amarah sejak tadi. Laura benar-benar tidak becus dalam bekerja.
"Tinggalkan itu dan lekas laksanakan perintahku." Wanita itu menandaskan lagi. Dia melirik Laura sebelum akhirnya fokus pada pekerjaannya. "Setelah itu kamu bisa pulang. Aku akan memberi toleransi untuk hari ini."
Laura memasang wajah sedih. Tentu saja dia kecewa dengan sikap dingin pemilik kedai. Namun, Laura juga tidak bisa menyalahkannya. Jika saja Laura yang berada di posisinya, mungkin dia akan lebih marah lagi.
"Baik, Bu." Laura akhirnya pasrah. Dia beranjak dari tempatnya dan mulai mengikuti semua perintah yang diberikan padanya.
Ana, teman kerja Laura, memandangnya dari jauh. Anehnya, dia malah tersenyum ketika Laura berjalan mendekatinya.
"Bu Hilda bilang ...." Laura hendak berbicara, tetapi Ana tiba-tiba tertawa. "Kenapa tertawa?"
"Kamu ini benar-benar tidak punya bakat apapun dalam hidupmu?" tanya Ana ketus. "Dari tadi kamu hanya melakukan kesalahan. Bukan yang membuat keuntungan, kamu malah membuat kerugian di tempat ini dalam satu hari."
Laura tidak punya kekuatan untuk membalasnya. Ana benar, dia memang tidak bisa melakukan apa-apa. Semua yang disentuh Laura hari ini, selalu saja berakhir dengan masalah.
"Kamu tolong siapkan lagi pesanan meja 12. Aku akan mengambil pel lalu pulang." Laura tak mau berdebat. Dia melenggang pergi dari hadapan Ana.
Ana menoleh pada Laura. Ditatapnya punggung gadis itu. "Besok jangan datang lagi," ucap Ana.
Laura mengerutkan kening. "Siapa kamu bisa ...."
"Jika memang kamu masih punya malu, Laura."Ana memotong kalimat Laura. "Seharusnya tanpa diminta, kamu sudah mengundurkan diri hari ini juga."
__ADS_1
Next.