
Fajar menyingsing. Sinarnya menyeruak masuk dari celah tirai jendela tak tertutup. Laura perlahan bangkit dari tempat tidurnya. Gadis itu merasakan sakit yang luar biasa di lehernya, dia tidak nyaman dalam tidurnya.
Laura menatap langit-langit kamarnya, semalaman penuh dia terjaga, entah apa yang membuat dirinya akhirnya terlelap. Dia bahkan tidak tahu kapan Adam pulang.
"Aku harus sekolah," gumam Laura lagi.
Dia berjalan gontai keluar dari kamarnya. Aroma sedap langsung menyambut dirinya. Saat Laura menoleh, menu hidangan di atas meja tersedia begitu lengkap. Satu porsi untuk dirinya.
"Makanan?" Laura mengusap-usap matanya beberapa kali. Barangkali dia sedang berhalusinasi.
"Benar makanan?" Laura menghampiri meja makan. Matanya langsung terbuka dengan sepiring nasi goreng, secangkir teh hangat, dan beberapa camilan sebagai pencuci mulut.
"Siapa yang ...." Saat Laura duduk, dia mengawasi sekitarnya. Ruangan ini jauh lebih bersih dari semalam saat dia memutuskan untuk beristirahat dan membiarkan kekacauan di tempat ini.
"Pak Adam membersihkan semua ini?" gumam Laura. Dia tidak melihat debu sedikit pun di sekitarnya. "Sekarang rumah ini terlihat seperti rumah."
Laura kembali menatap hidangan sarapan di atas meja. "Pak Adam benar-benar melakukannya."
Tentu saja pertengkaran mereka semalam tidak membuahkan hasil apapun. Adam tidak mau pergi dari rumahnya, tetapi membantu Laura untuk bersih-bersih. Meskipun gadis itu menggerutu sepanjang waktu, Adam berusaha mengabaikannya.
"Dia menepati janjinya untuk membantuku," pungkas Laura.
>>>><<<<
Kediaman Adam.
Rinjani datang dengan sepiring nasi goreng. Meletakkan itu di depan Adam. "Mas Adam itu mau bikin sarapan satu kampung?" tanya Rinjani.
Adam menoleh ketika Rinjani berdiri di depannya. "Dapur berantakan seolah-olah Mas Adam masak porsi besar. Namun, yang bisa dihidangkan hanya ini."
Adam hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu tolong bersihkan dapur nanti, ya, sepulang sekolah. Sepertinya aku harus kerja lembur."
__ADS_1
"Mas Adam minta aku menyelesaikan kekacauan yang Mas Adam buat pagi tadi?" tanya Rinjani. Seakan dia tidak terima dengan perintah Adam.
"Mas Adam bangun pagi-pagi dan belanja ke pasar. Lalu, membuat keributan di dapur dan itu mengganggu sekali!" gerutu Laura.
Rinjani menatap Adam penuh curiga. "Aku berpikir kalau akan ada hidangan istimewa hari ini, tetapi sama saja."
"Mana hidangan yang lain?" tanya Rinjani berbisik. "Aku terlanjur bilang sama ibu kalau Mas Adam masak banyak hari ini."
Adam tersenyum tipis. "Salah siapa bilang sama ibu seperti itu tanpa tanya aku dulu?"
"Bisa-bisanya Mas Adam malah nyalahin aku!" Rinjani menggerutu lagi. "Mas Adam ini aneh sekali!"
Rinjani mulai mengambil nasi goreng di depannya. Sekali dia melirik Adam yang begitu santai. Suasana yang baik untuk memulai pembicaraan.
"Gimana sama rencana pernikahan Mas Adam sama Mbak Nurwa?" tanya Rinjani tiba-tiba. "Semuanya berjalan dengan lancar kan?"
Adam melirik adiknya. "Begitulah. Namanya juga rencana besar, pasti butuh persiapan yang matang."
"Mbak Nurwa kemarin meneleponku setelah Maghrib," ucap Rinjani tiba-tiba. "Dia tanya apakah kamu sudah pulang atau belum, Mas?"
Adam terdiam. Dia berpisah dengan Nurwa setelah mendapatkan telepon dari Danira. Adam lupa dan dia tidak bisa menepati janjinya untuk memberi kabar pada Nurwa. Ponselnya mati, dia terlalu sibuk membantu Laura.
"Aku bilang kalau kamu belum pulang." Rinjani kembali menambahkan. "Aku bilang juga kalau aku kira kamu bersama Mbak Nurwa."
Adam menatap Rinjani dengan tajam.
Rinjani merasakan tatapan dingin yang ditujukan padanya. "Aku salah?" Tentu saja dia tidak mau disalahkan. "Aku bicara jujur apa adanya. Mas Adam emang belum pulang dan sebelumnya pamit mau mengantar Mbak Nurwa."
"Kenapa baru mengatakannya padaku?" tanya Adam, menyahut. "Kenapa tidak bilang kemarin malam?"
"Mas Adam pulang hampir tengah malam, aku lupa!" gerutu Rinjani. "Mas Adam membangunkan aku di tengah tidur hanya untuk membukakan pintu."
__ADS_1
Adam menghela napas. Itu bukan salah Rinjani, tetapi salahnya.
"Lagian Mas Adam itu dari mana saja? Kenapa baru pulang larut malam tanpa mengabari siapa-siapa?" Rinjani mulai curiga. "Mas Adam jarang sekali melakukan kesalahan seperti itu."
"Aku ada urusan mendadak," jawab Adam seadanya. "Baterai ponselnya habis, jadi aku tidak bisa mengabari rumah."
Adam kembali meneruskan aktivitas makannya. Sedangkan Rinjani, terus menatap Adam dengan curiga.
"Mas Adam belum menjawab dua pertanyaanku," tutur Rinjani tiba-tiba. "Di mana hidangan makanan yang lainnya? Aku tadi lihat Mas Adam beli ayam goreng juga."
Adam berusaha mengabaikan Rinjani.
"Ke mana Mas Adam ke semalam sampai larut malam baru pulang?" Rinjani terus berusaha mencecar Adam. "Ada yang Mas Adam sembunyikan dari kita?"
Adam hampir menjawab, tetapi Rinjani kembali berbicara. "Jawabannya hanya satu bukan?" Dia mulai menebak-nebak. "Laura?"
Adam terdiam lagi. Seluruh aktivitasnya terhenti begitu saja, tebakan adiknya tepat sasaran.
"Sepertinya aku benar." Rinjani menghela napas panjang. "Mas Adam membantunya dan mengiriminya makanan?"
"Mas Adam!" Rinjani menegaskan. "Mas Adam tidak seharusnya melakukan itu."
"Mas Adam mau menikah sama Mbak Nurwa." Rinjani menambah lagi. "Jika, Mas Adam begitu terus ... kasian Mbak Nurwa. Dia juga punya hati," ketus Rinjani.
"Rinjani, bukan begitu." Adam berusaha membela diri. "Aku hanya ...."
"Lepaskan salah tahu, jangan berusaha mengambil dua-duanya." Rinjani menyela lagi. "Pelukan akan lebih kuat jika dilakukan untuk satu objek dengan dua tangan," pungkasnya.
Rinjani menutup kalimatnya. "Jangan jadi bajingan, Mas Adam."
Next.
__ADS_1