
Satu minggu berlalu sejak pertemuan terakhir dirinya dengan Adam. Ujian akhir juga sudah selesai, setidaknya Laura tidak harus begadang lagi malam ini. Dia bisa merayakan apa yang disebut kemenangan tanpa hasil.
"Laura!" Belen memanggilnya dengan lantang. Ketika Laura menoleh, dia mendapati Belen berlari ke arahnya.
Mereka tidak ada di satu ruang ujian yang sama, pantas saja akhir-akhir ini keduanya jarang bertemu.
"Akhirnya ujian selesai, mau pergi jalan-jalan?" Belen bergelayut jadi lengan Laura. "Sepertinya kamu juga terima gaji akhir bulan ini," kekehnya.
Laura tidak banyak memberi jawaban, dia hanya tersenyum.
Mendapati Laura yang berbeda beberapa hari ini, Belen memandangnya dengan teliti. "Apa ini?" gumamnya. Dia langsung menghentikan langkah kaki ketika melihat raut wajah pucat Laura. "Kamu sakit?"
Laura menggelengkan kepalanya. "Mungkin karena banyak begadang."
"Aku harus langsung pulang dan beristirahat. Mungkin aku kurang tidur," jawab Laura. "Badanku meriang semua, setiap pagi aku terus merasa mual."
Laura mendesah panjang. "Mungkin aku masuk angin karena kecapean belajar."
Keduanya melanjutkan langkah kaki. Belen tidak bisa begitu saja membiarkannya. Laura hidup sendiri sekarang, setelah dia berpisah dari Adam. Tentu saja, Belen mendapat sepenggal kisah retaknya hubungan keduanya. Laura menangis menemuinya kala itu, berkata kalau seorang pria bajingan telah melukai hatinya dan menghancurkannya habis-habisan.
Siapa lagi kalau bukan Adam Dhanurendra?
"Mau aku antar ke rumah sakit?" tanya Belen. Laura menolak lagi. "Walaupun cuma masuk angin, tetapi juga perlu obat."
"Aku cuma butuh tidur. Aku yakin setelah bangun tidur, akan lebih enak," ucap Laura mantap. "Terimakasih tawarannya, Belen. Kamu bisa main sama yang lain dulu, aku akan menyusul kalau badanku sudah enakan."
Belen menghela nafas panjang. "Jangan keras kepala, Ra!" gerutunya. "Wajah kamu pucat banget, aku jadi khawatir."
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa, percayalah." Gadis itu menghentikan langkah kakinya. Mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah, tempat mereka berpisah ketika pulang sekolah karena tujuan mereka berbeda. "Aku mau langsung pulang, sampaikan salam sama yang lain dan permintaan maaf karena tidak bisa datang."
Belen terpaksa manggut-manggut. Namun, dia tidak bisa membohongi kekhawatirannya sendiri.
"Aku pulang dulu," pungkas Laura. Gadis itu melambai ringan dan berpaling dari hadapan Belen. Belen hanya membalas seadanya. Langkah kaki Laura mulai menjauhinya. Namun, baru beberapa langkah, Laura tiba-tiba saja ambruk di jalanan.
__ADS_1
"Laura!" Belen begitu panik, begitu juga dengan teman-teman di sekitarnya. Semuanya menghampiri Laura yang pingsan di atas trotoar.
"Tolong panggilkan taksi!" perintah Belen. "Aku harus membawanya ke rumah sakit."
>>>><<<<
Hampir 30 menit berlalu, Belen hanya duduk terdiam sembari menatap Laura di atas ranjang rumah sakit. Dokter baru saja pergi beberapa saat yang lalu setelah memeriksanya, memastikan kalau Laura memang tidak perlu dirawat inap.
Kelopak mata Laura bergerak, perlahan-lahan gadis itu bangun dari pingsannya. Belen beraksi. Dia bangun dari tempat duduk, mendekati Laura.
"Ra?" Belen memanggilnya lirih. Dia menatap dengan cemas. "Kamu sudah mendingan?"
Ketika Laura membuka mata, hanya ada raut penuh kekhawatiran milik sahabatnya. Padahal dulu ketika dia jatuh saja, orang tuanya seperti kesetanan.
Laura manggut-manggut. "Hm, cukup baik." Laura menatap keadaan sekitarnya, tentu saja dia langsung mengenali tempatnya. Dia ada di rumah sakit sekarang.
"Tidur dulu, jangan maksa," ucap Belen ketika melihat Laura memaksakan diri untuk bangun dari tidurnya. "Kata dokter mungkin kamu masih lemas."
Laura tersenyum kecut. "Siapa yang akan bayar biaya rumah sakit nanti? Aku harus segera pulang," tandas Laura. "Gajiku habis nanti," rengeknya lagi.
Laura menatap temannya itu. Dia menggelengkan kepalanya kemudian. "Uangmu juga sedikit. Nanti habis cuma buat bayar rumah sakit," ketusnya berbicara.
Belen berdecak. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi anehnya sesuatu juga menahan kata-kata di dalam benaknya. Dia hanya bisa menatap ke arah lain, mencoba menghindari pandangan mata dari Laura.
"Kita tebus obatnya dan pulang dari sini," ucap Laura. Dia hendak melepas selang infus yang menempel di tangannya. "Kamu bisa bantu aku bayar, bukan? Aku tunggu di ruang tunggu."
Belen mendesah panjang. "Dokter bilang setidaknya tunggu beberapa menit lagi, sampai kamu benar-benar kuat untuk jalan."
Keduanya saling memandang.
"Dokter yang bilang bukan aku!" Belen tau kecurigaan Laura. "Kali ini aku tidak mengada-ada!"
"Aku sudah bisa jalan," balas Laura. "Sudah aku bilang tidak perlu bawa aku ke rumah sakit!" Laura turun dari ranjangnya.
__ADS_1
Seusai dugaan, kepalanya membuat semua yang ada di sekitar Laura menjadi berlipat ganda. Bayang-bayang membuat pandangannya kabur, Laura hendak ambruk lagi.
"Apa aku bilang!" gerutu Belen. Dia sigap menangkap tubuh Laura. "Habiskan infusnya dulu, baru pulang!"
"Biayanya mahal, Belen! Lebih baik aku tidur di rumah!" Laura ikut kesal. "Kenapa kamu ngeyel sekali?"
"Kamu yang ngeyel!" Belen membalasnya. Tidak disangka, mereka benar-benar berdebat.
"Sudah aku bilang kalau aku yang akan membayarnya! Kenapa kamu nggak paham juga?" Belen semakin ketus. "Tidur lagi!"
"Aku nggak mau merepotkan kamu, Belen. Aku juga ...."
"Kalau begitu biarkan ayah dari bayi kamu yang membayarnya." Belen memotong kalimat Laura.
Tentu saja, kalimat yang mengejutkan. Laura langsung menoleh, menatap Belen penuh tanya.
"K--kamu ngomong apa?" tanya Laura terbata-bata. "B--bayi apa?"
Belen menguap wajahnya frustasi. Dia mendesah kasar. "Laura ....."
"Jawab dulu!" Laura membentak. "Bayi siapa?" Dia mendesak Belen berbicara. "Jangan ngawur!"
Belen menatapnya. "Kamu hamil, Laura."
Laura merinding sekujur tubuh. Dia lemas seketika.
"Siapa ayahnya kali ini?" tanya Belen lebih serius lagi. "Daffa lagi? Kamu melakukan itu karena Pak Adam meninggalkan kamu begitu saja?"
Belen mulai mengomel. "Aku tahu kamu frustasi ... tetapi, ini benar-benar keterlaluan, Laura! Bagaimana bisa ...."
"Bukan Daffa," ucap Laura tiba-tiba. Dia menatap Belen.
Belen mengerutkan keningnya. "Jangan bilang kalau ...." Belen ikut berjongkok. "Adam si bajingan itu?"
__ADS_1
Next.