Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
121. Kejutan Untuk Adam!


__ADS_3

Adam tidak semerta-merta langsung pulang begitu saja. Tanpa Laura sadari, lelaki ini mengikutinya sampai depan gang rumahnya. Adam terus berusaha menjaga jarak, sebisa mungkin keberadaannya tidak terdeteksi oleh Laura.


Setelah memastikan gadis itu pulang dengan selamat, Adam hendak mampir ke apotek yang tak jauh dari rumah Laura. Entah bagaimana, kepalanya terasa begitu berat. Mungkin karena dia terlalu banyak begadang belakangan ini, Adam benar-benar memaksakan dirinya sendiri.


"Ini boleh diminum buat ibu hamil?"


Samar-samar Adam mendengar suara yang tidak asing untuknya. Ketika dia mendekat, itu adalah Belen.


"Ini memang untuk ibu hamil muda. Bisa diminum sebagai vitamin, Kak." Petugas apoteker menjawab padanya. "Kalau boleh tahu siapa yang hamil dan berapa usianya?"


Adam mengerutkan kening ketika mendengar pembicaraan mereka. Dia belum mau menyela. Belakangan ini menguping menjadi kebiasaannya.


"Eum ...." Belen terlihat ragu untuk menjawabnya. "Bagaimana mengatakannya ...."


"Informasi seperti ini tidak akan aku sebarkan, Kak." Petugas apoteker berusaha meyakinkan Belen. "Aku hanya mencoba untuk mencocokkan pada vitaminnya. Tidak segala usia bisa meminumnya," ucapnya lagi. "Juga harus menyesuaikan usia kandungannya."


Belen menggigit bibir bawahnya. Dia berusaha berisik, padahal dirinya tahu kalau apotek sedang sepi. Ini sudah malam, wajar saja jika tak seramai sebelumnya.


"Usianya 19 tahun. Kandungnya baru beberapa hari," ucap Belen seadanya. Dia kembali menjelaskan. "Karena usianya masih muda, jadi kondisinya ...." Belen jadi salah tingkah sendiri. "Begitulah." Akhirnya dia menyerah untuk menjelaskannya.


Petugas apoteker itu tersenyum seadanya lalu menganggukkan kepala. "Aku paham, Kak." Dia memberikan vitamin yang lain. "Mungkin vitamin yang ini lebih cocok. Bisa diminum sebelum beraktivitas."


Belen mengambilnya. Dia membolak-balikkan tablet obat yang diberikan, seakan sedang memastikan sesuatu. Padahal Belen tidak tahu apa yang dipegangnya. Hanya ada embel-embel vitamin di kemasannya.


"Ini aman 'kan?" Belen masih tidak percaya. "Tidak akan berpengaruh pada kandungannya?"


Petugas apoteker menganggukkan kepala. "Sangat aman, Kak."


"Kalau begitu aku ...."

__ADS_1


"Siapa yang hamil?" Adam memutuskan untuk menyela pada akhirnya. Kedatangannya tentu saja mengejutkan Belen. Gadis itu tersentak ke belakang, tak terduga dia bertemu Adam di sini.


Adam tertawa kecil melihat raut wajah Belen. "Segitu terkejutnya kamu melihat aku di sini?" kekehnya. "Kamu seperti melihat hantu saja," celetuk Adam.


Belen mengelus dadanya sendiri. Jantungnya hampir copot tadi. "Pak Adam ngapain ada di lingkungan rumah Laura?" tanyanya dengan ketus.


Belen mulai menaruh curiga padanya. "Jangan bilang kalau Pak Adam menguntit Laura!"


"Kamu pikir aku ini apa?" Adam tertawa lagi. Dia menjawab semuanya dengan begitu tenang, padahal apa yang dikatakan Belen bisa dibilang benar. Sejak di warung bakso sampai detik ini, Adam menguntit Laura.


Adam kembali menatap tablet dalam genggaman Belen. Dia menunjuknya dengan raut wajah tanpa dosa. "Kamu beli itu untuk kamu?"


Belen langsung memprotes. "Ini vitamin untuk ibu hamil!" Dia menjawab sinis. "Pak Adam pikir aku hamil anak siapa, huh?"


Melihat reaksi Belen yang berlebihan, Adam kembali tertawa. Dia sejenak mengabaikan Belen dan meminta obat untuk sakit kepala. Apoteker pergi mengambilkan.


"Pak Adam belum jawab pertanyaanku, kenapa ada di lingkungan ini malam-malam begini?" Belen bertanya lagi. Bodoh sekali, seharusnya dia pergi selagi masih ada kesempatan sebelum Adam bertanya ini dan itu.


Belen tidak percaya begitu saja.


"Kamu pikir orang-orang yang ada di sekitar sini punya tujuan yang sama yaitu rumah Laura?" tanya Adam. Dia menoleh, menatap Belen. "Kamu sendiri?" tanyanya. "Kenapa harus jauh-jauh ke apotek ini padahal dekat rumahmu pasti ada apotek hanya untuk beli obat ... hamil itu," tandas Adam sembari menunjuk obat dalam genggaman Belen.


Belen berdecak. "Sudah aku bilang ini bukan buat aku! Awas aja kalau Pak Adam menyebarkan berita yang tidak-tidak!"


"Lalu?" Adam tersenyum. "Untuk siapa?"


Belen mengalihkan pandangan, dia berusaha menghindari kontak mata dengan Adam. "Laura benar, dia menyebalkan," gumamnya.


"Untuk siapa?" Adam mengulang lagi. "Kalau kamu berbohong, nanti aku bilang sama orang tua kamu, loh!"

__ADS_1


Belen berusaha mengabaikannya.


"Pergaulan yang bebas ...."


"Tentu saja untuk ...." Belen hampir saja melepaskan nama Laura di akhir kalimatnya. Untung, dia bisa menahan mulutnya sendiri.


Adam terdiam, begitu juga Belen. Keduanya saling pandang.


"Untuk?" Adam mendesak. Dia mendekati Belen dengan tatapan curiga. "Untuk siapa?" tanyanya.


Belen mendesah panjang. "Bukan urusan Pak Adam!" ketusnya.


"Untuk siapa?" Adam mulai curiga. Belen ada di lingkungan rumah Laura, membeli vitamin untuk ibu hamil dan ... Laura sangat pucat lagi.


"Belen!" Adam mendesak. "Mau aku teleponkan orang tua kamu?"


Belen menggerutu. "Memangnya Pak Adam peduli apa sama Laura?"


Dugaan Adam benar. Itu untuk Laura.


"Pak Adam bahkan meninggalkan dia pergi begitu saja!" Belen berkacak pinggang. "Pak Adam membuangnya seperti sampah! Mengatakan kalau ...."


Belum selesai Belen berbicara, Adam tiba-tiba menyahut obat dalam genggamannya. Dia berlari begitu saja, meninggalkan Belen.


"Pak Adam!" Belen berteriak. "Obatnya belum dibayar!"


Sayangnya, Adam mengabaikan Belen. Punggungnya semakin menjauh, hilang ditelan kegelapan malam.


"Ah, pria sialan itu!" Belen menggerutu. "Sekarang aku harus bayar dua obat sekaligus!"

__ADS_1


Next.


__ADS_2