
"Baru pulang?" Seorang gadis mengejutkan Laura. Dia tersentak, padahal sebelumnya dirinya berjalan mengendap-endap.
Laura menoleh. Ditatapnya seorang wanita yang jauh lebih tua darinya. "Kak Nia?" panggil Laura. Dia tersenyum canggung, sedikit ragu kalau wanita ini tiba-tiba membentaknya.
"Kamu pikir kamu tuan putri di rumah ini?" Nia menyahut. Sejak kedatangan Laura pertama kali sampai detik ini, Nia tidak pernah menyukainya.
Jika bukan karena Danira, sang ibunda, yang memaksa untuk berbaik hati pada Laura, Nia pasti akan mengusirnya sejak kesalahan pertama Laura.
Laura menunduk. "Maaf, Kak. Aku ketiduran di rumah teman," jawabnya.
Laura berdusta. Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya. Laura juga bingung bagaimana dia bisa berakhir di dalam hotel itu. Hanya ada ingatan samar dia bertemu dengan Adam kemarin malam.
Nia mendengus kesal. "Ikut aku," titahnya. Namun, Laura sama sekali tidak beranjak dari tempatnya.
Melihat Laura tidak mau mengikuti dia, Nia langsung menarik tangan gadis itu dan menyeretnya. Laura berusaha memberontak, minta untuk dilepaskan.
"Kakak mau bawa aku kemana?" Laura merengek. "Ini masih pagi buta."
Pukul tiga dini hari, Laura sudah memberanikan diri untuk pulang, sekarang dirinya malah diseret ke belakang rumah.
Nia berhenti di samping tumpukan baju. Laura terkejut melihat bajunya berserakan di atas tanah.
"Oh my God!" Dia langsung melepaskan genggaman tangan Nia. Berlari dan memunguti pakaiannya. "Ini pakaian baru satu bulan lalu."
Laura memandang pakaiannya yang sedikit berlubang, sepertinya terkena benda lancip dan membuatnya robek.
"Kak Nia!" Laura menggerutu. "Kakak sengaja membuang bajuku di sini?"
Nia terdiam. Dia bersedekap layaknya seperti bos, hanya memandang apapun yang dilakukan oleh Laura sekarang. Gadis itu panik bukan main sembari memunguti semua pakaiannya.
"Kakak tahu berapa harga bajuku?" tanya Laura. Kembali memandang Nia dengan marah. "Ratusan ribu!"
__ADS_1
"Kalau begitu cuci sebelum keranjang cucian penuh!" ketus Nia. Dia berjalan mendekati Laura. "Kamu pikir kamu itu tuan putri dan semua orang yang ada di rumah ini adalah pembantu kamu?"
Laura memalingkan wajah. Dia tidak berani menatap Nia setelah sadar akan kesalahannya.
"Mama memberi kelonggaran sama kamu, bukan berarti aku juga akan melakukan hal yang sama!" ucap Nia. Dia menarik baju Laura dan membuangnya lagi.
"Kak Nia!" Laura berteriak. "Jangan mentang-mentang kamu tuan rumah, kamu bisa memperlakukan aku begini!"
"Lalu aku harus memperlakukan kamu bagaimana?" Nia tambah kesal. Dia menarik rambut Laura. "Harus bersujud di depanmu?"
"Argh!" Laura merintih ketika rambutnya ditarik dengan kuat. Kepalanya mendongak menatap langit gelap di atasnya. "Lepaskan!"
Nia enggan menggubris Laura. "Aku akan mengusir kamu jika kamu terus malas-malasan begitu!"
"Kamu tinggal di sini, jadi kamu harus jaga sikap di sini!" Nia semakin menjadi-jadi dalam amarahnya. "Aku tidak akan membiarkan kamu semena-mena begini!"
Laura mendorong tubuh Nia. Gadis itu hampir saja terjatuh karena menyandung batu, untung dirinya sigap menyeimbangkan tubuhnya.
"Orang tuaku memberikan kehidupan pada keluargamu!" teriak Laura. "Keluargamu akan mati kelaparan di jalanan jika bukan karena uang papa!"
"Papamu itu tidak becus mengurus keluarganya!" Laura terus menerus menghina Nia. "Memang aku adalah tuan putri! Kamu seharusnya membalaskan hutang kedua orang tuamu sekarang padaku!"
Nia mendekati Laura. Tanpa kata-kata dia menonjok wajah Laura. Membuat gadis itu terpelanting dan jatuh. Sisi wajahnya mengenai batu besar di bawahnya.
Laura merasakan nyeri yang cukup kuat. Ketika dia meraba, darah menetes dari sudut matanya.
"Aku kasian sama mendiang orang tuamu, Laura!" ketus Nia lagi. "Mereka pasti sedih melihat putrinya jadi ****** begini."
Laura meneteskan air mata. Bukan sebab kesedihan karena ditinggal kedua orang tua, tetapi sebab rasa sakit di kepalanya.
"Seharusnya kamu bersyukur ketika ada seseorang yang mau mengasihi kamu!" Nia mendekati Laura. Berjongkok di depannya. "Bukan malah bertindak semena-mena!"
__ADS_1
"Kamu ....."
"Suamimu yang baik itu berselingkuh dengan gadis lain?" Nia menyahut. Dia tertawa. "Omong kosong! Dia terlihat seperti pria polos yang hanya kamu manfaatkan saja."
Adam memang punya kesan seperti itu.
"Harusnya kamu malu. Kamu tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih!" Nia meletakkan jari telunjuknya di atas dahi Laura. Menekannya beberapa kali, membuat kepala gadis itu sesekali mendongak dan kembali menatapnya lagi.
"Kamu masih bisa menyombongkan kekayaan orang tuamu?" tanyanya sembari terkekeh. "Papa dan mamamu menipu banyak orang hingga akhirnya mereka harus bangkrut."
Laura tidak tahu apapun mengenai alasan orang tuanya bangkrut. Dia hanya tahu kalau perusahaan mengalami kerugian besar dan hutang menumpuk setiap harinya.
"Mamamu akhirnya bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban itu," seloroh Nia.
Nia berbisik. "Kamu bukan tuan putri, Laura. Kamu itu anaknya penipu."
"Papamu tidak pernah memburu seseorang dengan senjata api atau senjata tajam, tetapi papa dan mamamu sudah membunuh mental ratusan orang lalu mereka lari dengan cara mengakhiri hidup mereka sendiri." Nia tertawa puas. Sedangkan Laura berdiam diri tanpa kata-kata.
"Seharusnya kamu malu, Laura!"
Saat Nia pergi meninggalkan dirinya, Laura tak menyadari air mata yang menetes perlahan-lahan. Entah ada apa dengan dirinya sekarang, tetapi rasa sakitnya begitu terasa.
Lalu tiba-tiba, anehnya dia merindukan Adam
Next.
Note :
rekomendasi novel keren untuk dibaca! Cuss!!
__ADS_1