Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
41. Paginya Suami Istri


__ADS_3

Sudah beberapa menit Laura berdiam diri di sini, tidak ada yang bisa dia lakukan. Adam memang tidak menghukumnya, memarahi Laura pun tidak. Adam terdiam, cukup tenang. Cara makannya tak meninggalkan suara yang mengganggu.


Sebenarnya Adam pria yang cukup mumpuni jika disandingkan dengan Laura, tanpa memberi bobot pada harta. Lelaki ini tampan, bertubuh sehat dan kekar, cenderung jangkung. Adam tipe yang pendiam, pandai mengontrol dirinya dan jauh lebih dewasa dari Laura. Dia juga rajin dan poin tambahnya adalah Adam pandai memasak. Rasa makanan yang dibuat dengan tangannya sama sekali tidak pantas dicela.


"Kamu tidak makan?" Adam melirik Laura. Dia tersenyum tipis. "Tidak suka sayur sup?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Pak Adam tahu di mana HP-ku?" tanya Laura tiba-tiba.


Adam memasang wajah heran. "Kamu tidak peduli dengan keadaan anak dalam kandunganmu, tetapi peduli pada benda itu?"


Laura mendesah, resah. "Bukan gitu," gumamnya. "Aku membelinya baru tiga bulan yang lalu."


"Sekarang malah hilang," ucap Laura lagi. "Itu HP mahal," imbuhnya. Nada bicara Laura habis di akhir kalimat.


Adam meletakkan sendok. "Makan dulu," katanya pada Laura. Memaksa gadis itu segera mengambil sendoknya. "Kalau dingin percuma saja aku masak buat kamu."


Laura memandang Adam dengan jeli.


"Bu Wanda bilang sup atau apapun yang berkuah, bisa menghilangkan pengar karena mabuk." Adam berkata sembari menatap Laura. "Juga baik untuk pagi ini. Langit mendung lagi."


"Bu Wanda?" Laura mengernyitkan dahi. "Kenapa tanya dia?"


Adam menaikkan bahunya. "Karena dia ibuku. Aku selalu meminta pendapat sama dia."


"Kamu mengadukan aku kalau aku mabuk kemarin?" Laura meninggikan suara. Dia terkejut, ditambah was-was.


Melihat raut wajah Laura yang berubah seketika, Adam tertawa puas di tempatnya.


"Aku serius, Pak Adam!" gerutu Laura lagi. "Kamu benar-benar mengadukan aku?"


Adam menganggukkan kepala. "Aku bilang untuk Laura. Dia mabuk berat."


"Hei!" Laura membentak sembari menggebrak meja di depannya. "Pak Adam ini menyebalkan sekali!"

__ADS_1


"Kalau begitu jangan mabuk lagi!" sahut Adam memprotes. "Kamu bahkan takut sama Bu Wanda, masih mau sok-sok memberontak dengan mabuk?"


Laura memalingkan wajah. "Ck, sialan," gerutunya.


"Ngomong-ngomong ada yang ingin aku tanyakan," ucap Adam. Dia berusaha lembut pada Laura, meskipun rasa kecewa masih menyelimuti hatinya ketika melihat istrinya pulang dalam keadaan kacau kemarin malam.


Laura tidak mau menyahut, tetapi Adam meneruskan kalimatnya.


"Siapa yang kamu tampar kemarin di sekolah?" tanya Adam.


Laura terpaksa menoleh padanya lagi. Kalimat itu mengejutkan dirinya. "Pak Adam tahu dari mana?"


"Aku melihatmu," kata Adam tegas. "Sepertinya dia anak yang baik, dia pendiam dan jauh lebih tertutup dari kamu."


Laura berdecak. "Ternyata kamu sama saja," decaknya tak mau lagi menatap Adam.


"Aku salah sepertinya." Adam tertawa kecil.


Adam mendorong mangkok sup di depannya. Hanya bersisa kuah saja. Jujur kalau Adam tak terlalu suka masakan berkuah, tetapi pagi ini dia harus memasak demi Laura.


Adam menyunggingkan sudut bibir. "Kamu menamparnya karena itu?" tanyanya. Adam kembali menukas. "Itu artinya kamu menyukai Daffa."


"Dia menghina orang tuaku," sahut Laura ketus. "Dia juga menghinaku. Dia bilang aku pelacur."


Laura menarik segelas teh dan menyeruputnya perlahan-lahan. Sebenarnya dia tidak mau menjelaskan apapun pada Adam, tetapi anehnya Laura menurut begitu saja.


Adam malah terkekeh. "Pertemanan kalian begitu aneh," ucapnya. Adam manggut-manggut tanpa alasan. "Bersyukurnya aku karena lahir di tahun yang berbeda, aku jadi tidak perlu merasakan pertemanan yang mengerikan di zaman sekarang."


Tanpa Adam sadari, Laura kembali menatap ke arahnya. Dipandangnya Adam dengan begitu teliti, lalu pelan-pelan dia mulai mengeluarkan suaranya lagi. "Pak Adam?"


"Hm?" Adam tak menoleh, hanya bergeming.


"Berapa umur Pak Adam?" tanya Laura tiba-tiba.

__ADS_1


Adam yang tadinya hendak memeriksa ponsel untuk tahu waktu yang tersisa sebelum berangkat sekolah, harus kembali menatap Laura. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"


"Pak Adam pasti tahu apapun tentang aku, kan?" Laura membandingkan. "Sedangkan aku tidak."


"Namaku Laura Mentari, usiaku 18 tahun, hampir 19 akhir tahun nanti." Laura tiba-tiba memperkenalkan diri. "Aku suka berpesta dan berbelanja. Apapun yang bisa membuatku bahagia."


Laura menghitung dengan jari jemarinya. "Aku suka warna merah merona, aku suka aroma mawar, aku paling benci serangga dan orang bodoh dan aku ...."


"25 tahun," jawab Adam pada akhirnya. Mendengar Laura memperkenalkan diri memang bukan hal yang membosankan, tetapi Adam tak punya banyak waktu untuk mendengarkan semua itu.


Laura mengernyitkan dahi. "Bapak Yakin?" Laura memandang Adam curiga. "Sepertinya lebih tua."


"Haruskah aku membuktikannya?" tanya Adam. "Kamu butuh KTP atau apa?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Aku juga tidak peduli. Aku hanya tanya saja," gumam Laura. Dia kembali fokus pada semangkuk sup yang masih utuh. Laura belum menyentuhnya sama sekali.


"Makan supnya dan kamu berangkat sendiri hari ini." Adam tiba-tiba berdiri.


Kerutan halus muncul di atas kening Laura. "Berangkat sendiri?"


"Kenapa tiba-tiba bisa berangkat sendiri?" tanya Laura. Dia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian kemarin. "Ah, karena aku menggerutu setiap kali turun dari bus?"


Adam enggan menjawab. Dia malah mengalihkan topik pembicaraan. "Ini adalah pertama kali dan terakhir kalinya kau melihatku pulang dalam keadaan mabuk seperti kemarin malam," ucap Adam.


"Kenapa mengalihkan pembicaraan?" tanya Laura.


"Jika kesalahan itu terjadi lagi, aku tidak mau mentoleransi." Adam tetap kokoh pada topik yang dia pilih.


Laura tersenyum picik. "Memangnya Pak Adam mau menghukum aku dengan cara apa?"


Adam menatap Laura, lalu fokus pada perut gadis itu. "Gugurkan kandungan kamu, anakmu tidak seharusnya mencicipi neraka padahal dia masih dalam kandungan."


Adam menutup kalimatnya. "Bukan dunia, ibunya hanya akan mengantarkan dia ke tanah neraka."

__ADS_1


Adam pergi setelah menyelesaikan kalimatnya. Sedangkan Laura terdiam tanpa bahasa. Adam menamparnya dengan kalimat itu.


Next.


__ADS_2