
Selama ini, ada satu hal yang tidak pernah disadari oleh Laura. Adam begitu tampan. Jika dibandingkan pria seusianya di luar sana, dia luar biasa.
"Kenapa dia tampan sekali bahkan saat tidur?" gumamnya. Laura sudah bangun sejak tadi, tetapi dia tidak mau beranjak dari tempatnya. Masa bodoh dia terlambat atau tidak, Laura tidak mau menyia-nyiakan pemandangan seperti ini.
Laura mendengus pelan. "Kenapa aku baru menyadarinya?" Selama ini dia hanya fokus tentang bagaimana cara melepaskan diri dari Adam.
Laura tersadar setelah semua yang terjadi. Dia bukannya tidak menginginkan kehadiran Adam, tetapi dia tidak menginginkan pernikahannya. Laura terlalu muda untuk menghadapi hal itu. Dia belum siap menjadi istri seseorang.
"Sayang sekali, dia akan menikah dengan perempuan lain." Laura menggerutu. Kecewanya tidak akan mengubah apapun.
Adam bukan miliknya. Namun, milik Nurwa.
Laura hendak mengulurkan tangan, menyentuh pipi Adam. Memastikan kalau itu bukan imajinasinya. Hatinya cukup baik ketika mengetahui Adam tidur di sampingnya. Namun, tiba-tiba saja kelopak mata Adam bergerak. Laura terkejut ketika Adam membuka matanya perlahan-lahan. Bersama dengan itu, Laura kembali menutup mata dan pura-pura tertidur.
Adam menyunggingkan senyum. "Tidak perlu pura-pura. Aku mendengar suaramu tadi," ucap Adam tiba-tiba.
"Buka saja matamu, Laura," imbuhnya. Adam menata rambut Laura yang jatuh menutupi wajahnya. "Aku tahu kamu sudah bangun."
Laura menyerah. Sembari membuka matanya, dia mendesah kasar. "Ck, Pak Adam ini."
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Adam. Sebelumnya dia tidak pernah berbicara sedekat ini dengan Laura di atas ranjang. Seingatnya dia hanya pernah menghabiskan waktu satu malam di atas ranjang sepanjang pernikahannya dengan Laura. Itu pun adalah bentuk ketidaksengajaan.
"Pak Adam tidak bisa pura-pura tidak melihatku tadi?" tanya Laura. "Maksudku, Pak Adam bisa langsung pergi."
Adam tersenyum. "Aku mau mendengarnya lagi," ucapnya.
Laura diam sembari mengerutkan keningnya. "Mendengar apa?" tanyanya sedikit memprotes. Caranya berbicara berubah begitu saja. "Aku tidak bilang apapun."
__ADS_1
"Setampan apa aku?" tanyanya. Adam memaksa Laura untuk tetap di tempatnya. "Katanya aku sangat tampan."
Laura memalingkan wajahnya. Dia hendak menjauh, tetapi Adam kembali menarik lengan gadis itu.
"Jawab dulu," titahnya. "Baru boleh pergi."
Laura memicingkan mata. "Pak Adam haus pujian ternyata," balas Laura. Dia mendorong tubuh Adam menjauh.
Laura bangun dari tempat tidurnya. Menjejakkan kaki agar selimut yang menutup separuh tubuhnya dan Adam lekas pergi dari hadapannya.
"Ngomong-ngomong," tutur Laura tiba-tiba. Dia menoleh pada Adam. "Kenapa Pak Adam bisa tidur di sampingku?"
Adam ikut duduk. Merapikan rambutnya. "Aku menyelamatkan kamu semalam." Dia menatap Laura jeli. "Seperti iron man atau super man?" Adam terkekeh. "Mungkin spider man?" celetuknya lagi. Dia berharap membuat tawa di pagi Laura.
"Apaan, sih!" Laura menggerutu. Dia pergi dari tempatnya. Berjalan ke luar kamar. "Jangan masuk sembarangan lagi. Aku akan melaporkan Pak Adam!"
Adam tidak sempat menjawab apapun, Laura sudah menghilang dari hadapannya.
"Nurwa?" Tiba-tiba saja Adam terpikir sesuatu. Janjinya dengan Nurwa. Dia melupakannya. "Sialan, aku lupa!"
Dia bergegas turun dari ranjang. Memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. "Aku harus segera pulang," gumamnya. Meskipun Adam tahu, tidak akan ada gunanya pulang sekarang. Sore sudah habis, janjinya sudah kadaluarsa.
Adam keluar dari kamar.
"Laura!" panggilnya. "Aku mau ...."
Laura keluar dengan membawa nampan berisi teh hangat. Adam terdiam sejenak.
__ADS_1
"Pak Adam langsung pulang?" tanya Laura sembari memicingkan mata. Dia melihat penampilan Adam yang kacau. "Dalam keadaan seperti itu?"
Adam manggut-manggut. "Aku melupakan janji dengan Nurwa," ucapnya. "Aku harus mendatangi dia."
"Ah, perempuan itu," gumam Laura dengan raut wajah tak suka. "Telepon saja," ucap Laura menyarankan. "Bilang kalau Pak Adam tidak bisa memenuhi janji."
Laura berjalan mendekati Adam. "Kalau memang dia bisa mengerti Pak Adam, dia pasti mengiyakan."
Adam tak memberi jawaban. Dia hanya melihat Laura meletakkan nampan di atas meja. Teh hangat dengan aroma melati yang khas, itu pasti untuknya.
"Kenapa diam saja?" tanya Laura. Dia duduk di tengah sofa. "Telepon dia."
Adam menghela napas. "Maafkan aku, Laura. Aku harus pulang sekarang. Nurwa begitu penting sekarang ini. Aku takut mengecewakan dia."
Hati Laura sakit mendengarnya. Padahal itu kalimat yang wajar. Nurwa adalah calon istrinya. Laura tidak berhak atas Adam lagi.
"Sekali lagi maafkan aku. Tehnya ...."
"Tehnya untuk aku sendiri," sahut Laura. Tiba-tiba dia mengambil teh itu dan menyeruputnya. "Belakangan ini aku jadi lebih suka minum teh ketimbang kopi susu."
Adam tak tahu kebiasaan itu. Biasanya Laura menagih secangkir kopi susu dengan ekstra gula. Dia menolak secangkir teh karena dia membencinya.
"Kenapa masih di sana?" Laura menyeringai. "Pak Adam bisa pulang sekarang."
Adam manggut-manggut. "Sekali lagi maafkan aku, Laura," ucapnya. "Aku pamit dulu."
Laura tidak menjawab. Dia membiarkan Adam pergi begitu saja. Setelah Adam menutup pintu, Laura bergegas kembali ke dapur.
__ADS_1
Dipandanginya beberapa bahan mentah untuk sarapan pagi ini. Dia mendesah kecewa. "Kenapa aku menyiapkan semua ini?" gumamnya. "Berharap Pak Adam dan aku masak bersama, lalu terjadi adegan romantis?" Laura tertawa dengan imajinasinya salah. "Kamu memang sudah sinting, Laura!"
Next.