Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
64. Rencana Menghancurkan Adam


__ADS_3

"Kalau terbebani sama pernikahannya, kenapa tidak berusaha untuk cerai darinya?" Daffa duduk di depan Laura.


Gadis itu tak menjawab. Soal cerai, Laura sudah memaksa Adam untuk melakukannya. Namun, entah setan apa yang merasuki dirinya, Adam benar-benar pria setia.


"Pak Adam menolak?" Daffa menebak asal. Raut wajah Laura berbicara demikian. "Atau kamu yang tidak berani bilang padanya?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Dia masih mau mempertahankan pernikahan ini," jawabnya seadanya.


Daffa menyodorkan segelas kaleng bir murahan untuk Laura. "Kenapa tidak memaksa?"


"Bagaimana bisa aku memaksa?" Laura menggerutu. Kalimatnya dipenggal ketika dia menyeruput bir itu. Suara decapan terdengar samar, gadis itu menikmati bir layaknya seperti orang yang baru saja terlahir kembali.


"Sudah lama aku nggak minum ini," ucap Laura. Memandang kaleng bir dalam genggamannya dengan penuh semangat. "Semenjak aku hamil."


Daffa tiba-tiba meraih tangan Laura. "Ra, aku mau kita bersama lagi."


"Aku mau kita bisa jadi sepasang kekasih lagi," bujuk Daffa. Pandangan matanya dipenuhi keyakinan. "Kamu mau kan?" tanyanya.


Tentu saja Laura menganggukkan kepalanya. Daffa adalah cinta pertamanya, bagaimanapun cinta pertama selalu mendapatkan tempat tersendiri dalam hati seseorang.


"Aku juga mau." Laura memandang Daffa dengan gelisah. "Akan tetapi, bagaimana sama Pak Adam?" tanya Laura.


Laura menggelengkan kepalanya. Dia tidak yakin bisa melepaskan pernikahannya. "Pak Adam bersikeras tidak mau menceraikan aku."


"Aku juga tidak bisa memaksanya. Dia akan curiga kalau aku sengaja menggugurkan kandungan itu." Laura menghela napas lagi. "Sebelumnya dia hampir curiga, tetapi aku berhasil meyakinkannya."


"Kalau aku terus memaksa dia, aku tidak yakin bisa meyakinkannya lagi." Laura menutup kalimatnya. "Aku menyerah."


Daffa mendorong Laura untuk tetap berada pada pendiriannya. "Bayangkan jika kamu bisa bercerai darinya, Ra."


"Kamu bisa bebas pergi ke mana pun. Kamu tidak akan kehilangan masa mudamu," ucap Daffa. Pemuda itu semakin mempererat genggaman tangannya. "Kalau kamu mau, aku bisa membantu kamu cerai darinya."


Laura perlahan-lahan menyipitkan mata. "Kamu bisa membantuku?" Dia tidak yakin dengan kalimat Daffa.

__ADS_1


Daffa manggut-manggut. "Aku punya cara. Aku yakin cara ini berhasil," bisiknya. "Kamu mau mengikuti caraku?"


Laura sedikit ragu. Berpacaran dengan Daffa lebih dari satu tahun, membuatnya hafal seperti apa pemuda ini. Dia tergolong ceroboh dan nekat, meskipun terkadang bisa diandalkan.


"Kamu mau?" Daffa kembali mendesak Laura. "Aku 100% yakin kalau ini akan berhasil. Bagaimana?"


Laura menggigit bibir bawahnya. Dia mencari objek pandangan lain untuk meyakinkan dirinya sendiri.


"Ra?" Daffa menyahut lagi. Dia tidak sabar mendengar jawaban dari Laura.


Laura menghela napas panjang. "Kamu yakin ini bisa berhasil? Tidak akan menimbulkan masalah apapun di kemudian hari, kan?" tanyanya.


Daffa tersenyum sumringah sembari menganggukkan kepalanya. "Aku akan mengusahakannya demi kamu, Ra."


>>>><<<<


Adam memandang rumahnya. Seperti biasa, Laura tidak ada. Padahal dia pulang lebih dulu tadi, Adam harus menghadapi kemarahan kepala sekolah. Lalu bertemu dengan Nurwa, berbincang panjang lebar menambah beban masalah di hatinya.


"Baru pulang?" Laura tiba-tiba datang dari belakang punggungnya. Suaranya serak, seperti orang habis bangun tidur.


Laura meliriknya. "Pak Adam sendiri?" tanyanya dengan ketus. "Kenapa baru sampai rumah? Tumben sekali," gumamnya.


Laura kembali melangkah melewati Adam begitu saja. Dia berhenti tepat di ambang pintu rumah, ternyata masih terkunci.


"Mana kuncinya?" tanya Laura. Dia memutar tubuhnya, menatap Adam. Tangannya terulur meminta kunci pada pria itu. "Aku mau masuk rumah dan beristirahat. Aku capek sekali."


Adam tidak menjawab. Dia mendekati Laura, berdiri di depannya. "Aku akan mengundurkan diri jadi guru di sana."


Laura membuka matanya lebar-lebar. Dia tidak perlu tanya atas dasar apa pengunduran diri itu. Laura tahu imbas dari semua yang terjadi hari ini.


"Kamu harus tetap melanjutkan sekolah, itu gantinya." Adam tersenyum tipis. Dia mengusap puncak kepala Laura. "Selesaikan sekolahmu. Jangan kecewakan keputusanku."


Laura masih berdiam diri. Entah apa yang ada di dalam kepalanya, Adam membuat Laura tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Adam tersenyum tipis. Sembari membuka pintu, dia kembali berucap, "Papa kamu ingin kamu lulus kuliah dan menjadi dokter. Namun, aku tidak yakin bisa menyekolahkan kamu sampai sana."


Laura masih membeku di tempatnya.


Pintu terbuka. Adam mendorong pintu di depannya. Tak langsung masuk, dia menoleh pada Laura lagi. "Gimana kalau kita cari beasiswa sama-sama? Aku yakin dengan nilai kamu, kamu masih bisa melanjutkan kuliah kedokteran."


Laura berdecak. "Pak Adam, aku boleh berbicara jujur?"


Adam manggut-manggut. "Aku benci hidup miskin. Aku benci hidup seperti ini. Aku tidak mau hidup bersamamu lagi."


Adam langsung mengerti ke mana arah pembicaraan mereka. Pasti tentang sebuah perceraian.


"Laura, aku tahu ketidaknyamananmu." Adam menghela napas. "Sayangnya, kita tidak bisa melakukan apapun. Bukankah kita sama-sama terjebak dalam situasi ini?"


"Ceraikan aku. Aku akan mencari kehidupanku sendiri," ucap Laura lagi. "Aku yakin aku bisa melakukannya sendiri."


Adam menunduk. Hatinya berusaha sabar sejauh ini. "Daffa mempengaruhi kamu lagi?" tanyanya.


Laura mengerutkan kening. Dari mana Adam tahu tentang pertemuannya dengan Daffa hari ini? Itu yang Laura pertanyakan dalam benaknya.


"Pak Adam. Aku hanya ...."


"Berhenti untuk mendengarkan pemuda itu. Dia saja tidak punya masa depan, lalu kenapa kamu mengikutinya?" tanya Adam ketus.


Adam menghela napas lagi. "Aku memaafkan kamu, meskipun aku tahu kamu mengambil uangku untuk membantunya."


Laura terkejut mendengar pernyataan itu. "Pak Adam tahu kalau aku ...." Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Bagaimana bisa?" tanyanya.


"Aku meloloskan kamu bukan berarti aku memberi peluang kamu untuk melakukannya, Ra," ucap Adam lagi. "Aku anggap itu kebodohanmu yang pertama dan terakhir kali."


"Sadarlah, dia hanya memanfaatkan kamu saja." Adam menutup kalimatnya. Dia mengusap puncak kepala Laura. "Dia tidak benar-benar menyukai kamu lagi."


Adam berpaling ketika Laura membeku di tempatnya. Laura memandang kepergian Adam dengan tak percaya. "Sejauh mana dia tahu?"

__ADS_1


Next.


__ADS_2