Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
28. Tamu Misterius


__ADS_3

Laura merasakan canggung luar biasa. Kini dia tahu, menikah bukan pasal tidur bersama yang dilegalkan. Ternyata lika-liku hampir membuatnya muak.


"Bajunya kebesaran ya?" Adam menahan tawa, melihat Laura tenggelam dalam baju besarnya.


Laura bersungut-sungut. Ingin marah, tetapi seharusnya dia berterima kasih. Setidaknya Adam tidak membiarkan dia telanjang bulat di rumah ini.


"Duduk. Kita makan bersama," ajak Adam menarik kursi di sampingnya. Berharap Laura duduk di sana.


Namun, sayangnya Laura memilih duduk di depan Adam. Sedikit jauh posisinya.


Adam mengerti, anggukan kepala itu berbicara demikian. Setidaknya, dia tidak perlu memaksa Laura untuk mengisi perut.


"Maaf hanya ada mie instan," ucap Adam tiba-tiba. "Aku tidak menyangka kalau ini semua akan terjadi, aku tidak menyiapkan apapun."


Laura tetap diam.


"Biasanya aku makan di rumah Bu Wanda, atau cari makanan di luar. Aku tidak terlalu suka masak," imbuh Adam lagi. Dia berusaha akrab dengan Laura.


Memori buruk tampaknya yang bisa hilang begitu saja dalam kepala Laura.


"Aku akan keringkan seragam kamu. Setelah ini kamu bisa tidur." Adam terus memancing Laura untuk berbicara, meskipun arah pembicaraannya ke mana-mana.


Adam mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Kartu ATM. Adam menyodorkannya untuk Laura.


"Kamu bisa pakai itu untuk bulanan kamu, sampai keadaan membaik." Adam menambahkan lagi. Fokus matanya tak berubah dari Laura.


Gadis itu tak ada aksi, rupanya ragu menerima pemberian Adam.


"Pak Adam anggap aku benar-benar miskin rupanya?" Laura menyeringai tajam. "Aku masih punya uang."

__ADS_1


Adam tertawa. "Kalau begitu kenapa tidak mencari hotel mewah dan menginap di sana?" balas Adam, bergurau.


Sayangnya, Laura tak bisa diajak bercanda dalam keadaan begini.


"Pak Adam mau aku pergi?" Laura hampir beranjak. "Baik, kalau begitu aku pergi."


Adam mencegahnya. "Aku hanya bercanda," tandas Adam. Dia kembali memaksa Laura untuk duduk. "Aku ingin menghibur kamu."


Laura menatap Adam. Ada satu kelegaan di dalam hatinya. Adam punya wajah yang tampan. Tubuhnya tinggi kekar, mirip pria dewasa pada umumnya. Kulitnya putih bersih. Setidaknya orang-orang memandang Adam sebagai pria sehat dan mumpuni.


"Ambil, Ra," ucap Adam memaksa lagi. "Besok kamu mulai sekolah. Aku yakin kalau kamu membutuhkan uang saku."


Adam menarik tangan Laura. Memberikan kartu itu dalam genggaman Laura. "Jika masih ada tabungan, biarkan uang itu tetap ada dalam tabungan."


"Kamu bisa menggunakannya untuk hal-hal mendesak lainnya." Adam mengajari Laura sedikit demi sedikit. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin hal lebih buruk akan terjadi, atau bisa jadi kita mendapatkan anugerah yang tak terkira."


Laura menghela nafas. Dia meletakkan pemberian Adam di atas meja, dan menundukkan kepala.


"Kenapa lagi?" Adam bertanya. "Aku membuat kamu sakit hati lagi?"


Adam tidak terlalu paham seninya memahami gadis pubertas seperti Laura. Bisa dikatakan ini adalah kali pertamanya dia menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Nurwa hanya teman dekat untuk Adam.


"Hidupku sekarang ...." Laura melirihkan suara. "Sangat menyedihkan."


"Aku tidak bisa kuliah di luar negeri." Laura memikirkan masa depannya. "Aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini?"


Adam mengusap punggung tangan Laura. "Sudah aku katakan, kamu hanya perlu menjalani hidup seperti biasanya."


"Aku yang akan mengurus semuanya." Adam menegaskan. "Kamu tidak perlu khawatir, Laura."

__ADS_1


Hampir mereka melanjutkan pembicaraan, suara ketukan pintu tiba-tiba menyela.


"Aku yang akan membukakan pintu." Adam baru saja ingin bangkit. "Kamu makan saja."


Laura mencegah. "Aku yang akan membukanya. Aku juga mau cari udara segar." Laura beralasan, tidak ada udara segar di malam yang dingin begini. Hujan di luar sana meredam segala macam suara.


Adam juga tidak bisa menolak Laura. Sekarang ini hanya perlu menuruti apa kata gadis itu.


Ketukan pintu terdengar lagi. Laura membuka pintunya. Alangkah terkejutnya dia ketika Daffa sudah berdiri di depan ambang pintu.


Tubuh Daffa separuh basah karena payung kecil itu tidak bisa melindungi dirinya.


"Daffa?" Laura tergagap-gagap di tempatnya. "K--kamu ngapain di sini?"


Daffa hanya memandang penampilan Laura. Seperti tuan putri yang baru saja diusir dari istana besarnya. Pakaian kedodoran, celana pendek di atas lututnya, dan luka yang ada di ujung jarinya. Ah, Daffa menemukan yang lain. Lutut Laura memerah, seperti habis berlutut terlalu lama.


Syukurlah, wajah Laura tak terkena imbasnya. Tidak ada luka yang mencela wajah cantiknya.


"Kenapa kamu ke sini?" Laura kembali bertanya, berharap dapat jawaban.


Daffa tiba-tiba menarik tubuh Laura, memeluknya. Laura yang terkejut tidak bisa melakukan apapun.


Adam melihat seseorang menarik Laura ke luar rumah, kecurigaannya adalah tamunya malam ini. Tidak ada yang tahu alamat rumah Adam, bahkan Nurwa sekalipun.


Adam beranjak dan menghampiri Laura. Terkejut ketika istrinya dipeluk lelaki lain.


"Apa yang kamu lakukan, Daffa!" teriak Adam. "Lepaskan!"


Next.

__ADS_1


__ADS_2