
Sore sepulang sekolah, Laura mendatangi tempat kerja Adam. Entah setan apa yang sedang merasuki dirinya, dia datang untuk membalas kebaikan Adam kemarin.
"Mau cari siapa?" Seseorang menegur Laura. Wanita lebih tua berdiri di belakang meja resepsionis.
"Em," gumam Laura. Dia sedikit berpikir. Barangkali Adam punya julukan lain di tempat ini. "Mau cari guru les sejarah yang namanya Pak Adam."
"Sebentar saya periksa dulu." Wanita itu dengan ramah menjawab. Dia kembali pada layar komputer di depannya. Beberapa detik kemudian, pandangannya kembali pada Laura. "Adam Dhanurendra, ya?" tanyanya.
Laura menganggukkan kepalanya yakin. "Bisa saya bertemu dengannya? Dia masih ada di tempat ini kan?"
"Tak ada memang hari ini ada jadwal mengajar sampai nanti malam. Akan tetapi, untuk saat ini dia tidak bisa diganggu." Wanita itu menjawab dengan lembut. "Dia harus membimbing kelompok untuk lomba pekan depan."
Laura terdiam sejenak. Adam lebih sibuk dari dugaannya.
"Kalau mau titip pesan atau sesuatu bisa dititipkan di sini, Mbak." Wanita itu mengusulkan lagi. "Nanti kalau Adam datang, saya yang akan memberikannya."
Laura menatap kue brownies yang dia bawa. Pertimbangan ada di dalam benaknya. Sebenarnya Laura ingin memberikannya langsung pada Adam, tetapi dia juga benci menunggu dalam waktu yang lama.
"Kalau begitu tolong berikan kue ini padanya nanti." Laura meletakkan kue di depannya. "Tolong jangan bilang dari siapa. Dia cukup menerimanya saja."
Wanita itu menganggukkan kepalanya paham.
"Kalau begitu saya pergi. Terima kasih sebelumnya." Laura beranjak dari tempatnya, meninggalkan bangunan itu.
Jakarta lagi-lagi mendung. Seakan tidak membiarkan senja yang indah sehari pun.
"Aku harus cari makan dulu," gumam Laura. Dia menatap sekitar bangunan itu, pandangan matanya langsung berhenti pada seorang wanita tua yang berdiri tidak jauh darinya. Wanda.
__ADS_1
Wanda mendekati Laura. Menyapa gadis itu dengan begitu hangat. "Nak Laura?"
Laura tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Dia canggung melihat Wanda tiba-tiba.
"Kamu apa kabar?" Wanda bertanya dengan begitu lembut. "Sudah lama sekali kita tidak saling menyapa, kan?"
Laura menganggukkan kepalanya. "Baik. Kalau Bu Wanda?"
"Tentu saja aku baik-baik saja." Wanda sekarang menatap sekitarnya. Dia datang untuk membawakan makanan untuk Adam, katanya lelaki itu akan lembur sampai malam.
Wanda kembali memandang Laura. "Ngomong-ngomong kamu kenapa ke sini?" tanyanya, "Mau bertemu dengan seseorang?"
Laura langsung terdiam. Seharusnya dia tinggal menjawab, kalau dia ingin bertemu dengan Adam. Anehnya, Laura memilih untuk berbohong.
"Aku mau ketemu sama temanku. Dia les di tempat ini." Laura menggaruk sisi kepalanya yang tak gatal. "Ternyata dia sudah masuk kelas jadi tidak bisa diganggu."
Wanda menganggukkan kepalanya. "Kamu tahu kalau Adam juga kerja di sini sekarang?"
Laura menganggukkan kepalanya tak yakin. "Kabarnya sudah tersebar di beberapa temanku di sekolah."
Wanda meraih pundak Laura. "Ngomong-ngomong soal Adam, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Kamu mau ikut denganku dan berbicara sebentar?"
Laura mulai was-was tanpa sebab. Pihak yang pertama kali menentang pernikahannya dengan Adam dulu adalah Wanda.
"Tidak akan lama, hanya beberapa hal saja yang ingin aku bicarakan. Mumpung kita bertemu di sini," ucap Wanda lagi. "Kamu mau kan?"
Laura terpaksa menganggukkan kepalanya. Dia tersenyum manis kemudian. "Boleh, Bu Wanda."
__ADS_1
>>>><<<<
Tempatnya tidak jauh, di sinilah mereka berada. Sebuah kedai makan sederhana dengan suasana yang tidak terlalu ramai. Meskipun begitu, Wanda tetap memilih tempat yang jauh dari pengunjung lainnya.
"Kamu mau makan apa?" tanya Wanda.
Laura menggelengkan kepalanya. "Sebelum pulang dari sekolah aku sudah makan tadi sama teman-temanku," ucap Laura berbohong. "Aku masih kenyang."
"Baiklah kalau begitu. Katakan padaku jika kamu mau makan sesuatu." Wanda menawarkan dengan lembut.
Naura hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Nak Laura," panggil Wanda. Tatapannya mulai berbeda. Inilah waktunya. "Seperti yang aku katakan tadi, ada yang ingin aku bicarakan padamu tentang Adam."
Laura jadi takut, padahal dia tidak melakukan kesalahan apapun.
"Sebenarnya aku tidak berhak melarangnya. Dia sudah bisa menentukan pilihannya sendiri." Wanda sedikit berbasa-basi, kiranya memberi aba-aba pada Laura untuk menyiapkan ruang di dalam hatinya jika dia terluka oleh kata-katanya.
"Papa dan mamamu sangat berjasa pada mendiang orang tua Adam di masa lalu." Wanda mulai mengulas kenyataannya. "Hanya sebuah lelucon untuk menjodohkan kalian berdua di masa depan, tetapi Adam berhutang budi atas semua jasa kedua orang tuamu."
"Emangnya apa yang dilakukan papa dan mama sama orang tua Pak Adam?" tanya Laura. Dia tidak pernah berani bertanya langsung pada Adam, mungkin saja masa lalu yang menyakitkan.
"Adam adalah anak seorang pembunuh, Laura." Wanda berterus-terang. "Ayahnya adalah seorang pembunuh."
Laura memicingkan mata. "Apa yang ...."
"Ayahnya tidak hanya membunuh satu orang, tetapi puluhan orang, barang kali?" Wanda menggelengkan kepalanya. "Akut tidak yakin. Itu kenangan yang menyakitkan."
__ADS_1
"Apa yang Bu Wanda maksud?" Laura mendesak. "Jelaskan!"
Next.