Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
59. Laura Hamil Lagi?


__ADS_3

"Pak Adam!" Belen memanggil Adam ketika melihatnya berjalan seorang diri.


Bersyukurnya Belen sebab dia melihat Adam di lorong sekolah, suasana sepi hanya ada mereka sekarang.


Adam menoleh. Dia menunggu gadis itu menghampirinya.


"Ada yang ingin aku bicarakan sama Pak Adam." Belen memberanikan diri untuk menghadap Adam kali ini.


Adam hanya terdiam sembari menganggukkan kepalanya.


Belen tiba-tiba menyerahkan apa yang dia ambil dari rumah Adam kemarin. "Aku mengambil buku nikah Pak Adam dan Laura."


Adam tak ingin terkejut, sebenarnya dia sudah menduga hal ini. Hanya Belen yang terakhir kali datang ke rumahnya.


Adam menyesal karena meninggalkan gadis ini sendiri.


"Terima kasih karena mau mengembalikannya." Adam tersenyum seadanya. Dia menerima pemberian Belen.


Belen mengerutkan keningnya. "Pak Adam tidak marah padaku?"


Adam menggelengkan kepalanya. "Kalau aku jadi kamu aku juga akan melakukan hal yang sama."


"Kamu pasti merasa ditipu kan?" Adam menyunggingkan senyum. "Jangan benci Laura."


Belen terdiam.


"Laura punya alasan kenapa tidak memberitahu kamu tentang pernikahan ini." Adam menghela napas. "Aku yang pantas kamu benci. Aku yang memaksa Laura untuk menikahiku."


Adam berdusta. Dia harus melindungi aib istrinya.


Belen mendesah panjang. Dia sudah tahu, dia juga sudah mendapat pengakuan dari Laura. Namun saat Adam mengatakannya, dia kembali terluka.


Fokus Adam tertuju pada kalung yang diberikan oleh Belen bersama dengan buku nikah, krim Laura, dan jepit rambut istrinya itu.


Adam menganggukkan kepala. "Kamu merebut kalung ini dari Laura secara paksa?" tanya Adam.


Belen menatapnya dalam diam. Kemudian, dia mengangguk. "Maafkan aku, Pak."


"Leher Laura terluka. Dia jadi demam kemarin," ucap Adam. "Sepertinya kamu harus minta maaf sama dia."

__ADS_1


Belen membulatkan matanya. "Laura sakit?" Dia celingukan. "Tapi dia masuk sekolah tadi."


"Kamu bahkan menghindari dia dan duduk di tempat lain, hanya karena kamu tahu tentang kebohongannya?" Adam tertawa. "Pertemanan kalian itu lucu sekali."


"Kami berjanji untuk tidak saling membohongi," jawab Belen.


Adam menepuk pundak Belen. "Maafkan dia, maka dia juga akan memaafkan kamu."


"Aku tahu memang kebohongannya terlalu besar. Namun, kata Laura kamu adalah teman yang paling dekat dengannya. Itu artinya kamu pasti lebih mengenalnya," pungkas Adam dengan yakin. "Jadi aku harap kalian tidak bermusuhan lebih lama lagi."


Adam beranjak dari tempatnya. Namun, Belen kembali mencegah. "Aku menyukai Pak Adam!"


Gadis itu memejamkan rapat kedua mata setelah mengakui perasaannya. Dia mendesis ringan. Tiba-tiba saja, Belen langsung menyesali kalimatnya.


"Ah, seharusnya aku nggak bilang itu," gumam Belen.


Belen menoleh. Dia memutar tubuhnya ketika tidak mendapat jawaban apapun dari Adam. Awalnya gadis itu mengira kalau Adam tidak mendengarkannya. Namun, ternyata Adam berdiri di tempatnya sembari menatap Belen.


"Pak Adam ...." Belen mulai ragu. "Tidak terkejut?"


Ada menggelengkan kepalanya lebih yakin lagi. "Aku sering mendengar kalimat itu dari banyak perempuan."


Belen menyunggingkan senyum. "Dia aneh sekali," gumamnya pada dirinya sendiri.


Belen mengerutkan keningnya. "Lalu? Apa hubungannya denganku?"


Adam menggelengkan kepalanya. "Aku hanya penasaran, seperti apa tipe idealnya Laura? Kenapa aku yang tampan ini tidak masuk dalam kategorinya?"


Belen dibuat bingung oleh Adam sekarang. Dia sampai tidak bisa berkata-kata dengan keunikannya.


Ada memahami kebingungan Belen. Dia lantas tertawa kemudian. "Itu artinya jangan sukai aku lagi, Belen."


"Hubungan kita hanya sebatas guru dan murid. Lalu tiba-tiba berubah menjadi teman karena aku adalah suaminya sahabat kamu," ucap Adam lebih serius.


Adam menghela napas. "Kamu masih muda dan kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku."


"Kamu juga cantik dan nilai kamu juga bagus. Aku yakin kamu bisa mendapatkan laki-laki yang mapan di luar sana," imbuh Adam. "Jadi, tolong jangan sukai aku lagi sebagai seorang pria. "


Belen mulai merasakan sesak di dalam dadanya. Berani mengutarakan perasaannya padahal dia tahu Adam itu siapa. Bukan hanya tentang Laura, Belen juga yakin kalau ada makan menolaknya mengingat hubunganmu formal mereka sebagai murid dan guru.

__ADS_1


"Pak Adam menolakku?" tanya Belen memastikan.


Adam mengangguk. "Karena aku sudah punya istri dan aku tidak menyukai kamu lebih dari guru dan murid, Belen."


Adam meraih bahu Belen. "Tolong mengerti itu. Namun, aku berharap kamu masih tetap menyukaiku sebagai gurumu. Aku akan menjadi penyemangat untuk belajarmu kan?"


Belen memundurkan langkah kakinya. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau!"


Adam mengerutkan keningnya.


"Aku akan memilih membenci Pak Adam saja. Dengan begitu, perasaanku akan hilang," tuturnya. Belen membungkuk. "Aku pergi ke kelas dulu."


Tanpa menunggu jawaban dari Adam, Belen pergi begitu saja. Tentu saja, gadis itu merasa malu setelah ditolak mentah-mentah di depan wajahnya sendiri. Seharusnya Belen tidak senekat itu.


>>>><<<<


Laura mematikan kran di depannya. Gadis itu memandang lekat pantulan cermin yang menampilkan wajah pucatnya.


"Aku kenapa?" gumam Laura lirih. Dia mual seharian penuh. Padahal dia hanya makan sarapan beberapa sendok saja.


"Masuk angin, Ra?" Seseorang keluar dari pintu kamar mandi di sebelahnya. Gadis itu memandang Laura sedikit aneh. "Atau yang lain?"


Laura mengerutkan kening. "Yang lain?" tanyanya. Laura menatap temannya itu dengan jeli. Sedangkan gadis yang ada di sisinya malah tertawa gila.


Begitulah Dinda. Memang sedikit aneh orangnya. Dinda dikenal suka 'nyablak' kalau berbicara.


Dinda menatap perut Laura. "Aku beberapa melihatmu keluar masuk bar dan diskotik," bisiknya. Dinda takut ada yang mendengarkannya pembicaraan mereka.


Laura manggut-manggut. "Benar. Tapi belakangan ini aku sudah tidak datang ke sana lagi karena ...."


Laura terdiam dan menelan kembali kalimatnya. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Adam melarangnya.


Dinda menyeringai. "Kehamilan memang tidak langsung terjadi malam itu juga, Ra."


Laura semakin jelas mengerutkan kening. "Kamu ini ngomong apa? Aku cuma mual dan muntah karena semalam ...." Gadis itu terdiam ketika mengingat sesuatu. Laura kehilangan ingatan kemarin malam. Tiba-tiba saja dia bangun setengah telanjang di samping Adam.


Dinda tertawa. Dia menepuk bahu Laura. "Coba periksa, gawat kalau nanti membesar tiba-tiba."


Next.

__ADS_1


Note : Rekomendasi novel keren untuk kalian^^



__ADS_2