Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
47. Suami Siapa?


__ADS_3

Pandangannya kosong. Laura tidak bisa mendeskripsikan perasaannya sendiri. Yang jelas, dirinya tidak benar-benar bahagia juga tidak terlalu menyesali keputusannya.


Daffa pergi setelah dia memastikan Laura dalam keadaan baik-baik saja. Katanya, dia akan menemui Laura lagi setelah semuanya membaik. Kini saatnya menjalankan skenario yang dimaksud.


"Di mana perempuan muda hamil yang katanya baru saja masuk klinik ini?"


Laura mendengar suara Adam samar-samar masuk ke dalam telinganya. Namun, dia tidak berani membuka tirai dan menyambut Adam datang. Laura tidak yakin, rencananya akan beres dalam satu malam.


"Di sana, Pak," jawab perawat.


Adam tak berbasa-basi. Sejak datang pandangan matanya sudah tak tenang, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran, dan pikirannya begitu kacau.


"Laura!" Adam membuka tirai yang ditunjuk oleh perawat tadi. Tirai itu menyembunyikan Laura yang duduk di atas ranjang berselimutkan kain selimut khas rumah sakit.


Adam memandangnya dengan jeli. "Laura?" Dia mendekati Laura. Wajahnya pucat, matanya sembab sayu, dan hidungnya memerah. Khas seperti orang selesai menangis.


Laura mengulum ludah. Keberaniannya tak sebesar yang dia kira. "Pak Adam, aku ...."


Adam tak menghiraukan kalimat Laura. Dia memeluk gadis itu dengan erat. "Maafkan aku, Ra."


Mendengar kekhawatiran Adam begitu dalam, bersama dengan pelukan yang penuh makna, Laura hanya terdiam.


Genangan air mata mengaburkan pandangan Laura. Sekarang dia merasakan penyesalan melintas sejenak. "Pak Adam ...."


"Maafkan aku," sahut Adam lagi. "Kamu begini pasti karena marah dan frustasi."


Adam melepaskan pelukannya. "Seharusnya aku tidak bertindak sebodoh itu dan membiarkan kamu pergi sendirian dalam keadaan marah."


"Aku bersama Daffa." Bodohnya Laura malah bergumam seperti itu. "Ah, maksduku ...."

__ADS_1


"Katanya kamu kecelakaan tunggal, kamu terjatuh dan kehilangan kandungan kamu." Adam tak kuasa menahan air matanya. "Maafkan aku."


Laura menatap Adam dengan bingung. Dia melihat Adam dengan cara yang berbeda kali ini. Adam seakan mengingatkan dirinya pada Pak Faishal yang akan marah bercampur sedih ketika Laura terluka.


Laura menunduk. "Bukan salahnya Pak Adam," gumam Laura. "Aku seharusnya hati-hati."


Adam menyeka air matanya. Dia mengusap wajah Laura dengan lembut. Gadis itu merasa benar-benar disayangi malam ini. Sisi lain dari Adam yang tidak pernah Laura tahu, kini dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Aku tidak tahu bagaimana cara meminta maaf padamu," tutur Adam lagi. "Aku sangat merasa bersalah."


Adam berlari dari rumah sakit tempat ayah Nurwa dirawat setelah mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal yang mengatakan Laura harus segera dijemput pulang, ini sudah hampir tengah malam.


"Aku terlalu fokus pada Nurwa, sampai aku lupa tentang kamu." Adam terus menyalahkan dirinya. Sedangkan Laura, terdiam tak berkutik.


Jujur saja, Laura tidak menyangka Adam akan tertipu semudah ini. Padahal semua skenario yang disusun Daffa sangat tidak masuk akal bagi Laura.


"Nurwa?" Laura penasaran. "Apa yang terjadi?"


Laura tersenyum kecut lewat bibir pucatnya itu. "Aku baik-baik saja."


Adam menolak kalimat itu. "Bagaimana dengan rawat inap satu malam lagi?" tanya Adam. "Kamu butuh perawatan intensif."


"Nggak perlu, Pak Adam." Laura lekas menyingkirkan selang infus dari tangannya. "Aku mau pulang."


Laura hendak menyelesaikan kenangan buruk di tempat ini. Secara gamblang, Laura membunuh satu nyawa di ruangan klinik ini. Dia tidak mau tidur dan bermalam di tempat menyeramkan seperti ini.


"Tapi, Ra ...."


"Aku mohon!" Laura mendesak. Dia meraih tangan Adam. "Aku mohon, Pak Adam. Aku ingin tidur di rumah saja."

__ADS_1


Adam terpaksa mengangguk. Dia cukup bersalah kali ini pada Laura. "Baiklah. Aku akan urus kepulangan kamu."


>>>><<<<


"Adam sudah menikah."


Nurwa dikagetkan dengan kedatangan ibunya, Lasti. Wanita itu duduk di sisi Nurwa dan tersenyum. "Bukankah begitu, Nur?"


"Ibu tahu?" Nurwa tersenyum kecut. "Aku kira tidak."


"Wanda yang bilang." Lasti tersebut seadanya. "Juga tidak akan bisa dirahasiakan terus menerus."


Nurwa menoleh pada Lasti. Dia menggelengkan kepalanya. Wajahnya berubah menjadi sedih. "Nurwa harus bagaimana sekarang, Bu?"


Lasti tak menjawab. Dia merangkul putrinya dan menepuk pundaknya. "Kita pikirkan abah kamu dulu saja. Biaya rumah sakit juga semakin mahal," kata Lasti. "Tentang Adam, kita diskusikan belakangan."


"Saya bisa bayar biaya rumah sakitnya." Seorang pria datang. Suaranya menggema di koridor rumah sakit.


Nurwa menoleh. Ditatapnya siapa yang datang. Wajahnya tak asing, caranya berpenampilan pun begitu familiar. "Tuan Darya?"


Tuan tanah, orang paling kaya di kampung Nurwa dulu. Entah bagaimana ceritanya, dia bisa sampai ke Jakarta dan datang ke rumah sakit ini. Darya menyukai Nurwa, tetapi tidak dengan Nurwa. Nurwa tak sudi menjalin hubungan dengan pria mata keranjang sepertinya.


"Aku akan melunasinya." Darya mendekati Nurwa dan Lasti. "Syaratnya sudah tahu kan?"


Nurwa langsung menyahut. "Aku tidak akan menikah denganmu!" jawabnya. "Aku sudah punya calon suami!"


Lasti meraih tangan putrinya, berharap Nurwa tidak gegabah. Sayangnya, Nurwa terlanjur terbawa emosi. "Kami akan menikah sebentar lagi."


Darya malah tertawa. "Benarkah? Siapa namanya?"

__ADS_1


Nurwa melirik Lasti. Ibunya menggelengkan kepala samar. Namun, Nurwa keras kepala. "Adam!"


Next.


__ADS_2