Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
62. Ketauan Menikah


__ADS_3

Laura diam sembari menahan rasa sakit di kedua lututnya kala Adam menempelkan obat merah di atas lukanya. Laura tidak habis pikir, luka di kening Adam jauh lebih parah ketimbang luka di lutut dan siku tangan Laura saat ini. Akan tetapi, Adam lebih mementingkan Laura.


"Aku akan berbicara sama kepala sekolah tentang pernikahan kita." Adam berbicara seadanya. "Kamu tidak perlu khawatir, tinggal masuk kelas dan belajar saja."


Laura memalingkan wajahnya. Dia hampir menangis, tetapi masih keras kepala untuk menahannya.


"Kamu juga harus minta maaf sama Belen," imbuh Adam lagi. Sekarang fokus Laura disita untuk Adam.


Ada menatap Laura. "Itu bukan salahnya," ucapnya. Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Belen bukan dalangnya. Kamu sudah menyerang orang yang salah."


Laura mengerutkan dahi. "Dari mana Pak Adam tahu kalau itu bukan ulahnya?"


Adam menghela napas sembari membersihkan kapas kotor bekasnya mengobati luka Laura. "Belen sudah mengembalikan buku nikahnya. Dia juga mengaku kalau dia mencurinya."


Adam mengeluarkan kalung Laura yang dia simpan di dalam saku celananya. "Dia juga mengembalikan kalung yang diambil dari kamu secara paksa."


Laura terdiam. Dia terpaksa menerima pemberian Adam tanpa sempat memberi pertanyaan apapun.


"Itu ulah Almira. Dia yang mencuri buku nikahnya," ucap Adam dengan tegas. "Aku tahu itu sejak mereka pulang kemarin. Namun, aku tidak bisa ...."


"Pak Adam diam saja?" Laura memicingkan mata. "Pak Adam diam saja ketika Almira memegang buku nikah itu?" Laura semakin tegas. Tiba-tiba dia memberontak. "Lihat apa yang terjadi sekarang!"


"Laura," sambung Adam. Dia berusaha lembut. "Aku tahu semuanya jadi kacau. Kita harus melewatinya. Lagian, cepat atau lambat pernikahan ini juga akan diketahui teman-teman kamu."


"Kamu tidak bisa menyembunyikan semua ini lebih lama lagi," imbuh Adam dengan yakin.


"Setidaknya biarkan jadi rahasia sampai aku lulus," gerutu Laura kesal. Dia memaksakan diri untuk turun dari ranjang, meskipun kakinya masih terasa perih.

__ADS_1


"Pak Adam benar-benar bodoh!" ketus Laura memprotesnya. "Aku tidak mengerti bagaimana otak Pak Adam itu bekerja, tetapi bagiku ... Pak Adam itu bodoh!"


Laura berpaling dari hadapan Adam. Memaksakan langkah kaki, meskipun dia harus berjalan pincang sekarang.


"Laura!" Adam memanggilnya. Namun, Laura enggan untuk menggubrisnya. "Laura! Dengarkan aku dulu!"


"Laura!"


>>>><<<<


Laura berjalan menyusuri lorong sekolah. Pemandangan tak biasa dilihatnya sekarang. Semua teman-temannya memandang Laura tanpa henti, tanpa jeda. Lewat pandangan mata itu, dia seakan dihakimi paksa.


"Ini yang nikah sama guru sejarah kita?" Seseorang menghadang Laura. Menatap penampilan Laura dari atas sampai bawah. Sangat kacau! Bekas pertengkarannya dengan Belen tadi.


"Laura Mentari, dewinya SMA ini malah menikah dengan guru baru yang tidak ada hebat-hebatnya sama sekali?"


Semua orang bersorak menghina Laura dengan semangat. Sebelumnya Laura tidak pernah diperlakukan seperti ini. Semua teman-temannya hanya punya kekaguman luar biasa pada dirinya. Laura Mentari adalah lambang kesempurnaan untuk semua gadis penghuni sekolah ini.


Laura menoleh. Menatap sinis. "Jangan sok tahu," ketusnya.


"Kamu menjual diri kamu?" Seseorang menyahut lagi. Suaranya lebih tegas dan berani.


"Jangan sok tahu!" Hanya kalimat itu yang bisa dilontarkan Laura. Dia tidak mungkin menjelaskan semua situasi sulitnya pada orang-orang ini.


"Aku mengira kamu akan menikah dengan pria kaya raya yang punya masa depan. Namun, ternyata malah memilih guru baru yang gajinya setara sama uang jajanmu?" kekeh temannya lagi.


Laura enggan menggubris. Dia melanjutkan langkah kaki dan berusaha mengabaikan semua suara yang berusaha menghakimi dan menghinanya.

__ADS_1


Di ujung lorong, dia melihat Belen berdiri menyaksikan semuanya tanpa bereaksi apapun. Saat Laura hendak memanggilnya, Belen berpaling. Gadis itu memilih meninggalkan Laura sendirian.


Laura mengerti, Belen pasti marah dan benci padanya.


>>>>><<<<


"Pak Adam Dhanurendra, benarkah kamu menikahi salah satu murid berprestasi di sini?" Kepala sekolah menyodorkan buku nikah milik Adam. "Laura Mentari."


Adam terpaksa mengangguk. Tidak ada jalan untuk membuat kebohongan, bukti sudah ada di depan mata.


"Ah, ini situasi yang aneh," gumamnya. Bela menatap Adam lagi. "Hanya ada dua pilihan, Pak Adam."


Adam mendongak. Menatapnya dengan saksama.


"Jika saya membiarkan ini terjadi, maka akan ada desas-desus buruk tentang kalian. Seperti guru cabul, guru yang memprioritaskan satu siswi karena dia adalah istrinya, dan sebagainya." Bela tersenyum kecut. "Itu juga akan mengganggu reputasi sekolah ini."


Bela menghela napas. "Aku akan berbicara dengan orang tua Laura. Belakangan ini mereka sulit sekali dihubungi. Namun, aku akan mencoba menghubunginya."


Adam menggelengkan kepalanya. "Saya adalah wali Laura sekarang, Bu Bela."


Bela mengerutkan keningnya. "Itu bukan sesuatu untuk dibanggakan, Pak Adam."


"Bu Bela bisa berbicara langsung pada Saya," ucap Adam dengan mantap. Tidak peduli wanita tua itu akan berpikir semacam apa.


Bela menghela napas lagi. "Pilihlah kalau begitu." Bela membuat keputusan. "Kamu atau Laura yang tetap tinggal di sekolah ini?"


Adam terkejut dengan pilihan itu. Jika dia memilih Laura, maka Adam harus mundur dari posisinya. Namun, jika merelakan Laura, maka masa depan gadis itu benar-benar akan hancur.

__ADS_1


"Keputusannya besok pagi. Saya tidak bisa menunggu waktu yang lama." Bela lebih mantap berbicara. "Sebelum rumor ini menyebar ke luar sekolah, kita harus mengantisipasinya, bukan?"


Next.


__ADS_2