Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
131. I Love U


__ADS_3

Laura hendak memasukkan bakso ke dalam mulutnya, tetapi kedatangan Adam menghentikan itu. Lelaki ini tiba-tiba menarik kursi di depannya, meletakkan satu nampan berisi 2 mangkuk besar di atasnya.


"Pa Adam ini ngapain?" Laura memicingkan mata ketika pria itu benar-benar duduk di depannya. "Tidak lihat kalau aku ada di sini?"


Adam menatapnya sejenak, sebelum akhirnya mengaduk bakso di depannya. "Makan," jawabnya singkat.


"Aku tanya, apakah Pa Adam tidak melihat kalau aku duduk di sini?" Laura tidak berhenti-hentinya menatapnya. "Aku Laura, loh!" Laura menepuk-nepuk dadanya sendiri, barangkali Adam sedang teler atau semacamnya hingga tidak mengenali dia.


Adam manggut-manggut. Dia memasukkan bakso ke dalam mulutnya, lalu bergumam, "Aku tahu."


"Kalau tahu kenapa masih di sini?" Laura sedikit membentak. "Kita baru saja bertengkar tadi. Bukankah sedikit aneh kalau Pak Adam tiba-tiba duduk di depanku?"


Adam memandang sekelilingnya. "Teman-temanmu tahu kalau kita bertengkar?"


Laura memicingkan mata sembari mengerutkan dahi. "Pak Adam?"


"Karena kursi ini kosong jadi aku duduk di sini." Adam menyahut. Dia tersenyum lalu menusuk bakso di depannya dengan ujung garpu. "Tidak ada yang tahu kalau kita bertengkar, jadi tidak aneh kalau kita duduk bersama."


"Aneh bagiku." Laura melepas sendok dalam genggamannya. Dia mendesah kasar. "Pak Adam berniat untuk mempermainkan perasaanku sekarang?"


Adam menggelengkan kepalanya.


"Kalau bukan itu, apa niat Pak Adam duduk di sini?" tanya Laura ketus. "Aku yakin, Pak Adam ...."


"Makan bakso," sahut Adam kemudian. "Itu niatku."

__ADS_1


Laura mendesah panjang. Dia menahan diri sejak tadi. "Duduk saja di tempat lain. Tempat yang kosong di sini lebih dari satu!" Laura kesal.


Adam terkekeh-kekeh. "Aku suka makan di sini. Pemandangannya bagus," ucapnya sembari menunjuk di belakang punggung Laura. Memang ada taman kecil di sana. Air mancur dan kolam ikan menjadi objek pandangan yang pas.


Laura menunduk sejenak. Dia manggut-manggut saja. Tak mau menghilangkan napsu makan, dia lekas beranjak. "Kalau begitu aku yang pindah," ucap Laura.


"Kita temui dokternya bersama," ucap Adam tiba-tiba. Tentu saja kalimat yang membuat Laura terduduk kembali. Gadis itu tidak jadi pergi meninggalkannya.


Ditatapnya Adam dengan begitu serius. "Wah, sepertinya Pak Adam begitu antusias setelah tahu kalau keputusanku adalah menggugurkan kandungan ini."


Dari tadi Adam hanya fokus menyantap bakso di depannya, Laura menjadi objek kedua yang baginya tak terlalu menarik di saat perutnya sedang lapar.


"Pak Adam benar-benar ingin aku menggugurkan kandungannya?" tanya Laura. "Ingin sekali?"


Adam menatapnya. "Aku hanya menepati janjiku setelah kita bercerai, Laura."


"Aku tidak akan mengikatmu jika kamu tidak mau, tidak akan memaksa kehendak jika memang itu keputusanmu." Adam mengulang kalimatnya sendiri. "Singkatnya, aku tidak mau membatasi kebebasanmu."


Laura seakan ditampar oleh fakta. Diamnya mencoba untuk memahami pola pikir Adam. Di dalam perutnya adalah janin anak kandung Adam. Seharusnya pria ini lebih waspada.


"Jangan bilang kalau Pak Adam juga ragu ini adalah anaknya Pak Asam?" Laura meneliti pria itu. "Itu pemikiran Bu Wanda yang membuatku sakit hati."


Adam memandang Laura. "Ah, jadi dia mengatakan hal itu?"


Adam menyeka bibirnya. Dia tersenyum pada Laura. "Aku minggat dari rumah," ucapnya. "Aku yakin kalau kamu sudah mendengar hal itu. Nurwa mendatangimu bukan?"

__ADS_1


"Mau menyalakan aku?" Laura menyeringai. "Memangnya aku menyuruh Pak Adam untuk minggat dan membentak ibu Pak Adam?"


Adam menggelengkan kepalanya. "Aku hanya membuat pilihan."


"Aku tidak mau melanjutkan hubungan kita," ucap Laura lagi. "Apa pun alasannya, aku sudah terlalu muak dengan hidup ini. Aku mau bebas dan kembali menikmati masa mudaku. Waktunya tinggal sebentar lagi."


Tanpa suara Adam terus menatapnya. Sepasang manik mata Laura berbicara demikian. Gadis itu berada di ambang kebingungan yang luar biasa.


Adam mengangguk sekali. "Aku akan bawakan uangnya besok pagi," jawab Adam. "Pagi-pagi sekali aku akan mendatangimu."


"Boleh aku tanya suatu?" Laura memotong kalimat Adam. Sekarang caranya berbicara jauh lebih lunak, percuma juga ngotot jika memang itu tidak bisa melupakan hatinya.


"Kenapa Pak Adam kembali ke sini lagi?" tanya Laura. "Aku menolak tanggung jawab dari Pak Adam untuk yang kedua kalinya, seperti siklus yang berulang bukan? Namun, Pak Adam gigih lagi." Laura menyeringai tipis. "Apa tujuan Pak Adam sebenarnya?"


Adam menunduk, dia tidak menjawab Laura.


"Balas budi atas orang tuaku?" Laura menyimpulkan. "Aku akan menganggap hutang itu lunas kemarin. Pak Adam tidak perlu merasa seperti itu lagi. Aku tidak menagih apapun," ucapnya.


Laura menghela napas berat. "Aku tidak ingin Pak Adam terbebani hanya karena balas budi sialan itu. Aku juga akan terbebani nantinya."


"Bukan itu alasannya," sahut Adam pada akhirnya. Keduanya bertukar pandang sejenak.


"Lantas?"


Adam mengangguk yakin. "Aku mencintaimu, Laura. Sangat mencintaimu."

__ADS_1


Next.


__ADS_2