Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
16. Belenggu Yang Unik


__ADS_3

Satu minggu kemudian ....


Tak ada yang faham bagaimana leganya langit setelah meneteskan bebannya berupa hujan. Semua mengira bahwa langit menangis karena kesedihan yang dia rasakan, tetapi untuk Laura dia belajar satu hal. Bahwa hujan yang turun membasahi bumi, adalah ketidakmauan langit menahannya lagi.


"Sialan," ucap Belen tiba-tiba. Dia berdiri di samping Laura yang baru saja mengulurkan tangan untuk menadah hujan dengan telapak tangannya.


Laura menoleh pada Belen. "Mengumpat padaku?"


"Semuanya," ucap Belen geram. "Orang bilang kamu hamil anak Daffa," kata Belen mengimbuhkan.


Laura mengerutkan dahi mendengarnya. Satu minggu dia tidak masuk sekolah, Laura kehilangan banyak berita yang menyangkut namanya.


"Kenapa orang-orang bisa ngomong gitu?" tanya Laura. "Mereka tidak punya bukti apapun."


Belen berdecak. "Tau Almira?" Belen memandang Laura dari atas sampai bawah. "Dia mendapat pengakuan dari Daffa, katanya Daffa mencari kamu seminggu ini untuk tahu bagaimana anak dalam kandunganmu."


"Daffa ngomong gitu secara langsung?" Laura mulai penasaran. Daffa yang dia kenal tidak akan sebodoh itu.


"Daffa mabuk, seperti biasa." Belen menggerutu. "Almira bersama dia malam itu. Jadi mereka mengobrol banyak."


Laura malah tertawa. "Kenapa orang-orang masih percaya omongan orang mabuk," gumamnya. "Bahkan untuk berjalan saja mereka tidak bisa, apalagi ngomong tentang kebenaran."


Belen memandang Laura yang aneh belakangan ini. "Lupakan soal Almira," tandas Belen lagi. "Aku punya pertanyaan yang jauh lebih menarik daripada itu untuk dibahas."


Laura mulai memandang temannya itu dengan was-was. Dia tidak punya banyak penjelasan untuk kepergiannya satu minggu ini.


"Aku hanya dengar dari guru kalau kamu pergi ke luar negeri untuk menjenguk nenekmu yang sakit dan ada acara keluarga di sana," terang Belen sedikit demi sedikit.


Laura manggut-manggut. "Kamu benar."


"Kamu pikir aku percaya begitu saja?" Belen menyeringai. "Aku ini teman kamu, Ra!" Belen merangkul Laura. "Aku tahu kamu sampai ke akar-akarnya."


Laura semakin was-was jika sudah dihadapkan dengan Belen tentang sebuah kebohongan. Belen benar, mereka saling mengenal dengan baik.


"Kamu tidak suka menghadiri acara keluarga dan bertemu banyak orang. Kamu selalu kabur ketika mamamu mengajakmu untuk melakukan itu, lalu kenapa tiba-tiba kamu mengorbankan waktu satu minggu yang berharga di sekolah ... hanya untuk itu?" Belen mencurigainya.


Belen tersenyum tipis. "Aku rasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan, Ra?"


Laura tidak menjawab, dia hanya memandang Belen penuh kecemasan.

__ADS_1


"Kamu masih mau bohong sama aku, Ra?"


>>>>>><<<<<


"Bohong sama kamu?" Adam tertawa ringan. Dia kembali duduk di depan Daffa sembari meletakkan buku tugas pemuda itu. "Tidak ada alasan untuk aku melakukan itu, Nak."


"Berhenti memanggilku 'Nak', Pak Adam." Daffa mulai kesal dengan pembawaan Adam yang begitu tenang, terkesan menggampangkan.


Adam menatapnya. "Lalu mau aku panggil 'brother' atau semacamnya?" kekeh Adam. "Kita terlalu canggung untuk berteman, Daffa."


"Ada hubungan apa Pak Adam dengan Laura?" tanya Daffa mengabaikan kalimat Adam. Dia tidak peduli dengan lelucon klasik lelaki ini.


Daffa memandang penuh pertanyaan. "Kenapa bisa ada di rumah Laura malam itu?" tanyanya. "Aku sudah penasaran, tetapi karena kamu cuti selama tiga hari, aku jadi tidak bisa menanyaimu."


"Kamu tidak sopan, Daffa," sahut Adam dengan suara beratnya. "Jika ada yang melihat ...."


"Perginya Laura selama seminggu terakhir ini, pasti ada hubungannya dengan kesibukan kalian?" tanya Daffa mulai mencurigai.


Adam tidak menjawab, dia butuh waktu untuk berfikir. Laura melarang dia untuk berhubungan dengan teman-temannya. Laura tak ingin masalah terjadi setelah itu.


"Kenapa diam saja, Pak Adam?" tanya Daffa mencecar. "Ada sesuatu di antara kalian berdua?"


"Dia hutang pada mamaku," ucap Laura tiba-tiba datang menyela. Dia berharap kedatangannya belum terlambat.


Laura berjalan masuk. "Ibunya Pak Adam adalah teman lama papa. Ada urusan jadi dia datang ke rumah malam itu," imbuh Laura mengulang penjelasannya.


Adam menatap Laura. Di dalam pandangannya, Laura tidak punya beban atas kebohongannya. Seakan semuanya benar-benar terjadi. Gadis ini bahkan melupakan kesedihannya tentang kematian papa tercinta.


"Lagian kamu ada urusan apa menanyainya?" Laura ketus pada Daffa, dia hanya punya kebencian untuk mantan kekasihnya. "Itu bukan urusan kamu."


Daffa bangkit dari tempat duduknya. Tiba-tiba meraih tangan Laura, hendak menarik Laura pergi dari ruangan ini.


"Kita perlu bicara, Ra!" Daffa menegaskan. "Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu!"


Laura menolak. "Kita sudah putus lebih dari satu minggu yang lalu. Kenapa tiba-tiba kamu peduli padaku?"


Laura melirik Adam, kemudian kembali menatap Daffa. "Aku juga harus kembali ke kelas. Sebentar lagi pelajarannya Pak Adam."


"Kita seharusnya nggak bertengkar di sini, kamu benar-benar tidak punya malu?" kekeh Laura.

__ADS_1


Daffa mengulum ludah. "Maka dari itu ikut aku pergi dari sini!" Daffa kembali menarik tangannya. "Aku janji tidak akan lama. Aku hanya ingin—"


"Apa yang mau kamu bicarakan?"Laura tersenyum pahit. "Kamu yang membuangku jadi, untuk apa kamu mengambilku?"


Daffa melirik Adam. "Haruskah aku bilang padamu alasan aku ingin berbicara denganmu? Di depan guru kita?"


Adam menyandarkan tubuhnya ke sofa. Sudah lama dia tidak melihat perdebatan remaja pubertas seperti ini. Siapa sangka, dia melihat istrinya berdebat dengan mantan kekasihnya. Kisah cintanya sungguh unik.


"Aku nggak mau bicara sama kamu! Kamu sama sekali nggak mengerti?" tandas Laura. "Hubungan kita sudah selesai dan aku menutup komunikasi denganmu. Aku tidak peduli apapun imbasnya setelah itu."


"Ikut aku dulu dan kita bicarakan ini empat mata!" sahut Daffa mulai ketus. Kesabarannya hampir habis diuji Laura. "Kamu tidak mau kan aku mengatakan tujuan kenapa aku ingin bicara denganmu di depan Pak Adam?"


Laura diam lagi.


"Jika aku mengatakannya, kamu bisa dikeluarkan dari sekolah!" ketus Daffa lagi.


Adam tiba-tiba tertawa. Tawa itu menyita fokus Daffa dan Laura.


"Seharusnya kamulah yang khawatir dikeluarkan dari sekolah, Daffa," ucap Adam. Dia bangun dari tempat duduknya.


Daffa mengerutkan keningnya. "Ini bukan urusanmu, Pak Adam."


"Tentu saja ini adalah urusanku, " sahut Adam. "Kalian sedang membicarakan tentang kehamilan Laura bukan?"


Daffa membulatkan lensa mata ketika mendengarnya. "Bagaimana ... Pak Adam bisa tahu?"


"Kita bertemu malam itu, sepertinya wajahku sulit dikenali?" kekeh Adam berbasa-basi.


Ingatan Daffa dipaksa kembali. Dia memandang wajah Adam dengan saksama, berharap memorinya utuh setelah ini.


Laura mulai was-was. Dia mengalah dan menarik tangan Daffa. "Kita bicara di luar. Seharusnya tidak ada orang asing yang ikut campur!"


Daffa tidak menggubris, toh juga inilah tujuannya. Berbicara dengan Laura setelah satu minggu tak bertemu dengannya.


Baru beberapa langkah ingin keluar dari ruangan, suara berat Adam kembali terdengar. "Aku berhak mendengarkan pembicaraan kalian!"


Daffa menghentikan langkah. Laura mau tak mau juga harus tertahan di tempatnya.


"Kenapa begitu?" Daffa meninggi. "Karena kamu guru di sekolah ini?" kekehnya.

__ADS_1


Adam mendekati Daffa. Dia menggelengkan kepalanya. "Karena aku adalah suami Laura, Daffa."


Next.


__ADS_2