Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
45. Laura Pembunuh!


__ADS_3

Daffa membohonginya. Laura tidak diantarkan kembali ke bangunan ilegal itu, melainkan dibawa ke sebuah klinik lumayan besar yang tak ramai pasien.


"Daf?" Laura menoleh. Dia sedikit takut, tanpa alasan yang jelas. "Kenapa bawa aku ke sini?"


Daffa melirik Laura. Dia tidak memberi jawaban pada Laura, pemuda itu menarik tangan Laura dan membawanya semakin masuk ke dalam klinik.


"Daffa!" Laura sedikit kesal. "Aku tidak sakit," gumamnya. Laura memaksa Daffa melepaskan genggaman tangan. "Aku mau pulang."


Laura hendak pergi dari hadapan Daffa. Namun, pemuda itu mencegah.


"Katanya tidak mau lagi hidup dengan Pak Adam." Daffa mendekati Laura lagi. "Jadi inilah jalan satu-satunya."


Laura tak mengerti maksud Daffa. Kerutan di dahinya semakin jelas ketika melihat Daffa mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.


"Aku dapat itu dari temanku," kata Daffa memberikan selebaran pada Laura. "Kamu bisa baca."


Laura sedikit ragu. Dia tidak benar-benar memahami Daffa sore ini. Tiba-tiba saja Laura diseret di tempat seperti ini. Klinik sepi, hanya ada beberapa pasien yang berlalu lalang.


Laura membelalakkan matanya seketika ketika dia mendapati selebaran dengan judul aneh yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.


"Kamu ...." Laura tiba-tiba tidak punya kekuatan untuk menggenggam kertas itu lagi. Dia menjatuhkannya di atas lantai. "Kamu mau aku menggugurkan kandungan ini?"


Daffa menganggukkan kepalanya. "Hm, aku mau yang terbaik untuk kamu, Ra."


"Kamu sinting!" Laura berteriak. "Bagaimana bisa kamu berpikir ini tiba-tiba?"


"Bukan tiba-tiba," jawab Daffa tanpa menjeda.


Daffa mengambil lagi selebaran di atas lantai, lalu menunjukkan itu pada Laura. "Aku sudah memikirkannya beberapa hari belakangan ini, Ra."

__ADS_1


"Daffa," gerutu Laura padanya. "Aku takut."


Daffa meraih tangan Laura. "Laura, dengar aku baik-baik."


Laura menurutinya.


"Mungkin hari ini Pak Adam hanya akan membuat kacauan dengan melaporkan tempat itu ke kantor polisi, itu tidak terlalu berpengaruh untukmu." Daffa mulai mempengaruhi Laura.


Daffa menautkan alisnya. "Bagaimana jika suatu saat nanti dia bertindak lebih dari itu?"


"Kamu sendiri yang bilang kalau kepribadian kalian bertolak belakang, kamu juga tidak mau hidup dengannya lagi," ucap Daffa semakin yakin.


Laura menundukkan pandangan. "Kamu benar. Akan tetapi ...."


"Inilah kesempatannya, Ra!" Daffa menukas lagi. "Biayanya murah dan dia dokter terpercaya. Promo hanya sampai akhir tahun ini saja."


"Pikirkan juga tentang usia kandungannya." Daffa terus berusaha mendesak Laura. "Kalau kandungannya lebih tua, risikonya akan lebih besar."


"Pak Adam mempertahankan pernikahannya denganmu karena ada anak ini," tuturnya lagi. "Kalau anak ini tidak ada, kamu bebas dari pernikahannya juga."


Daffa menarik dagu lancip Laura, membuat gadis itu memandangnya. Daffa mengerti ketakutan sekaligus keraguan yang begitu besar dalam diri Laura, tetapi mau bagaimana lagi? Kesempatan tidak pernah datang dua kali.


"Kita bisa percayakan semuanya pada dokter itu, Ra." Daffa membujuk lagi. "Aku kenal dokternya, dia juga akan memberi biaya kompensasi kalau terjadi sesuatu."


Laura mengulum ludah. Gadis itu diam sejenak, kiranya memikirkan keputusan yang paling tepat.


Sayang sekali, Laura tidak bisa menahan ketakutannya. "Aku tidak bisa!" Laura buru-buru pergi dari hadapan Daffa, menuju pintu keluar yang ada di depannya.


"Mungkin sekarang kamu bisa menyembunyikan kehamilanmu, Ra!" Daffa berhasil menghentikan langkah kakinya lagi.

__ADS_1


Laura menoleh.


"Bagaimana jika perutmu sudah membesar nanti?" Daffa perlahan-lahan mendekatinya. "Bagaimana dengan ujian akhirmu? Bagaimana dengan tes masuk kuliah? Bagaimana dengan kata teman-temanmu?"


"Katanya kamu mau bertanggung jawab?" Laura menyahut begitu saja. "Kamu bilang sama Pak Adam kalau kamu kau bertanggung jawab."


"Bertanggung jawab untuk tetap menjagamu, bersamamu, dan tidak akan pernah meninggalkanmu." Daffa menegaskan kata demi kata yang terucap. "Aku tidak bilang kalau aku akan bertanggung jawab tentang anak ini."


Laura menemukan Daffa yang lain lagi. "Kamu berbohong?"


"Membesarkan anak itu tidak mudah, Ra." Daffa mencoba membangun pengertian. "Kita tidak bisa melakukannya."


"Kamu juga tidak bisa melahirkan di usia yang muda begini, kecuali kamu mau masa depanmu hancur." Daffa tersenyum pada Laura.


Pemuda itu meraih tangan Laura dan menggenggamnya. "Percayakan padaku. Aku akan mengembalikan kehidupanmu seperti dulu lagi."


"Papa mamamu tidak akan pernah tahu kalau kamu hamil, teman-temanmu juga tidak akan tahu tentang ini," ucapnya.


Daffa mempererat genggaman. "Aku tidak tahu alasan pasti kamu menikahi pria itu, aku juga tidak peduli."


"Asalkan kita bisa kembali, aku akan mengusahakannya, Ra," tutur Daffa dengan begitu lembut.


Laura mulai goyah. Pendiriannya tidak sekeras sebelumnya. "Lalu gimana sama Pak Adam?" tanyanya. "Dia pasti aku tahu kalau aku menggugurkan kandungannya."


Daffa memeluk Laura. "Kita akan membohongi dia, Laura."


Laura mengernyitkan dahi. "Dengan cara apa?"


"Tunggu saja. Aku sudah punya skenarionya," gimana Daffa sembari mengecup puncak kepala Laura.

__ADS_1


Next.


__ADS_2