
Mini dress adalah cara Laura mengekspresikan masa mudanya. Jakarta tidak pernah mengharamkan seorang gadis muda pergi malam hari dengan pakaian yang minim, itu menjadi trend tersendiri di tengah padatnya kota metropolitan.
Laura memenuhi janjinya. Dia datang tepat waktu, sesuai dengan perkataannya ada Bayu tadi siang. Bioskop kota adalah tujuannya, sebuah film menunggu Laura di dalam sana.
Laura berjalan seorang diri, melewati keramaian di trotoar jalanan. Panorama Jakarta tak pernah mengecewakan, selalu saja mempesona untuk dipandang mata.
"Aduh!"
Laura menoleh ke arah sumber seorang. Seorang wanita tua hampir saja jatuh ketika menabrak seorang pria yang berjalan berlawanan arah.
"Maaf, Bu." Pria itu membungkuk, bertindak sopan layaknya orang muda pada orang yang lebih tua. "Saya tidak sengaja."
Laura mengerutkan sudut mata, berusaha menerka siapa pria itu. "Tunggu, kenapa perawakannya tidak asing?" gumam Laura seorang diri. "Sepertinya aku kenal dia."
Langkah kaki Laura berbalik. Dia menghampiri lelaki yang masih sibuk mengambil barang-barang wanita tua yang jatuh karena ditabrak olehnya secara tidak senang.
"Pak Adam?" Laura mulai mengenalinya saat dia berjalan mendekat. Kerumunan orang berlalu lalang, tadinya menghalangi pandangannya.
Adam menoleh. Sialnya, dia tertangkap basah oleh Laura.
"Pak Adam ngapain di sini?" tanya Laura sembari menatap penampilan Adam dari atas sampai bawah. Jelas sekali dia bukan baru kembali dari kerjanya. Penampilan Adam sudah lebih santai.
Adam membungkukkan badan sekali pada wanita tua itu, membiarkannya pergi kemudian.
"Aku ...." Adam terfokus pada Laura. "Aku mau cari makan malam." Dia berasalan. Matanya menelusuri setiap sudut jalanan, mencoba menemukan tujuan palsunya.
Laura mengerutkan kening. "Tempat makan?" tanya Laura. Dia menambahkan. "Rumah Pak Adam lebih banyak rumah makan ketimbang di sini."
Laura benar. Jalanan ini lebih banyak bangunan kafe dan semacamnya. Restoran yang berdiri pun hanya menyediakan makanan asing, seperti makanan khas Jepang atau Korea yang telah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia.
"Aku memang mau ke sana." Adam menunjuk salah satu kafe yang berdiri tepat di depan gedung bioskop tempat tujuan Laura berada.
Adam tersenyum pada Laura. "Katanya kafe itu punya makanan Jepang yang enak," imbuhnya. "Aku suka makan Ramen."
"Ramen dari Korea." Laura menyahut dengan wajah polosnya.
Adam terdiam. Dia menjadi kikuk. Lelaki itu menggaruk-garuk tengkuk lehernya, sedangkan pandangan matanya terlihat tak tenang.
"Eum ...." Dia menggigit bibir bawahnya. "Kamu benar. Aku suka makanan khas Korea. Ramen."
Laura menyeringai tipis. "Sebenarnya Ramen dari Jepang."
__ADS_1
Laura jelas sekali sedang mempermainkan Adam. Dia begitu menikmatinya.
Adam terdiam lagi. Dia seperti orang bodoh di depan Laura. Tujuan Adam sesungguhnya adalah mengikuti Laura. Dia telah mengikuti Laura sejak gadis itu keluar dari rumahnya. Adam telah menduga, kalau Laura akan berpakaian seperti ini.
Adam hanya khawatir.
Adam menghela napas. "Aku mau ke kafe." Dia menyerah. "Makan apapun di sana."
Laura menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum. Adam memang sudah berumur, dia lebih pantas jadi paman untuk Laura. Namun, tingkahnya begitu menggemaskan. Apalagi kalau tertangkap basah sedang berbohong.
"Pak Adam mengikuti aku, bukan?" tanya Laura tiba-tiba.
Adam tercengang. Laura memang tipe gadis yang 'ceplas-ceplos' kalau berbicara.
Laura menghela napas, bersedekap di depan Adam. "Mana yang paling Pak Adam khawatirkan, aku atau anak ini?" tanya Laura sembari menunjuk perutnya.
Adam terdiam sejenak. Dipandanginya Laura dengan saksama.
"Tidak perlu mengkhawatirkan keduanya. Aku sudah besar," imbuh Laura lagi, tak sabar menunggu jawaban dari Adam.
Laura mendekati Adam dan menepuk pundaknya, seakan sedang berbicara dengan temannya. "Sudah aku bilang berapa kali, aku tidak suka dikhawatirkan oleh Pak Adam."
"Aku sudah besar, sebentar lagi aku jadi anak kuliahan. Aku sudah bisa bebas," ucap Laura. "Aku tidak perlu diikuti seperti ini. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Pulang saja. Jangan mengganggu diriku." Laura menginterupsi. "Aku malu kalau sampai Bayu melihat Pak Adam di sini."
"Kenapa kamu malu?" tanya Adam menyahut. "Aku berpenampilan rapi dan ...."
"Bukan itu yang aku maksudkan." Laura menjawab dengan malas. Ruat wajahnya telah menunjukkan ketidaksukaan sejak tadi. Dia merasa terganggu.
"Aku malu karena pernah menikah sama orang tua." Laura menimpali lagi. "Jujur saja kalau itu aib untukku."
Adam terdiam. Laura telah memberi tembakan, yang mengenai hatinya.
"Bisakah Pak Adam pulang saja?" tanya Laura lagi. "Aku mohon, jangan ganggu malamku."
Laura menatap sekelilingnya. "Aku anak muda dan Pak Adam adalah orang tua," kata Laura. Dia menatap Adam lagi. "Bukankah orang-orang akan salah paham dengan mengira kalau aku dibuntuti oleh pamanku?"
Adam tak sempat menjawab, Laura berbicara lagi. "Itu terlalu kuno."
"Laura. Kamu sedang hamil dan kamu keluar malam-malam sendirian begini, di tengah kota dan kamu pergi sama laki-laki." Adam berusaha menjelaskan.
__ADS_1
Laura menganggukkan kepala. Namun, dari raut wajahnya, dia menunjukkan ketidakpedulian. "Lantas?" tanya Laura. "Aku harus pulang, belajar, atau menonton televisi?" Dia tertawa. "Itulah kenapa Pak Adam itu kuno sekali! Kita benar-benar tidak cocok!"
Anehnya, Laura terluka dengan kalimatnya sendiri ketika tak sengaja mengatakan itu. Dia terlalu lepas malam ini. Awalnya, Laura hanya ingin menunjukkan protes atas perlakuan Adam padanya dulu. Namun, dia terlalu berlebihan.
Adam terdiam, begitu juga Laura. Keduanya saling pandang.
"Maksduku adalah ...." Laura hendak membenarkan kalimatnya. Namun, dia menyerah. "Ah, sudahlah! Aku hanya mau Pak Adam pergi. Aku mau ketemu Bayu!"
Laura berpaling begitu saja, tanpa menunggu Adam berbicara.
Adam tersenyum tipis sembari memandang Laura pergi. "Dia aneh sekali."
>>>><<<<
Laura melirik jam tangannya, hampir terlambat. Semuanya sebab Adam yang muncul tiba-tiba. Di sela langkah kakinya, Laura melihat Bayu yang berdiri di samping gedung bioskop, di tengah kegelapan.
"Kenapa dia tidak masuk?" gumam Laura. "Dia menungguku?" Laura tersenyum manis. Dia mempercepat langkah kakinya. "Lebih baik bersama Bayu, dari pada si kuno Pak Adam."
Laura mengerutkan kening ketika mendapati Bayu berbicara dengan dua temannya. Dia berhenti, hendak memanggil Bayu. Namun, bisik-bisik terdengar di telinga Laura. Seseorang menyertakan namanya dalam pembicaraan mereka.
"Setelah nonton, ajak dia tidur di hotel."
Laura memilih bersembunyi di balik pilar bangunan. Dia mengabaikan orang-orang yang menatapnya aneh.
"Kalau sudah mengajaknya, berapa bayarannya?" jawab Bayu. "Kalian mau menaikkan angka taruhan?" kekeh Bayu lagi.
Temannya menepuk pundak Bayu. "Kamu memang hebat! Dulu Laura menolak kamu, sekarang kamu bisa mengajaknya nonton film dewasa."
Laura mengerutkan kening, dia bergegas mengambil tiket di dalam tasnya. "Film dewasa?" Laura menepuk jidat setelah membaca informasi film yang akan dia tonton.
"Kita akan menaikkan tawaran kalau kamu bisa membawanya ke hotel dan menelanjangi dia," kekeh temannya Bayu. "Kirim fotonya pada kita dan kamu menang taruhan!"
Laura meremas tiket dalam genggamannya. "Babi bernyawa," gumam Laura sembari merapalkan sumpah serapah.
"Selebihnya terserah kamu. Kamu boleh bermain **** dengannya atau membuangnya ke jalanan setelah dia menolakmu mentah-mentah waktu itu."
Bayu terkekeh. "Apa yang bisa diharapkan dari seorang janda?" tanya Bayu. "Dia bekas orang lain. Dia murahan."
Laura sudah tak tahan. Dia beranjak dari tempatnya, hendak menghampiri Bayu. Namun, tiba-tiba Adam menyela langkah kakinya. Dia mendahului Laura, dan langsung menarik Bayu keluar dari kegelapan malam.
"Pak Adam!"
__ADS_1
Sudah terlambat, Adam memberi pukulan tepat di wajah Bayu. Sekali lagi, Adam telah memancing keributan demi membela Laura yang tidak tahu diri.
Next.