
"Mau bercinta denganku?" bisik Laura di telinga Adam.
Adam hampir saja kehilangan Laura, tetapi dia berhasil menemukannya lagi. Adam hampir mengumpat, Laura menariknya ke sebuah tempat yang begitu asing untuk Adam. Seumur-umur dia baru sekali datang ke tempat ini.
"Laura ...." Adam menarik tangan Laura yang hendak pergi. "Tempat apa ini?"
Laura malah tertawa dengan pertanyaan Adam, alunan musik jazz menggoda tubuhnya untuk tetap bergoyang mengikuti irama.
"Laura!" Adam berusaha mengejarnya, tetapi kerumunan orang membentengi pandangan mata Adam untuk Laura.
Adam menerobos masuk ke dalam kerumunan itu. Meja kasino besar menyambutnya, Laura duduk di ujung sofa dengan sebotol bir kaleng murahan.
Sekarang Adam jadi tahu, kalau Jakarta menyembunyikan tempat seperti ini di bawah jembatan antar kota.
"Laura is back!" Seseorang berteriak sembari mendekati Laura. Wanita itu puas melihat wajah Laura malam ini.
Adam tak habis pikir, Laura mengabaikannya sejak masuk kemari. Hanya ada satu kalimat yang dia bisikkan pada Adam. "Pak Adam boleh memilih tempat. Katakan kalau yang membawa kamu ke sini, nanti mereka pasti mengizinkan di mana pun Pak Adam duduk."
Ternyata begini kenyatannya. Laura mirip pemilik tempat ilegal ini.
"Haruskah kita bertaruh lagi?" Seseorang menyahut, suara gemuruh tawa bercampur tepuk tangan terdengar kemudian.
"Aku bersama Laura!" Seorang pria yang datang tiba-tiba merangkul Laura. "Aku akan tetap mendukungnya! Dia akan menang taruhan malam ini!"
Semua bersorak. Merayakan sesuatu yang Adam tak bisa memahaminya.
"Aku nggak mau main sekarang," sahut Laura. Semua orang diam karenanya.
"Kenapa, Ra?" Temannya menyenggol bahu Laura.
Laura tersenyum miring. "Aku sedang ... patah hati?"
Mendengar kalimat itu, semua orang kembali tertawa. Laura mengikuti aksi mereka.
"Seorang Laura Mentari patah hati?" Pria berkepala plontos menyeru sembari mengangkat kaleng birnya. "Mustahil! Daffa tidak sebanding dengan kamu! Tinggalkan saja!"
Adam menghela nafas ketika melihat Laura ikut menggila bersama orang-orang asing itu. Pakaian mereka, cara mereka berbicara, dan berinteraksi benar di luar dugaan Adam.
Laura lebih liar dari yang Adam bayangkan.
>>>>><<<<
"Argh, Pak Adam! Sakit!" Laura merengek ketika Adam tiba-tiba menyeretnya keluar bangunan.
Suasana sepi melanda, hanya ada kerikan jangkrik. Angin sepoi-sepoi merusak tatanan rambut gelombang milik Laura.
"Pak Adam ini kenapa?" Laura berpura-pura tak paham. "Memangnya aku punya salah apa?"
Adam hanya menatap bir kaleng murahan dalam genggaman Laura. Dia belum mampu berkata-kata.
__ADS_1
"Aku tidak memaksa Pak Adam untuk ikut," ucap Laura, mencari pembenaran. "Aku sudah menawarkan tadi. Pak Adam tetap kokoh mau ikut."
"Buang birnya," tutur Adam dengan lembut. "Kamu tidak boleh minum itu."
Laura melirik genggaman tangannya sendiri. "Aku belum meminumnya."
"Aku tadi mau minum, tapi Pak Adam keburu menarikku ke sini," gerutu Laura. Dia menempatkan diri sebagai korban.
Laura mendesah panjang. "Harusnya aku yang marah." Gadis itu melirih. "Tanganku sakit."
Adam tak lunak. Rayuan Laura tidak berguna untuk kejengkelan hatinya.
"Lagian kalau Pak Adam tidak nyaman dengan tempat ini, Pak Adam bisa langsung pergi dan—" Ucapan Laura dihentikan dengan aksi Adam yang tiba-tiba meraih kaleng bir itu dan melemparnya mengenai tembok di belakang Laura.
Hati Laura dikejutkan tiba-tiba.
"Kamu ini sudah jadi istriku, Laura." Adam mencoba sabar. "Gimana bisa kamu mengajak suamimu datang ke tempat seperti ini?"
Laura mulai memahami marahnya Adam.
"Sebenarnya tempat apa ini?" tanya Adam sembari mengatur nafas, agar tidak menggebu-gebu.
Laura masih santai, tak merasa bersalah.
"Base camp, tempat nongkrong rahasia dan ilegal ... m-mungkin," kata Laura seadanya. Dia sedikit ragu. Marahnya Adam, mengerikan.
Adam mengembuskan nafas panjang. "Laura, kamu sedang hamil!"
Laura salah, dia pikir Adam akan mengerti keadaannya. Itulah sebabnya Laura mengajak Adam kemari.
"Aku salah?" Adam menatap Laura intens. "Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandunganmu kalau kamu minum itu tadi."
Laura menundukkan kepala. Dia menatap ujung sepatunya yang kotor terkena genangan lumpur ketika Adam menariknya kemari.
"Aku akan bersalah dengan papa kamu," gumam Adam.
Hati Laura hancur jikalau sudah mendengar tentang mendiang papanya. Serasa baru kemarin dia dilahirkan, Laura sudah dibanting habis oleh keadaan.
"Pak Adam tidak perlu khawatir," gumam Laura. "Mereka tidak akan melukai aku." Laura membuat keyakinan.
Saat tidak ada suara, Laura mendongak. Dia memastikan Adam mendengarkannya.
"Aku pemilik tempat ini karena aku menyumbang banyak uang untuk tempat ini." Laura seakan membanggakan diri. "Bisa dikatakan aku CEO-nya."
Adam mengerutkan keningnya. "Kamu anak SMA dan kamu mengelola bisnis ilegal?"
"Jangan berlebihan!" Laura menggerutu, memprotes Adam. "Itu hanya basecamp. Semua orang yang datang butuh hiburan."
"Kasino itu judi," jawab Adam tegas. "Agama kita melarang, Laura!"
__ADS_1
"Aku tidak peduli!" Laura mempertegas. "Bukan aku yang main, aku hanya menerima uang sewa."
Adam memalingkan wajahnya. Tak sangka Laura sejauh ini melangkah.
"Papa ... tau tentang ini, Ra?" Adam bertanya hati-hati. "Kalau mama?"
Laura kembali menunduk. Dia bermain dengan ujung jari-jarinya. Sekarang Laura baru tersadar kalau salah satu kukunya terluka sebab tergores kaleng bir yang direbut Adam.
"Laura, jawab aku!" Adam membentak.
Laura tersentak, belum pernah melihat pria membentaknya. Sekeras apapun Laura, dia tetaplah anak gadis yatim piatu.
"Papa dan mama akan membunuhku jika tahu!" rengek Laura. "Jadi menurutmu aku akan memberi tahu mereka?"
"Sekarang mereka jadi tahu," sahut Adam perlahan melunak. Dia menunjuk ke atas langit yang mendung. "Mereka melihatmu."
Laura tersakiti dengan kalimat Adam.
"Kita pergi ke kantor polisi dan laporankan semua aktivitas di dalamnya," bujuk Adam. "Kamu tidak boleh kembali ke sini lagi."
Adam hampir meraih tangan Laura. Namun, gadis itu menghindarinya.
"Pak Adam tahu apa?" Laura balik membentak. "Pak Adam tahu luka yang aku rasakan?"
Adam terdiam. Tentu saja tidak.
"Hatiku sangat buruk hari ini!" Laura membuat pengakuan. "Aku menyesali semuanya."
Adam menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang begitu."
"Daffa datang kembali dan membujuk aku!" kata Laura, mengabaikan Adam. "Katanya dia mau bertanggung jawab dan dia mau membesarkan anak ini bersama-sama!"
"Laura ...."
"Aku mencintainya dan aku masih mencintainya sampai sekarang!" tandas Laura. Air mata tidak bisa dihindarkan.
"Dia datang dan membujukku begitu lalu aku harus bagaimana?" tanya Laura sembari menyeka air mata. "Katakan, aku harus bagaimana?"
"Kamu harus menolaknya. Kamu sudah menikah sekarang," jawab Adam. "Kamu tidak perlu dia untuk tanggung jawab."
Adam mendekati Laura sembari menepuk dadanya. "Ada aku."
"Bukan Pak Adam yang aku inginkan!" Laura menyeru. "Aku tidak butuh pernikahan ini!"
"Laura, aku mohon!" Adam meraih tangannya. "Kita sudah sepakat."
"Aku ingin Daffa! Aku ingin ayah kandung dari anak ini!" Laura merengek. "Bisakah Pak Adam memberikannya?"
Adam membeku di tempatnya.
__ADS_1
"Bisakah Pak Adam memberikan Daffa dan kebahagiaanku lagi? Aku ingin sekali mendapatkannya lagi," bisik Laura sembari menangis di depan Adam.
Next.