
"Maaf, aku membuatmu khawatir begini. " Adam tidak bisa absen dari pandangan matanya untuk Laura. Tidak henti-hentinya dia memandang gadis itu dengan saksama. Laura mencuri perhatiannya, karena dia terlihat lain malam ini.
"Seharusnya kamu tidur dan beristirahat di rumah. Kamu pasti capek pulang sekolah langsung kerja." Adam menundukkan pandangan matanya sejenak.
Laura membuka suara. "Siapa juga yang panik ketika mendapatkan telepon tentang kamu?" Gadis itu berusaha untuk menutupinya. Gengsi masih dia utamakan sampai saat ini.
"Kamu tidak perlu membohongiku." Adam tersenyum tipis memandang Laura. Gadis itu begitu lahap menyantap semangkuk mie ayam, seakan dia sudah tidak makan tiga hari.
"Aku tahu pasti kamu panik setelah ...."
"Aku bilang aku tidak panik sama sekali." Laura terus bersikeras, bahwa dia baik-baik saja.
Laura menatap Adam. "Wajar kalau aku berlari ke rumah sakit, semua orang pasti melakukan itu."
"Itu bukan respon yang istimewa. Aku hanya mencoba untuk bersikap manusiawi." Laura tahu kalau alasannya mungkin tidak masuk akal, tetapi itu lebih baik ketimbang dia diam saja.
Laura melihat ketidakpercayaan dari pandangan mata Adam.
"Pak Adam tidak percaya?" Laura merentangkan tangannya, kedua tangannya memegang sendok dan garpu. "Lihat! Aku baik-baik saja. Tidak panik."
Ada menunjuk pantulan bayangan Laura dari etalase cermin yang tak jauh darinya. Dia menyuruh gadis itu untuk memandang dirinya sendiri.
Laura terdiam ketika menyadari penampilannya. Ternyata jauh lebih buruk dari yang dia pikirkan, Laura tidak akan mengingat malam ini. Terlalu memalukan.
Adam tersenyum ketika melihat Laura menutupi wajahnya sendiri. Gadis itu memijat kedua sisi pelipisnya, sembari berdecak ringan.
"Masih mau mengelak kalau kamu tidak panik?" Adam tertawa kecil. "Meskipun pernikahan kita tidak lama, Aku bahkan tidak pernah melihat kamu berpenampilan seperti ini ketika kita tinggal bersama."
__ADS_1
Laura menatap Adam perlahan-lahan.
"Belen juga bilang kalau kamu gadis perfeksionis, yang akan memperhatikan penampilanmu meskipun kamu di rumah." Adam tertawa lagi.
Lelaki itu menunjuk jepit rambut di atas kepala Laura. "Kamu bahkan tidak menjepit rambutmu dengan benar, itu berantakan."
Laura menyadari hal itu. Dia mengusap helai rambut yang ada di samping wajahnya, menatanya di belakang telinga.
"Kamu bahkan tidak menggunakan kaos kaki, padahal ini malam yang dingin." Adam menatap keluar warung mie ayam. Dia punya alasan mengapa mengajak Laura datang ke tempat ini, setidaknya semangkuk mie ayam dan bakso bisa menghangatkan tubuh mereka.
"Di luar hujan," kata Adam.
Laura ikut memandang keluar jalanan. Dia bahkan tidak sadar sejak kapan hujan turun. Pikirannya terlalu kacau kali ini.
"Laura?" panggil Adam. Gadis itu menoleh padanya. "Terimakasih."
"Untuk brownies dan untuk rumah sakit juga." Adam tersenyum manis. "Maafkan aku juga. Brownies-nya rusak."
Masa bodoh tentang sekotak kue sialan itu.
Laura menggaruk lehernya yang tak gatal. "Sejujurnya aku juga boleh minta maaf karena insiden kemarin."
Keduanya saling memandang satu sama lain.
"Pak Adam membantuku, tetapi aku malah marah-marah." Laura tidak jadi menghabiskan makannya. Padahal itu enak sekali. "Aku harusnya berterimakasih. Itulah arti brownies-nya."
Adam manggut-manggut. "Tidak usah dipikirkan. Aku tahu perasaan kamu malam itu."
__ADS_1
"Tapi Laura ...." Adam menyela lagi. "Jangan katakan itu tentang mendiang orang tuamu, mereka pasti sedih."
Laura kembali tidak bisa menjawab apapun. Hatinya sedih, pikirannya kacau. Hidupnya mulai berantakan.
"Aku tidak mau kamu menyesali apapun setelahnya," ucap Adam lagi. "Aku yakin kamu paham apa yang aku katakan."
Laura manggut-manggut. "Aku harus banyak belajar."
"Aku tidak bisa menikahimu." Adam tiba-tiba membahasnya, padahal Laura hendak menyendok mie ayam di depannya. Gadis itu bahkan menutup kembali mulutnya, selera makannya hilang begitu saja.
Adam perlu keberanian untuk mengatakan kalimat singkat itu. Dia hanya tidak ingin memberi harapan untuk Laura.
"Aku sudah mengatakan itu pada Nurwa. Aku akan menikahi dia," ucap Adam. "Aku harus memegang kata-kataku."
Laura mengulum ludah. Senyumnya jelas dipaksakan.
"Pak Adam, boleh aku tanya sesuatu?" Laura menatapnya lagi. Dalam diam, gadis itu merasakan sakit dan kecewa yang tidak bisa didefinisikan dengan jelas.
Adam mengangguk. "Tanyakan."
"Apa jasa papa dan mama sama orang tua Pak Adam dulu?" tanya Laura. Entah kenapa dia mulai penasaran. "Pak Adam rela menikahiku padahal Pak Adam tahu pernikahan kita tidak akan berhasil."
Adam tersenyum tipis. "Orang tuamu menyelamatkan hidupku, Laura." Dia menjawab dengan mantap. "Mereka yang mengembalikan kepercayaanku ketika aku ingin mengakhiri hidupku waktu itu."
"Orang tuaku narapidana dan aku pun. Aku pernah dipenjara dulu."
Laura memicingkan mata. Adam punya sisi yang mengejutkan. "Dipenjara?"
__ADS_1
Next.