Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
135. Putus.


__ADS_3

Laura duduk di kursi taman, memandang lalu lalang orang di depannya. Pada akhirnya dia menyerah. Terlalu sering membohongi diri sendiri hingga membuat dirinya lupa kalau ada perasaan seorang anak dia bawa.


"Aku tidak akan meminta maaf." Laura masih keras kepala. "Aku tidak merasa bersalah." Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seakan sedang menahan air mata.


Adam manggut-manggut. "Aku yang seharusnya minta maaf padamu, Ra. Aku sudah melukai hatimu tetapi aku tidak meminta maaf secara benar."


Adam meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal bersamamu. Kita menutup apa yang lama dan membuka sesuatu yang baru, Ra."


Laura memandang sepasang mata Adam. Laki-laki itu serius dengan kalimatnya.


"Aku tidak akan berjanji kalau aku tidak akan mengecewakanmu lagi, tetapi aku akan berusaha untuk tidak melakukannya." Adam tersenyum padanya. "Mari besarkan anak ini bersama-sama."


Laura tidak langsung menjawab. Dia terdiam cukup lama sembari memandangi wajah tampan Adam.


"Aku tidak akan mengganggu kebebasanmu, tetapi biarkan aku ...."


"Keluarga papa dan mama sudah mau menerimaku dan membiayaiku untuk kuliah, Pak Adam." Laura dengan berat hati menyahut kalimat itu. "Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan itu."


"Aku bisa membayar kuliah kamu, Ra." Adam berusaha untuk meyakinkan. "Aku juga bisa menjadi ayah dari anak kamu sekaligus. Kita mulai semuanya sama-sama."


Laura menggelengkan kepalanya. "Dari dulu aku ingin kuliah di luar negeri. Aku ingin menjadi seorang dokter," ujar Laura.


"Kalau aku hanya kuliah sembarangan, aku yakin kalau aku tidak akan bisa mengubah hidupku, Pak Adam." Laura melepaskan genggamannya perlahan-lahan. "Aku harus memikirkan masa depanku sendiri, bukan?"


Tentu saja Adam kecewa mendengar jawaban Laura, seperti sebuah penolakan yang begitu menyakitkan. Namun, Adam juga harus mengerti keadaannya sendiri. Dia bukan orang kaya yang punya perusahaan besar dan harta yang melimpah. Untuk membiayai kuliah kedokteran mungkin akan sedikit sulit jika ditambah dengan kehidupan rumah tangga dan hiruk pikuk di dalamnya.


"Pak Adam ..."

__ADS_1


Adam kembali memandang Laura.


"Tadi aku bilang kalau aku tidak ingin menggugurkan kandungan ini, bukan berarti aku ingin melepaskan impianku." Laura berujar lagi. "Aku masih ingin meneruskan sekolahku, aku masih ingin hidup seperti yang lainnya."


Adam bergeming.


"Menjadi seorang ibu dan seorang istri punya beban yang berat, mama selalu bilang itu padaku dulu." Laura tersenyum pahit kemudian. "Aku belum siap untuk menanggung beban itu."


Adam menghela napas. Dia menganggukkan kepalanya, meskipun tidak sepenuhnya Adam memahami keadaan.


"Kamu tidak mau menggugurkan kandungannya dan kamu tidak mau menikah denganku," ucap Adam mengambil kesimpulan. "Lalu bagaimana selanjutnya, Ra?"


Laura menggelengkan kepalanya. "Akan aku pikirkan nanti. Yang jelas, aku hanya ingin kuliah."


Adam mengulum ludahnya dengan berat. "Baiklah jika memang kamu ingin begitu. Aku sudah berjanji untuk tidak menahanmu lagi, kamu bebas memutuskan apapun."


Laura menghela napas lagi. "Namun, Tolong jangan salahkan aku ketika aku berpikir ulang untuk menggugurkan kandungannya nanti."


Adam memandang Laura tidak percaya. Dia memang hanya remaja, pikirannya masih labil ke sana kemari.


"Keluargaku di luar negeri tidak mungkin mau menerimaku dalam keadaan begini, aku harus membuat keputusan untuk masa depanku," tambah Laura lagi. "Di titik ini aku tidak bisa menghancurkan semuanya di masa depan, Pak Adam."


"Bagaimana jika aku berusaha untuk membuatmu kuliah di kedokteran?" tanya Adam. "Kamu mau hidup denganku?"


Laura diam.


"Mungkin aku tidak bisa memberikan kehidupan yang mewah, tetapi aku yakin aku bisa mewujudkan impianmu." Adam berbicara dengan mantap.

__ADS_1


Ternyata lelaki itu tidak menyerah begitu saja. Dia mendukung Laura 100%.


Adam berjongkok di depannya, memohon. "Aku akan berusaha untuk membuatmu kuliah kedokteran, Ra. Kamu mau hidup denganku dan anak ini?" tanyanya lagi.


"Jangan terlalu memaksakan, Pak Adam." Laura menolak. "Itu malah akan membebani hatiku."


"Nurwa benar. Selama ini aku terlalu merepotkan Pak Adam, ini waktunya aku berjalan sendiri." Laura tersenyum manis. "Aku tidak mau merepotkan lagi."


Adam menggelengkan kepalanya. "Tapi Ra ...."


"Aku harap Pak Adam memahaminya." Laura mengamb tasnya. "Aku rasa cukup aku berbicara. Jika ini dilanjutkan, kita hanya akan menyakiti satu sama lain."


Laura mendesah panjang, berusaha untuk mengeluarkan beban dalam hatinya.


"Aku pergi dulu, Pak Adam." Laura beranjak dari tempatnya kemudian. "Pak Asam"" tidak perlu mengantarkan aku pulang, aku mau mampir ke rumah teman dulu."


Laura berjalan pergi meninggalkannya, tetapi Adam menghentikan langkah kakinya.


"Apa artinya pembicaraan kita hari ini?" tanya Adam.


Laura kembali menoleh dan menatap Adam.


"Kamu menolak aku, tidak mau memberikan kesempatan padaku?" tanyanya membuat kesimpulan. "Kamu benar-benar tidak ingin bersamaku lagi?"


Laura manggut-manggut. "Mungkin begitu." Dia mengakhiri kalimatnya dengan senyum yang ramah. "Maafkan aku, Pak Adam."


Next.

__ADS_1


__ADS_2