
Laura punya kebahagiaan hari ini. Dia berangkat sekolah dengan perasaan yang baik. Sesekali bibirnya bergumam, mendendangkan lagu tak tentu kalimatnya. Yang terpenting dia bisa mengekspresikan isi hatinya.
"Laura!" Belen mencegah langkah kakinya. Gadis itu menghampiri Laura.
"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu," ucap Belen dengan tatapan yakin.
Laura tidak pernah ditatap temannya itu dengan cara yang serius seperti ini. Belen sepertinya marah denganmu tanpa sebab.
Laura menganggukkan kepalanya. Apapun yang ingin dia bicarakan, sepertinya adalah hal serius.
Belen mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Laura terkejut ketika Belen memegang buku nikahnya. Gadis itu bahkan mengeluarkan krim mata yang hilang dari tempatnya kemarin. Laura belum sempat membeli hingga saat ini, meskipun sudah dua hari berlalu.
"Dari mana kamu dapat itu?" tanya Laura. Dia gelagapan di tempatnya. Laura ingat, dua hari yang lalu juga Adam kehilangan buku nikah mereka.
Laura mengerutkan kening. "Jangan bilang kalau kamu ... mencurinya?"
Belen menyungging senyum. "Tidak penting bagaimana aku mendapatkan benda ini. Akan tetapi, penting bagiku untuk mendengarkan penjelasan darimu!" Belen terlihat begitu marah dengan Laura, mungkin juga ada kekecewaan di dalam hatinya.
"Laura!" Belen membentak ketika Laura memilih untuk diam. "Kamu benar-benar akan membohongi aku dan membodohi aku seperti ini?"
Laura memijit pelipisnya. "Belen, dengarkan aku dulu."
Laura memandang Belen. "Aku bisa jelaskan semuanya. Aku punya alasan kenapa aku harus tiba-tiba menikah dengan dia dan membohongi kamu."
"Kamu tidak serius kalau kamu menikah dengannya kan?" Belen masih belum bisa mempercayainya, meskipun ada buku nikah dalam genggamannya.
Belen tiba-tiba meraih kerah baju Laura. Laura memberontak kala Belen menarik sesuatu dari lehernya. Itu adalah kalung dengan liontin cincin nikah Laura dan Adam.
Belen menarik kalung itu. Meninggalkan bekas luka goresan di leher Laura. Laura bergeming. Dia tertangkap basah.
__ADS_1
"Wah! Kamu benar-benar menikah dengan dia?" Belen kecewa setengah mati. Laura benar menipu dirinya.
Laura menunduk. "Maafkan aku, Belen." Dia merasa bersalah pada temannya itu. "Seharusnya aku tidak membohongi kamu."
Belen memalingkan wajah. Dia menangis entah untuk apa. Hatinya sakit, terluka padahal dia bukan siapa-siapa. Sayang sekali, perasan Belen pada Adam tidak main-main.
"Ra?" Belen menyeka air matanya. "Aku kecewa sama kamu."
Laura menggelengkan kepalanya. "Aku minta maaf. Aku akan jelaskan semuanya sama kamu. Aku dan Pak Adam ...."
"Kamu tahu betul kalau aku menyukai Pak Adam," ucap Belen. "Kamu juga tahu kalau aku tidak mudah jatuh cinta setulus ini sebelumnya!" Belen mendesah kasar. "Pak Adam yang pertama!"
Laura manggut-manggut. "Aku minta maaf." Hanya itu yang bisa dia katakan. Laura tidak menyiapkan jawaban untuk situasi seperti ini.
"Kenapa kamu tidak jujur dari awal?" tanya Belen. Belen berdecak. "Jika saja kamu bilang kalau kamu adalah istrinya, aku tidak akan mencintainya sebesar ini."
"Aku sudah berharap banyak padanya. Aku mengatakan sebesar apa perasaan cintaku untuk Pak Adam padamu, dengan bodohnya aku percaya dia pasti akan membalas cintaku suatu saat nanti," tutur Belen.
Belen mengusap wajahnya. Dia kecewa, tentu saja.
"Tapi ternyata sahabatku adalah istrinya?" Belen menyungging senyum di tengah tetesan air matanya. "Kamu yakin aku adalah sahabat kamu?"
"Belen, jangan bilang begitu," ucap Laura. Dia berusaha meraih tangan Belen. Namun, gadis itu menolaknya. "Kalau kamu teman aku, kamu akan jujur padaku."
Belen meninggikan suaranya. "Aku tidak peduli kamu membohongi orang-orang di luar sana! Aku tidak peduli kalau kamu mau menyembunyikan fakta itu dari siapapun bahkan orang tua kamu sekalipun!"
"Namun, kenapa kamu menyembunyikannya dariku?" Belen melirih. Suaranya habis di akhir kalimat. "Kamu mau membuatku terlihat bodoh di depanmu?"
Laura mendekatinya. "Bukan begitu, Belen."
__ADS_1
"Aku tidak bisa memberitahu padamu semuanya karena ...."
"Aku kecewa sama kamu, Ra." Belen memotong kalimat Laura. "Kamu tidak benar-benar menganggapku sebagai sahabat."
"Ternyata benar yang dibilang Almira. Orang kaya seperti kamu itu tidak butuh teman yang tulus, tapi hanya butuh orang agar tidak kesepian," ucap Belen dengan amarah.
Ini adalah kali pertama Laura disakiti dengan kata-kata Belen. Mereka tidak pernah bertengkar sehebat ini, apalagi hanya sebab seorang pria.
Belen hendak pergi, tetapi Laura mencegahnya.
"Karena kamu menyukai Pak Adam!" Laura berteriak. Itu bisa menghentikan langkah Belen. "Gimana bisa aku menyakiti hati kamu kalau kamu terus saja mengatakan kamu menyukai Pak Adam?"
Belen menoleh. Ditatapnya Laura dalam diam.
"Aku tidak bisa merusak kebahagiaan kamu," tandas Laura lagi. "Aku tidak mau kamu kecewa, Belen."
Laura kira Belen akan lunak dengan alasan itu. Namun, Belen masih keras kepala. "Sekarang kamu menggunakan perasaanku ke Pak Adam untuk mencari alasan, Ra?" Belen menyunggingkan senyum. "Kamu egois sekali."
"Belen aku ...."
"Mulai sekarang, aku bukan sahabatmu lagi. Cari saja sahabat yang satu level dengan kamu, hingga kamu bisa bercerita apapun tentangmu tanpa ragu!" seloroh Belen. "Aku akan cari orang yang benar-benar menganggapku sebagai sahabat juga!"
Belen pergi meninggalkan Laura. Laura pun tidak bisa berbuat apapun. Dia diam memandangi punggung Belen yang menjauh darinya.
Next.
note : Rekomendasi novel keren untuk kalian!
__ADS_1