
Meskipun tubuhnya belum sepenuhnya sembuh, tetapi Laura harus menyambung kehidupan. Karena ujian seminggu berlalu, dia banyak mengambil cuti. Sekarang mau tidak mau, Laura harus memaksakan diri untuk masuk bekerja.
"Ra! Tolong buang sampahnya!"
Laura hanya menganggukkan kepala. Dari bibirnya yang masih pucat, dia tersenyum seadanya. Gadis itu mengangkat kantong plastik hitam yang cukup besar, begitu berat hingga Laura harus mengerahkan tenaganya.
"Apa isinya?" Gadis itu menggerutu. "Batu?" Laura tergopoh-gopoh berjalan keluar dari restoran. Tong sampah besar yang ada di samping bangunan adalah tujuannya.
Baru beberapa langkah dia berjalan, Laura tidak bisa menahan sampah itu sendirian. Dia jatuh tersungkur ketika menginjak tali sepatunya sendiri.
"Argh!" Laura mengerang kesakitan. Dia langsung memegangi lututnya yang terluka. "Sialan," umpatnya. "Kenapa sampahnya berat sekali!"
"Sampahnya tidak berat! Kamu saja yang payah." Seseorang menghampirinya setelah keluar dari dalam restoran. Mau tidak mau dia harus meneruskan pekerjaan Laura, kalau tidak keduanya akan kena omel.
"Memang berat!" Laura menggerutu. Dia melihat punggung temannya dari jauh. "Aku tidak kuat."
Anna berjalan menghampiri Laura. Dia ikut berjongkok di depan gadis itu. Anna memandang Laura dengan begitu teliti. "Kamu masuk angin? Kenapa wajahmu pucat banget?"
Laura lega temannya berpikir begitu. Tidak mungkin Jika dia mengatakan kalau kesehatan yang memburuk setelah dirinya dinyatakan hamil muda. Bukan aib yang dia tutupi, tetapi ribuan pertanyaan yang dia hindari.
"Bisa bantu aku berdiri?" Laura mengulurkan tangannya. Dia meminta gadis di depannya untuk menolongnya. "Kakiku sepertinya terkilir."
Anna menghela napas. Awalnya memang dia tidak menyukai Laura. Gadis manja ini tidak bisa apa-apa selain merepotkan dia. Namun, mau bagaimana lagi? Setiap hari mereka bertemu dan bekerja di satu tempat yang sama. Lama-kelamaan Anna mulai memahami sifat Laura.
Anna membantu Laura berdiri. Dia melirik lutut gadis itu yang meneteskan darah. "Harus segera diobati, nanti infeksi."
__ADS_1
Laura tersenyum kikuk. "Kamu jadi perhatian sama aku," godanya. Dia merangkul Anna. "Tidak seperti dulu."
Anna memang tipe gadis yang punya tempramen yang lebih buruk dari Laura. Dia jarang tersenyum, apalagi mau diajak bercanda. Pembawaannya begitu serius, terkadang sedikit menyebalkan.
"Ck, apaan sih, Ra!" Dia menggerutu. "Jangan gitu, aku risih."
Laura tertawa kemudian. Dia manggut-manggut. "Oke! Oke! Aku minta maaf."
Anna tidak memberi respon apapun. Gadis berambut pendek itu mulai menuntun Laura untuk masuk ke dalam restoran lagi. Di tengah jalan, langkah Laura terhenti ketika dia melihat sosok yang tak asing untuknya di seberang jalan. Anna yang ingin membuka pintu restoran mau tidak mau ikut berhenti. Anna ikut menatap ke arah sorot mata Laura berakhir. Seorang pria tampan berdiri memandang mereka.
"Kamu kenal dia, Ra?" tanyanya. "Kakak kamu atau om kamu?"
Laura sama sekali tidak menjawab. Kehadiran Adam yang tiba-tiba, sejenak membuat pikirannya kosong.
"Ra? Mau aku antar ke sana?" tanya Anna. "Sepertinya dia ingin bicara sama kamu."
"Enggak. Aku mau masuk aja," ucap Laura tiba-tiba. Dia tersenyum seadanya. "Aku enggak kenal sama dia."
Anna hanya mengikuti perintah Laura. Dia membawa gadis itu masuk ke dalam restoran, kembali menutup pintu kaca.
Seharusnya Laura tidak usah peduli lagi, tetapi di tengah langkah pincangnya, Laura ingin kembali melihat Adam. Oleh karena itu, Dia memutuskan melepaskan rangkulan Anna dan kembali menuju pintu masuk.
Entah setan apa yang merasuki dirinya, tetapi Laura berharap bisa berbicara dengan Adam lagi. Sayang seribu sayang, ketika dia keluar dari restoran sosok Adam sudah tidak ada di sana.
"Wah, dia benar-benar pergi gitu saja?" Laura mendesah panjang. "Harusnya aku yang pergi gitu aja, kenapa jadi dia?"
__ADS_1
"Katanya kamu nggak kenal sama dia," ucap Anna tiba-tiba. "Kenapa tiba-tiba berlari seperti itu padahal kaki kamu sedang sakit hanya untuk melihatnya?" Anna tiba-tiba tersenyum curiga.
Laura berdecak. "Hanya kenalan biasa."
"Pacar kamu?" Anna langsung pergi pada poin pembicaraan. Dia memang tipe gadis yang tak suka basa-basi. "Kalian sedang bertengkar?"
Laura tidak memberi jawaban pasti, dia hanya memandangnya tanpa kata.
"Kalau memang kalian pacaran dan sedang bertengkar, lebih baik dikomunikasikan." Anna tiba-tiba menjadi pakar cinta. Padahal dia sendiri belum pernah merasakannya.
Laura mengabaikannya, dia kembali berjalan pincang. Anna mengikuti dari belakang.
"Aku memang tidak tahu rasanya, tetapi kata teman-temanku kalau begini terus itu hanya akan menyiksa." Anna terus mendesak Laura. "Tidak ada salahnya kalau kamu menghubungi dulu ...."
"Kenapa aku harus melakukan itu?" Laura menoleh. Pandangan matanya berubah dan ada bicaranya menjadi ketus.
"Pak Adam yang tiba-tiba pergi dan mencampakkan aku begitu saja! Apa aku harus datang dan memohon padanya?" tanya Laura. Dia memicingkan mata. "Harga diriku benar-benar terluka."
Anna tertawa. "Ah, jadi itu masalahnya?"
Laura memandang Anna dalam diam. Dia heran, padahal dia tidak sedang melucu. "Berhenti tertawa!"
"Sepertinya dia pria yang kuno, kamu harus lebih mendorongnya," ucap Anna lagi. Dia menepuk pundak Laura dan meninggalkan gadis itu pergi.
Laura mengerutkan kening. "Mendorong bagaimana!" gerutunya. "Aku sudah pernah melakukan itu, tetapi dia tetap meninggalkan aku demi Nurwa!"
__ADS_1
Laura mengikuti Anna dengan langkah pincang. "Aku memang tidak menarik, ya?"
Next.