
Pemakaman Desi.
Lenyapkan aku, begitulah isi kepala Laura saat ini. Siapa punya diharapkan Laura untuk membantunya, sejak awal Adam tidak pernah ada dalam daftar orang itu. Namun, yang paling mengejutkan dari pernikahan tiba-tiba adalah fakta bahwa Laura kehilangan orang tuanya.
Seperti baru kemarin dia menyombongkan tentang kehebatan ayah dan ibunya, kini mereka hanya tinggal kenangan dengan nama yang diukir di atas batu nisan.
Ada memandang gadis itu dari jauh, berharap seseorang bisa menghiburnya. Sayang sekali, Laura menerapkan perintah untuk menutup pemakaman ibunya seperti saat dia melakukan itu untuk ayahnya.
"Dia sedikit keras kepala kan?" Seorang wanita tua menyela diamnya Adam. Dia tersenyum manis ketika Adam memandangnya. "Begitulah Laura."
Adam tampak kebingungan, tidak ada satu pun keluarga Laura orang yang dia kenal.
"Ah, aku bibinya," ucap wanita itu. Dia mengeluarkan tangan untuk Adam. "Danira."
Adam menjawab uluran tangan itu. Kepalanya mengangguk yakin. "Adam," katanya memperkenalkan diri.
"Aku dengar kamu suaminya, benarkah itu?" tanya Danira dengan lembut. "Sepertinya kamu akan sedikit kewalahan untuk menghadapinya."
Danira mendesah panjang. "Selain manja, dia juga keras kepala. Faishal dan Desi terlalu banyak memanjakannya. Mereka membebaskan Laura, lupa untuk mendidik bagaimana cara menghargai orang lain."
Adam tidak bisa membantah kata-kata wanita ini meskipun jelas-jelas dia menghina Laura di hari kematian ibunya sendiri.
"Kenapa masih mempertahankan pernikahan kalian? Faishal dan Desi sudah tidak ada." Dia menatap Adam dengan yakin. "Pernikahan kalian hanya atas perjodohan mereka bukan?"
Adam melengkungkan senyum di atas bibirnya. "Bibi ingin aku meninggalkan Laura sendirian?"
"Hanya untuk pertimbangan. Aku melihat kamu pria baik-baik, kamu bisa mendapatkan yang—"
"Pria baik tidak akan menceraikan istrinya, Bi." Ada memberanikan diri untuk melawan. "Itu yang ayahku dan Pak Faishal ajarkan dulu."
Danira kalah telak! Pada akhirnya dia hanya bisa tersenyum kecut. "Kamu benar."
"Kalau begitu saya pamit dulu, Bu Danira. Saya harus membuang beberapa sampah di dapur." Adam berpamitan. Dia pergi meninggalkan Danira yang tak menjawab lagi.
>>>><<<<
__ADS_1
"Kenapa malah ke sini?" Wanda menyapa Adam dengan senyuman. "Kasian Laura, kamu harus menemaninya."
Adam mengabaikan perintah Wanda. Dia meneruskan aktivitasnya untuk membuang beberapa sampah di atas meja. Laura tidak akan sempat membersihkan semua sampah ini, mungkin untuk beberapa hari berlalu, gadis itu akan larut dalam kesedihannya.
"Hibur dia. Buat dia marah-marah padamu," kata Wanda mendekati Adam. Dia berusaha menarik tubuh Adam agar menjauh dari tumpukan sampah itu.
Adam menolak. "Dia butuh waktu sendiri."
"Bagaimana kalau ternyata butuh teman?" Wanda mengelak. "Kamu selalu saja menyimpulkan semuanya sendiri. Lebih baik datang dan tanya sama dia, dia perlu ditemani atau tidak."
"Siapa sih langsung marah padaku." Adam mencoba tertawa. "Aku mengganggunya."
"Biarkan dia marah padamu!" Wanda menyahut dengan tegas. "Ketimbang dia diam seperti itu."
Wanda menghentikan aktivitas sejenak. Dia menatap Adam yang juga ikut memandangnya. "Aku tidak tega. Jujur saja, aku lebih suka melihatnya yang sebelumnya. Dia memang arogan dan sombong, tetapi setidaknya dia punya semangat untuk hidup."
Ada mencoba memahami keadaan. Dalam situasi ini, semua orang punya pemikirannya masing-masing.
"Dam, ibu tahu ... seharusnya Ibu tidak tanya ini sekarang. Tapi ibu hanya penasaran," imbuh Wanda. Nada bicaranya dipenuhi keraguan.
Adam hanya diam, menunggu Wanda berbicara lagi.
"Pak Faishal sudah tidak ada, itu juga dengan istrinya." Wanda meraih pundak Adam. "Tidak ada yang perlu kamu pertahankan lagi."
"Kamu sudah melegakan hati mereka berdua, jadi tidak perlu berusaha lebih keras lagi." Wanda bersikap bijak, seolah-olah keputusannya yang paling benar. "Laura juga tidak menyukai kamu. Dia berulang kali menolak kamu."
Adam menggeleng yakin. "Aku tidak akan menceraikan dia," jawabnya. "Aku akan tetap jadi suaminya."
"Aku tidak akan meninggalkan dia sendirian dalam keadaan seperti ini. Jika aku menceraikannya, mungkin dia benar-benar akan bunuh diri." Adam menghela nafas lelah. "Aku akan mencoba yang terbaik," pungkasnya.
Wanda nampak gelisah. "Nurwa ...."
"Mas Adam!" Rinjani tiba-tiba menyela pembicaraan. Dia datang sembari mengulurkan sesuatu pada Adam. Itu adalah seragam sekolah milik Laura.
Adam mengerutkan kening. "Ada apa? Kenapa bawa-bawa seragam sekolah Laura?"
__ADS_1
"Aku menemukan itu tong sampah." Rinjani memaksa Adam untuk menerimanya. "Baunya minyak tanah, sepertinya mau dibakar sama Kak Laura."
Adam tak berkata-kata. Dia menerima pemberian Rinjani dengan terus menatapnya, raut wajahnya berubah seketika. Kebingungan bercampur kecemasan yang luar biasa.
"Kalau kesimpulanku, Kak Laura sepertinya mau putus sekolah. Dia sudah membuang seragamnya di tempat sampah dan ingin membakarnya." Belum selesai kalimat Rinjani diucapkan, Adam sudah pergi dari tempatnya. Keluar dari dapur, tentu saja menuju ke tempat Laura berada.
>>>><<<<
Kesedihan membelenggu pikiran Laura. Dari tadi dia seperti patung bernyawa, yang bahkan tidak bisa berkedip. Tatapan matanya kosong, kelopak matanya diberatkan dengan genangan air mata yang sesekali jatuh membasahi pipinya.
Kedatangan Adam mengejutkannya. Adam berdiri di depan Laura, menyodorkan seragam miliknya.
"Kata siapa kamu boleh berhenti sekolah?" tanya Adam. "Kamu tidak boleh berhenti sekolah," ucapnya lagi.
Laura menghela nafas panjang. Dia menyingkirkan tangan Adam dari pandangan matanya, tanpa kata-kata.
"Laura!" Adam sedikit membentak. "Aku tahu kamu sedang sedih, bagaimana bisa kamu berpikir untuk putus sekolah dan ...."
Kalimat Adam terhenti ketika Laura memandangnya dengan cara yang menyesakkan dada. Wajahnya dipenuhi dengan kesedihan, akan tetapi sepasang mata itu dibelenggu dengan kemarahan.
"Memangnya aku bisa?" Suara Laura terdengar gemetar. "Berharap orang tuaku bangkit dari kubur lalu memelukku sembari tertawa dan berkata kalau ini hanya kejutan?"
Adam menundukkan pandangan.
"Awalnya aku berpikir kalau Papa membohongi aku!" ketus Laura. "Dia akan kembali datang di ulang tahunku yang sebentar lagi, tetapi setelah melihat mama kemarin ... aku mulai membenci diriku sendiri."
Laura kembali meneteskan air matanya. Dia berhenti berbicara sejak beberapa jam yang lalu, berharap suaranya bisa menahan air matanya. Sekarang karena Adam, dia kalah pada pendiriannya sendiri.
"Laura," panggil Adam lirih. Adam meletakkan seragam Laura di atas pangkuan gadis itu dan berjongkok di depannya. "Dengarkan aku baik-baik."
"Kamu boleh bersedih, kamu boleh menangis sepuasmu, dan kamu boleh kecewa kamu juga boleh marah." Adam perlahan-lahan mendekatinya. "Namun jangan biarkan itu menguasai dirimu."
"Aku mau berhenti sekolah! Aku juga mau pernikahan kita berhenti!" ketus Laura. Dia mendorong tubuh Adam. "Tinggalkan aku sendiri, jangan pernah datang ke sini lagi!"
Laura tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya setelah berhasil mendorong tubuh Adam menjauh darinya.
__ADS_1
"Aku tidak mau melanjutkan pernikahan! Aku tidak mau melanjutkan sekolah! Aku tidak mau melanjutkan apapun!" teriak Laura sembari menangis tersedu-sedu. "Aku ingin mati!"
Next.