
"Mas Adam! Abah, Mas! Abah!"
Adam berlari menyusuri koridor rumah sakit. Pesan suara singkat dari Nurwa membawa dirinya datang dengan perasaan cemas yang luar biasa.
"Nurwa!" Adam berlari ketika melihat Nurwa sudah menunggunya dia ujung lorong.
Ketika perempuan itu menoleh, Adam melihat ketakutan yang begitu besar dalam ekspresi wajahnya.
Adam terengah-engah. "Gimana sama Abah?" tanya Adam padanya. "Semua baik-baik saja?"
Nurwa tidak memberi jawaban tetapi dia menangis dan tiba-tiba memeluk Adam. Tentu saja itu membuat Adam sedikit bingung, dia butuh penjelasan untuk bisa memahami situasi yang ada.
"Nur?" Adam melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Sejak kali pertama mengenal Nurwa, ini adalah saat pertama kali mereka berpelukan.
Adam menatap wajah Nurwa yang dipenuhi air mata. "Ceritakan padaku bagaimana kondisi abah?"
Nurwa masih mendalami kesedihannya, dia bahkan tidak bisa memandang sepasang mata elang milik Adam.
Adam bisa mengerti kesedihan Nurwa, jadi dia tidak bisa memaksanya. Adam hanya menghela napas, lalu kembali memeluk Nurwa.
>>>>><<<<
"Keadaan janinnya baik-baik saja, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan." Dokter di depan Laura seakan mencoba untuk menghentikan niat buruknya kali ini.
"Keadaan ibunya juga sehat dan tergolong kuat meskipun kamu masih muda dan ini kehamilan pertamamu, Laura." Dia kembali menambahkan.
Laura melirik Daffa yang duduk tepat di sisinya. Laura tidak punya pilihan lain selain menuruti semua perkataan Daffa. Yang diucapkan mantan kekasihnya itu ada benarnya. Kalau dipikir-pikir beban paling berat dalam hidupnya adalah kehamilan ini.
Dokter itu kembali berbicara. "Saya paham alasan kamu ingin menggugurkan kandungan ini, Laura."
"Kecelakaan dalam sebuah hubungan memang terkadang melelahkan." Wanita itu berbicara dengan hati-hati. "Tapi setelah melihat perkembangan janin dalam perutmu, sepertinya mempertahankan juga bukan hal yang buruk."
Daffa menimpali kemudian. "Kita sudah sepakat untuk ...."
__ADS_1
"Kalau aku mempertahankannya, apakah itu tidak membebani hidupku?" Laura tiba-tiba menyela pembicaraan. Pertanyaannya itu seakan memberikan lampu merah dan peringatan untuk Daffa kali ini.
Dokter di depan Laura tersenyum. "Semua ibu hamil akan merasakan hal yang tidak dirasakan oleh wanita pada umumnya, Laura."
"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu padamu untuk pertanyaan itu." Dokter itu menunjukkan hasil USG dan mulai menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami. "Setidaknya janin ini tidak akan memberikan beban rasa sakit yang berlebihan padamu."
"Sepertinya kamu perempuan yang kuat jadi janinmu juga begitu." Dia menutup kalimatnya. "Namun, semuanya ada di tangan kamu, Laura."
"Aku hanya menyampaikan bagaimana kesehatan janin sekarang dan kesimpulannya adalah semuanya dalam keadaan baik-baik saja bahkan bisa dikatakan sangat sehat."
Laura menundukkan kepalanya. Helaan napas panjang memberi kesan keresahan yang luar biasa.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang jika memang masih ragu, Laura." Dokter itu menambahkan lagi. "Batas promo biaya murahnya sampai akhir bulan ini, tetapi kamu juga harus mempertimbangkan usia kandungannya. Jadi, Saya harap kamu segera memutuskan."
Laura melirik Daffa. Pemuda itu sepertinya kecewa dengan keraguan Laura sekarang, mereka sudah sampai di tempat ini dan bertindak sejauh ini.
"Laura," panggil Daffa berbisik. "Apalagi yang membuatmu ragu?"
Daffa berusaha untuk meyakinkannya. "Kita sudah sampai di sini, seharusnya kamu tidak boleh ragu lagi."
"Pikirkan masa depanmu dan pikirkan banyak hal yang harus kamu korbankan jika mempertahankan janin ini," bisik Daffa lagi.
Laura mulai memantapkan diri. Dia memandang dokter di depannya. "Aku ingin menggugurkannya, Dok. Tolong lakukan itu."
"Kamu yakin?" tanyanya. "Jika sudah melakukan prosedurnya, kita tidak bisa mengembalikan nyawanya lagi."
Laura menganggukkan kepalanya. "Aku yakin."
>>>><<<<
Nurwa tidak punya keyakinan tentang harapan bahwa besok dia masih melihat ayahnya tersenyum padanya.
"Dokter bilang, hanya tinggal menunggu waktu." Nurwa berbisik sembari mengusap air matanya. Sebenarnya dia tidak mau terus-terusan menangis begini, tetapi hatinya lemah jika sudah menyinggung tentang orang tuanya.
__ADS_1
Adam melirik Nurwa dan mengusap punggung tangannya. "Kamu yang sabar. Kita sama-sama berdoa, Nur."
"A--Adam ...." Suara lirih terdengar samar-samar masuk ke dalam lubang telinga Adam. Surya memanggilnya.
Surya adalah ayah kandung Nurwa. Namun, anehnya pria ini lebih menyayangi Adam ketimbang putrinya sendiri. Adam selalu saja dibanggakan olehnya. Bahkan, ketika ada makanan enak, Adam yang pertama kali boleh mencicipinya.
"Abah?" Adam membungkuk. "Abah memanggilku?"
"Tolong ...." Suaranya begitu lemah, direndam masker oksigen untuk membantunya bernapas. "Jaga ...." Dia terbata-bata, sedangkan Adam menunggunya dengan sabar. "Nurwa."
Adam menganggukkan kepala. "Pasti, Bah. Aku pasti akan menjaga Nurwa."
Nurwa kembali menangis. Bukannya bahagia melihat ayahnya membuka mata, tetapi Nurwa terluka hatinya ketika melihat cinta pertamanya berjuang mati-matian untuk bisa berbicara.
"Menikahlah dengan dia ...." Suara Surya kembali terdengar. "Abah ... akan sangat lega."
Adam terdiam. Dia melirik Nurwa yang tak berkutik. Sampai sekarang, Nurwa tak tega memberi tahu Surya kalau Adam bukan lagi bujang yang pantas dijodohkan dengan dia.
Surya meraba tangan Adam. "Berjanjilah, Nak."
Adam menundukkan kepalanya. Dia juga ikut meneteskan air mata.
"Berjanjilah ... untuk menikahi Nurwa," imbuh Surya. Napasnya terengah-engah. "Abah ingin ... melihat Nurwa menjadi istrimu, Adam."
Adam manggut-manggut pada akhirnya. "Aku janji, Bah."
"Aku janji akan menikahi, Nurwa," katanya sembari mengusap air mata. Adam menangis untuk pertama kalinya. Dia akan kehilangan sosok ayah untuk yang ketiga kalinya.
"Abah harus kuat agar bisa melihat kita menikah dan punya anak," ucap Adam meyakinkan. "Abah juga harus ikut tinggal bersama kita."
"Mas Adam ...." Nurwa berusaha mencegah. Adam tidak seharusnya membuat janji pada orang sekarat seperti itu.
Adam mengusap punggung tangan Surya. "Aku akan menjadi imam untuk Nurwa."
__ADS_1
Next.