
Laura mengedipkan matanya beberapa kali saat ada mencium ujung hidungnya. Dia tersenyum ketika melihat wajah Adam begitu dekat dengannya. "Aku belum minta apapun," ucapnya sembari menggelengkan kepalanya.
"Benarkah?" Adam berusaha untuk menggodanya juga. Jari jemarinya mengusap pipi Laura dengan lembut. "Aneh sekali ... aku mendengar sesuatu tadi."
Laura tertawa kecil mendengarnya. "Mendengar apa?" tanyanya dengan manja. Dia kembali menggelengkan kepalanya, sembari membalas sentuhan Adam. "Aku diam saja."
"Eum ...." Adam berpura-pura sedang berpikir, seakan dia memang mendengar sesuatu. "Cium aku," ucapnya tiba-tiba.
Laura mengerjap. "Aku tidak bilang begitu," ucapnya sembari mencubit perut Adam. "Jangan mengada-ada."
Keduanya tertawa. Adam terlihat begitu berbeda kali ini. Dia penuh pesona seorang laki-laki, Laura mendapat apa yang dia mau sejak tadi.
"Naiklah," ucap Laura kemudian. Dia menepuk sisi ranjang yang ada di sampingnya. "Aku ingin menghabiskan malam bersamamu."
Adam tidak memberi bantahan sama sekali, dia merangkak naik ke atas ranjang. Tangannya menjadi bantal untuk Laura tidur kali ini, keduanya berada di bawah selimut yang sama.
"Pak Adam," panggil Laura pelan. "Boleh aku tanya sesuatu padamu?"
Adam manggut-manggut. Jari jemarinya tidak pernah berhenti mengusap lembut pipi Laura. "Jujur saja kalau aku tidak pernah sadar kamu secantik ini."
Laura tertawa geli. "Jangan memujiku terus menerus. Aku jadi malu," tuturnya pelan.
Adam menganggukkan kepala. "Aku tidak memuji, aku berkata apa adanya. Pantas saja banyak yang suka sama kamu," ucapnya lagi.
"Biarkan aku yang berbicara." Laura mengambil alih. Dia mendekat pada Adam. "Aku ingin tanya sesuatu," imbuhnya lagi.
Adam diam untuk menunggu Laura berbicara. Dia memandang dengan begitu intens.
"Siapa ciuman pertama Pak Adam?" tanya Laura tiba-tiba. "Dia orang Jakarta? Umur berapa?"
__ADS_1
"Kenapa kamu tiba-tiba penasaran tentang itu?" Adam menyahut. "Ada yang mengganggu kamu?"
Laura menggelengkan kepalanya. "Kalau dipikir-pikir, Pak Adam tahu semuanya tentang aku. Namun, bahkan untuk hal sekecil ini saja aku tidak tahu."
Laura membenarkan posisi tidurnya, lebih dekat dengan Adam. Lama kelamaan dia menyukai aroma tubuh pria ini. Begitu dewasa, membuatnya sedikit bergairah.
Di usianya yang jauh lebih tua dari Laura, Adam bisa menyamakan semuanya dengan baik. Caranya berpenampilan masih terlihat begitu muda, juga caranya berpikir dan berbicara. Laura nyaman dengannya.
"Tentu saja aku punya ciuman pertama," jawab Adam kemudian. "Dia perempuan yang cantik, mempesona, dan aku ...."
Kalimat Adam terhenti ketika Laura memukul pundaknya tiba-tiba. "Wah! Kamu memujinya di depanku?" Wajah gadis itu tiba-tiba kesal. "Wah! Pria ini ...." Laura jelas-jelas memprotesnya.
Bukannya meminta maaf, Adam malah tertawa terbahak-bahak. Dia mencubit pipi Laura. "Dia perempuan yang seksi juga kalau sedang marah."
"Pak Adam!" Laura hendak beranjak dari tempatnya. Inilah perempuan, pertanyaan yang jelas-jelas akan mengubah mood-nya, tetapi dia masih menanyakannya.
Padahal Laura tahu, jelas-jelas dia akan terluka.
Namun, Adam menarik tubuh Laura lagi, sekarang menjatuhkan dalam pelukannya. Laura hendak meronta, tetapi dekapan Adam begitu hangat untuknya. Lama-lama dia candu.
"Perempuan itu ada di dekapanku sekarang," ucap Adam lagi. "Aku sedang bersamanya."
Senyum merekah di atas bibir Laura. "Aku ... ciuman pertama Pak Adam?"
Adam tidak memberi jawaban, dia hanya menganggukkan kepala. Ditatapnya Laura kemudian, begitu juga sebaliknya.
Tidak ada kata-kata, Adam tiba-tiba mengecup bibirnya.
Laura tersenyum manis. "Apa ini? Kenapa sebentar saja?" protesnya.
__ADS_1
"Memangnya harus berapa lama?" kekeh Adam. "Satu hari penuh?"
"Bisakah?" Laura menyahut. Dia manggut-manggut. "Aku akan menurutinya jika bisa."
Adam menggelengkan kepalanya. "Kamu ini ...."
"Seharusnya Pak Adam **********, mengigit bibirku dan ...." Kalimat Laura terpotong ketika Adam melakukan semua perintahnya barusan. Lelaki itu ******* lembut bibir Laura. Sentuhan dirasakan Laura di belakang tengkuk lehernya, sekali ditekan untuk memperdalam ciuman mereka.
Laura kemudian memeluk erat Adam, berharap dia memiliki tubuh lelaki ini seutuhnya. Laura tidak pernah tahu, begini rasanya. Dia tidak pernah membayangkan, begini gairahnya.
Gadis itu menyesap rasa hangat yang menenangkan. ***** bibir Adam semakin ganas, perlahan-lahan turun menjamah lehernya. Laura mendongak, matanya terpejam rapat dan bibirnya terbuka, mendesahkan kenikmatan yang dia rasakan.
Adam menghentikan ciumannya. Perasaan itu menghilang begitu saja, membuat Laura langsung membuka sepasang matanya. Ditatapnya laki-laki yang sudah menindih tubuhnya itu.
"Kenapa berhenti?" tanya Laura kemudian. Dia kecewa jika Adam berubah pikiran.
Adam memandangnya lagi. "Jika aku meneruskannya ...."
Laura tidak peduli. Ada sesuatu yang menggebu-gebu di dalam hatinya, rasa panas akan tersengat listrik ketika ada menyentuh lehernya dengan bibirnya tadi. Dia menginginkan perasaan itu lagi.
Laura mengusap dada bidang Adam. "Jika Pak Adam menghentikannya ...." Laura menatap Adam. Jari jemarinya mulai membuka satu persatu kancing baju Adam. "Aku akan kecewa."
"Aku tidak akan berhenti, Laura." Adam seakan mengancam. Namun, ancaman itu membuat Laura tersenyum puas. "Aku tidak akan bisa berhenti. Aku akan menyakitimu."
Laura menggelengkan kepalanya. Dia sukses menelanjangi dada Adam. Perut kotak-kotak, dengan otot pepak, memberikan kepuasan untuk sepasang lensa matanya. "Bolehkan menikmatinya, Pak Adam?" tanya Laura sembari menggoda.
Dia menarik leher Adam mendekat padanya. Bibir Laura ditempelkan di telinga kiri Adam dan berbisik, "Lakukan apa maunya Pak Adam, aku akan menjadi murid yang baik malam ini."
Tiupan sederhana di telinga kiri Adam membangkitkan gairahnya. Lelaki itu tidak bisa menahannya lagi.
__ADS_1
Adam melirik Laura. "Kau yang memaksaku, Laura," bisiknya.
Next.