Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
84. Perhatian Mantan Suami


__ADS_3

Sebenarnya Laura tidak punya keberanian untuk berangkat kerja hari ini. Setelah bertengkar dengan dia habis-habisan kemarin, dia tidak sempat pergi ke toko perabotan rumah tangga untuk membeli gelas dan piring.


Laura mengunci dirinya di dalam kamar semalaman penuh. Dia baru keluar setelah pagi datang. Laura bahkan tidak sempat untuk sarapan.


"Bu Sasmita," panggil Laura dengan begitu lirih. Wanita yang duduk di kursinya. "Laura mau minta maaf."


Sasmita mendongak ke arahnya. Gadis itu berdiri sembari melipat tangannya ke belakang, mirip anak kecil yang melakukan kesalahan. Padahal, Laura baru saja datang. Dia juga tidak terlambat, malah datang 10 menit lebih cepat.


"Kenapa harus minta maaf?" Sasmita mengerutkan kening. "Emangnya kamu salah apa?" Dia bertanya-tanya.


Sasmita menatap sekelilingnya. Mungkin saja tanpa dia sadari, Laura sudah membuat kesalahan.


"Semuanya baik-baik saja di sini. Kamu juga belum mulai kerja. Kenapa minta maaf?" Sasmita kembali mengulang pertanyaannya ketika Laura sama sekali tidak memberi jawaban.


Laura menundukkan kepala. Dia merasa bersalah padanya.


"Sekarang kenapa malah diam saja?" Sasmita mengerutkan kening. "Kamu mau mempermainkan aku pagi-pagi begini?"


Laura memberanikan memandang Sasmita. Sejak datang kemari, di jalan dia sudah mempersiapkan mentalnya. Akan tetapi, setelah berhadapan dengan Sasmita semuanya hilang begitu saja. Laura tidak punya keberanian sebesar tadi.


"Soal ...." Gadis itu perlahan-lahan membuka celah mulutnya. "Soal kejadian kemarin."

__ADS_1


Sasmita terdiam sejenak, berpikir. "Kemarin?"


"Piring dan gelas." Laura menghentikan kalimatnya. Ditatapnya bosnya itu. "Aku memecahkan piring dan gelas," gumam Laura lirih.


Sasmita tertawa kecil. Tentu saja itu membuat Laura terheran-heran. Pasalnya, kemarin wanita ini mengamuk habis-habisan. Tiba-tiba saja dia bahagia tanpa sebab.


"Kamu ini sudah mudah tapi pelupa?" Sasmita menepuk pundak Laura. "Kamu sudah mengembalikannya kemarin sore. Sehabis Maghrib."


Laura ikut mengerutkan dahi sekarang. Dirinya yakin, telah senja dia tidak keluar dari kamar. Laura terlalu takut untuk menghadapi keluarga Tante Danira. Laura bahkan menahan rasa laparnya.


"Kamu bahkan memberi aku satu piring cantik lagi. Katanya sebagai bentuk permintaan maaf." Sasmita kembali fokus pada layar komputer di depannya. "Semua masalah sudah selesai. Jadi, kamu bisa kembali kerja."


Laura bergeming di tempatnya. Dia tidak mengikuti perintah Sasmita.


"Aku belum mengembalikan piring dan gelasnya." Laura terbata-bata dalam kalimatnya. Dia juga ragu ada apa yang terjadi. "Kemarin setelah senja aku tidak keluar dari rumah."


Laura mulai menghalang nafas panjang, memutuskan untuk mengaku apa yang terjadi padanya kemarin. "Aku memang sudah membeli gelas dan piringnya sebagai ganti rugi. Namun, ada kejadian buruk dan kecelakaan kecil yang membuat gelas dan piringnya pecah lagi."


Sasmita terdiam mendengarkan Laura berbicara.


"Aku berpikir untuk mengembalikannya besok pagi. Jadi ...."

__ADS_1


"Kamu ini sedang mendongeng atau bagaimana?" Sasmita mulai jengkel dengan gadis ini. "Aku sudah menyuruhmu pergi dari sini dan jangan ganggu aku yang sedang kerja, kenapa malah berbicara aneh seperti itu?"


"Aku bukan berbicara aneh." Laura ngotot kalau dia memang belum menebus kesalahannya. "Memang inilah kenyataannya. Aku sama sekali belum membelinya."


Sasmita menganggukkan kepala. Dia mengeluarkan secarik kertas yang dia dapatkan dari kiriman yang datang ke rumahnya kemarin.


"Bukan kamu yang menulis ini?" Sasmita menyodorkan secarik kertas itu pada Laura. "Tulisan tanganmu rapi juga."


Laura langsung mengambil kertas itu. Lensa pekatnya bereaksi ketika menyadari siapa yang punya tulisan tangan seindah ini.


"Pak Adam?" gumam Laura. Gadis itu memicingkan mata. "Dia yang mengirim ini?"


"Kamu mulai ingat?" Sasmita menyela dirinya. "Piring dan gelasnya bahkan jauh lebih berkualitas dan mahal ketimbang yang kamu pecahkan. Jadi, aku yang seharusnya berterima kasih."


Sasmita tersenyum ringan pada Laura yang masih kebingungan di tempatnya. "Maaf juga karena aku memarahimu kemarin. Aku harap kamu bisa mewajarinya."


"Sekarang kamu bisa kembali kerja. Ingatlah untuk berhati-hati. Kesalahan selanjutnya mungkin lebih tipis toleransinya," pungkas Sasmita. "Aku sedang sibuk. Jadi, jangan ganggu aku kecuali ada hal penting."


Wanita gempal itu kembali pada aktivitasnya. Laura mendapatkan jawabannya. Adam ada di balik semua ini. Jadi, tidak ada gunanya berdebat dengan Sasmita.


"Kalau begitu aku pergi dulu, Bu Sasmita." Laura membungkukkan badan. Dia berpaling dari hadapan Sasmita.

__ADS_1


Laura bergumam di tengah langkah kakinya. "Kenapa dia melakukan ini?"


Next.


__ADS_2