Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
9. Guruku, Calon Suamiku


__ADS_3

"Ra! Bangun!" Belen mengguncangkan tubuh Laura. "Kamu ini tidur terus kalau di kelas," gerutunya.


Laura mulai membuka mata, lensanya sedikit terkejut menerima cahaya dari luar ruangan.


Belen memandang Laura dalam diam, senantiasa menunggu Laura untuk sepenuhnya sadar dalam dunia nyatanya lagi.


"Kamu ini kalau engga terlambat, ya ketiduran!" gerutu Belen lagi, memaksa Laura untuk cepat bangun.


Laura menarik tubuhnya, duduk tegap bersandar pada kursi sembari mengucek matanya dengan kasar. Dia mengeram ringan, mengekspresikan rasa lelah di dalam dirinya. Semangatnya tidak ada sejak dia datang ke sekolah pagi ini.


"Lihat siapa yang berdiri di depan kelas," bisik Belen, menarik wajah Laura untuk menghadap depan.


Adam berdiri di sana sebagai seorang guru baru yang sedang memperkenalkan dirinya. Rasa terkejut Laura mendiamkan gadis itu seribu bahasa, dia tak tahu harus berkomentar apa. Adam benar-benar mengejutkannya.


"Ra, dia tampan banget kan?" Belen tiba-tiba menggoda Laura. Menyenggol bahu Laura, meminta persetujuan setidaknya dengan anggukan kepala.


Laura tak menjawab, membisu di tempatnya.


"Katanya dia belum menikah," bisik Belen lagi. "Katanya dia belum punya keluarga."


Laura melirik Belen. "Bukan urusanku," balasnya. Dia malas menanggapi Adam pagi ini.


Belen tak tahu, siapa pun tak tahu jikalau Laura dan Adam saling mengenal satu sama lain. Apalagi sampai terlibat perjanjian untuk hidup bersama sebagai seorang suami dan istri.


Tentu saja, Laura tidak akan menyerahkan rahasianya pada Belen. Dia adalah si gadis mulut besar, yang akan membawa informasi berupa aib dan rahasia teman-temannya untuk disebarkan pada siapa pun yang dia temui.


Laura hendak kembali tidur, setidaknya sampai Adam menyelesaikan kelasnya. Laura tak mau peduli, kehidupannya cukup menjengkelkan sekarang.


"Pak, Adam! Sudah punya pacar?" celetuk seseorang.


Mendengar itu, Laura tak jadi memejamkan mata. Entah mengapa, sepertinya dia menunggu Adam untuk memberikan jawaban. Bodohnya dia dengan sedikit harapan di dalam hatinya. Padahal Laura tidak harus seperti itu.


Adam tersenyum simpul. "Ada." Dia menjawab seadanya. "Seseorang sedang menunggu aku," celetuknya sembari terkekeh.

__ADS_1


Laura bergumam, "Menunggu apanya."


"Wah! Pak Adam akan menikah sama dia?" Suara kembali menyahut. Ini dipenuhi orang-orang 'kocak', yang akan memanfaatkan situasi seperti ini untuk menunda pembelajaran yang membosankan.


Adam kembali diam. Jiwanya masih muda sesuai dengan usianya, setidaknya dia bisa menjadi teman alih-alih menjadi guru untuk mereka semua, apalagi mereka berada di tahun terakhir.


Stres akan melanda, itulah sebabnya dia tidak pernah mendesak Laura untuk pernikahan.


"Jawab dong, Pak!" Seorang gadis berponi mangkok menyahut. "Kalau belum kan, saya bisa mendaftar," kekehnya.


Semua teman-teman yang ada di kelas tertawa terbahak-bahak. Namun, tidak dengan Laura yang memilih diam sembari meletakkan kepalanya di atas meja.


Setelah apa yang terjadi kemarin, dia bukan lagi Laura yang sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Desi, bahkan untuk satu menit ke depan dia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.


Mungkin saja Laura akan mendapat panggilan dari rumah sakit, mengatakan kalau seharusnya dia datang untuk bertemu dengan ayahnya terakhir kalinya.


"Aku akan menikah dengannya. Segera," ucap Adam. Jawaban itu membuat Laura membulatkan kedua bola mata, sekarang dia tahu siapa yang dimaksudkan Adam.


Suasana kelas tambah riuh, sorak sorai dengan tepuk tangan mengiringi kebahagiaan. Padahal Laura tidak mendapatkan itu untuk dirinya sendiri.


Adam tidak marah. Dia bisa memahami bagaimana cara anak-anak yang duduk di bangku tahun terakhir sekolah menengah atas menghibur diri mereka. Dia juga pernah berada di posisinya dulu.


"Ayolah, Pak. Kita bisa menilai apakah dia cantik atau tidak?" Lagi-lagi suara menyahut, padahal Adam belum memberi jawaban.


Laura kembali menegakkan tubuhnya. Pandangan matanya berkeliling, menyesuaikan diri dengan suasana aneh yang ada di sekitarnya. Biasanya dia yang akan mulai keributan di dalam kelas, menggoda guru baru atau semacamnya.


Namun, Laura sudah tidak punya semangat itu lagi setelah yang terjadi kemarin.


Belen menyenggol bahu Laura. "Lihat, Ra. Kamu pernah memperhatikan kalau orang tampan tersipu?" kekeh Belen. "Pak Adam benar-benar pria idaman!"


"Sudah-sudah! Nanti kalau didengar kelas lain kalian dimarahi," ucap Adam, berusaha untuk menenangkan keributan di dalam kelas.


Adam mulai mengembalikan suasana. "Kita lanjutkan belajarnya karena ini adalah hari pertama aku mengajar kalian." Adam mengembangkan senyum yang manis. "Kalau sampai ada laporan aku tidak mengisi kelas dengan benar, di hari pertama aku sudah mendapatkan cap yang buruk," kekehnya.

__ADS_1


"Katakan dulu seperti apa wajahnya, Pak Adam." Seseorang masih memaksa dia untuk berbicara. "Katanya kalau orang tampan pasti dapat jodoh orang cantik," tawanya dengan ringan.


"Benar juga!" Temannya mendukung kalimat itu. "Aku jadi penasaran seperti apa perempuan yang dicintai Pak Adam!"


Adam tertawa kecil, dia melirik Laura yang memandangnya dengan raut wajah datar. Adam tidak tahu seperti apa kepribadian Laura sebelumnya, tetapi dia mengerikan dengan raut wajah seperti itu.


"Sama Laura cantikan mana, Pak?" Seseorang menotifikasi pandangan mata Adam.


Laura dan Adam menolak bersamaan ke arah sumber suara. Keduanya menatap dengan cara yang berbeda.


"Kenapa harus membandingkannya sama aku?" Laura terpancing emosi. "Jelas-jelas kecantikanku tidak ada yang bisa menandingi," balasnya dengan ketus.


Semua orang di dalam kelas bersorak. "She is Laura!" kekehnya.


Adam ikut tertawa. Kelas ini memang benar-benar gila dengan cara mereka bersenang-senang, sekarang dia bisa memahami seperti apa Laura di dalam kelas.


"Pak Adam, jawab dulu seperti apa pacarnya Pak Adam?" Orang itu masih memaksa. "Coba perhatikan baik-baik Laura, jika dibandingkan dengan kecantikannya masih cantik siapa?"


"Laura itu primadona di sekolahan ini! Dia tipe idealnya banyak laki-laki bahkan perempuan pun iri dengannya!" Seseorang berusaha menjelaskan ketidakmentian Adam sebagai orang baru di lingkungan ini. "Kalau lebih cantik dari dia, Pak Adam harus menunjukkan buktinya secantik apa," tantangannya.


Laura mendesah kasar. "Berhenti untuk menggunakan aku sebagai pembandingnya," protes Laura. "Aku mulai kesal!"


"Lihat-lihat! Bahkan kesal saja, Laura masih cantik!" Temannya itu memang sudah gila, tidak bisa memahami kalau Laura benar-benar punya perasaan yang buruk sekarang.


Laura mendesah kasar. Dia hampir saja bangkit dari tempat duduknya, pergi dari dalam kelas dan mencari ketenangan di luar sana. Tidak ada gunanya dia tetap ada di sini dan mendengarkan semua celotehan ini.


Namun, tiba-tiba saja Adam berbicara. "Mirip Laura," ujarnya.


Semua orang di dalam kelas terdiam sejenak. Mereka memandang Adam dan Laura bersamaan.


Laura memicingkan mata. Dia menggelengkan samar kepalanya, menyuruh Adam untuk tidak melanjutkan kegilaan ini.


"Semuanya sama dengan Laura," balasnya lagi, mengabaikan perintah Laura.

__ADS_1


"Orang sinting," gumam Laura lirih, merapalkan sumpah serapah setelah itu.


Next.


__ADS_2