Pesona Neraka Dari Istriku

Pesona Neraka Dari Istriku
97. Dua Wanita


__ADS_3

Suara ketukan pintu memaksa Laura untuk menghentikan aktivitasnya. Dia berjalan ke ambang pintu, menyambut tamu yang datang malam ini.


"Nurwa?" Laura berusaha tidak menunjukkan keterkejutannya. Kedatangan wanita ini di luar dugaannya. "Ngapain kamu malam-malam datang ke sini?"


Nurwa menghela napas. "Kita bisa bicara sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Aku sedang belajar," kata Laura dengan ketus. "Minggu depan aku ada ujian, aku harus mempersiapkan diriku."


"Hanya sebentar." Nurwa mendesak Laura. "Aku janji tidak akan lama." Nurwa tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Jarak rumah Laura dengan rumahnya cukup jauh.


Laura memandang Nurwa. Dari raut wajahnya, Nurwa serius kali ini. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya sekarang.


"Masuklah." Laura mengizinkan. Nada bicaranya tak suka, berharap Nurwa lekas pergi setelahnya.


Nurwa duduk di sofa tengah ruangan. Ini adalah kali pertama dia datang ke rumah Laura, setelah beberapa kali mengawasi.


"Aku tidak akan menyiapkan teh," ucap Laura sembari duduk di depan Nurwa. "Kita tidak terlalu dekat untuk ngobrol sambil minum teh, bukan?" tanyanya sembari tersenyum seringai.


Nurwa manggut-manggut. "Aku juga tidak berharap."


"Langsung pada intinya saja," imbuh Laura. "Jangan berbasa-basi atau aku usir kamu dari sini."


"Mas Adam tidur di sini kemarin?" Pertanyaan itu membuat tubuhnya merinding hebat. Dia mengumpulkan keberanian setelah melihat Adam keluar dari rumah ini kemarin pagi.


Laura terdiam. Nurwa tahu lebih banyak dari dugaannya.


"Aku melihat dia keluar dari rumah ini, Laura." Nurwa menambahkan. "Kamu tidak perlu menutupinya."


Laura mendesah ringan. "Kenapa tidak tanya langsung padanya?" Dia berbicara santai. "Pak Adam pasti akan berkata jujur. Dia pria yang baik."

__ADS_1


"Laura!"


"Aku tidak pernah mengundang dia datang!" Laura menyahut. "Dia yang mendatangiku. Jadi, jangan menatapku seolah-olah aku merebut priamu!"


Nurwa memalingkan wajahnya. Dia hanya bisa menahan kejengkelan di dalam hatinya. Nurwa tak tahu bagaimana mengolah perasaan seperti ini agar tidak menguasai dirinya. Dia tidak pernah merasakannya sebelum ini.


"Tolong tinggalkan Mas Adam," ucap Nurwa. Dia kembali pada Laura. "Kami akan menikah, Laura."


Laura tertawa. "Wah! Kamu terus memamerkan itu padaku!"


"Laura! Aku mohon." Nurwa mengerutkan keningnya. "Kamu sudah melepaskan Mas Adam. Kamu yang meminta cerai darinya, lalu kenapa kamu masih seperti ini?"


"Tolong jangan ganggu kita lagi," ucap Nurwa lagi. "Jalani kehidupan seperti yang kamu inginkan selama ini, maka aku juga akan menjaga Adam dengan sepenuh hatiku," imbuh Nurwa. Dia mengusap dadanya. "Aku akan menjadi istrinya, Ra."


Laura bangun dari tempat duduknya. Tidak berkata-kata, dia langsung pergi ke kamarnya. Nurwa kebingungan dengan sikap Laura kali ini. Dia hendak mengejar, tetapi tak berselang lama kemudian Laura keluar dari kamar dengan membawa sesuatu.


Nurwa mengerutkan keningnya ketika Laura meletakkan beberapa barang-barang Adam di depannya.


Perempuan itu terdiam sembari menatap jam tangan, dasi, dan kaos kaki Adam. Menandakan pria itu benar-benar tidur di rumah ini.


"Dia tidur satu ranjang denganku kemarin malam," ucap Laura tiba-tiba.


Nurwa mendongak. Menatapnya. Raut wajah perempuan itu menandakan kesedihan dan kekecewaan.


"Aku tidak tahu apa yang kita lakukan, aku mabuk berat." Laura menambahkan lagi. "Aku hanya tahu kalau dia menjagaku semalaman setelah aku bangun tidur."


"Kenapa kamu mengatakan ini padaku?" Nurwa menyahut. "Kamu berharap aku cemburu? Kamu berharap hubungan diriku dan Mas Adam hancur setelah ini?"


Nurwa menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan ...."

__ADS_1


"Aku kira itu yang ingin kamu dengar. Kamu sangat menjunjung tinggi kejujuran, Nurwa." Laura tertawa kecil. Dia bersedekap di depan Nurwa. "Aku menjawab semua pertanyaan kamu."


Nurwa berdecak. "Kenapa kamu mengejarnya?" tanyanya. "Mas Adam yang aku maksudkan."


"Sudah aku katakan padamu kalau aku tidak pernah mengejarnya," jawab Laura yakin. "Dia yang mendatangiku. Takdir yang membuatnya datang padaku, Nurwa. Kamu masih belum paham juga?"


Laura kembali duduk. Sikapnya begitu santai, layaknya seperti bos besar. "Aku tidak pernah memaksanya untuk menjagaku semalaman atau menjemputku di diskotik malam, dia yang rela melakukan itu."


"Maka dari itu, aku mengajarkan dirimu untuk tidak lagi mengganggu pria orang lain," sahut Nurwa ketus. "Dia akan menikah dan sebentar lagi kita akan bertunangan. Kamu seharusnya menjaga batasan kamu, Laura!"


Laura tertawa geli. "Kamu ini lucu sekali, Nurwa!"


"Aku serius, Laura!" Nurwa mulai geram. "Aku memperingatkan dirimu."


"Dia masih memakai kalung pernikahan kita, begitu juga dengan diriku." Laura memamerkan kalung dengan liontin cincin pernikahannya. "Dia masih mengkhawatirkan aku, dia menjagaku sepanjang malam, dan dia mengawasiku."


"Laura?" Nurwa sudah tidak mau lagi mendengar apapun dari mulut Laura. Dia hanya takut tidak bisa mengontrol dirinya.


"Sejauh itu kamu masih berpikir kalau Pak Adam sudah melupakan aku?" tanya Laura. Dia membalikkan keadaan.


Nurwa salah besar dengan keputusannya untuk datang kemari dan memperingatkan Laura. Nyatanya, dia yang mendapat peringatan.


"Kamu masih mau menikah dengan pria yang bahkan tidak pernah ...." Laura tiba-tiba tertawa sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Dia memilih tidur di sini dan melupakan janji kalian tentang rencana pertunangan, " kekehnya. Tawanya semakin menjadi-jadi setelah melihat perubahan raut wajah Nurwa.


Nurwa memalingkan wajahnya. Dia hendak menangis, hatinya terlalu lembut.


"Hei, Nurwa!" Laura sedikit membentak. "Sadarlah!" ketus Laura sembari mengetuk-ngetuk meja di depannya. "Bahkan gadis dungu yang baru belajar cinta saja sudah paham apa artinya."


Nurwa memandang Laura. "Tutup mulutmu."

__ADS_1


"Pak Adam tidak mencintaimu, kenapa kamu memaksanya?"


Next.


__ADS_2